Posted by: jashtiser | August 28, 2009

RAMADHAN KALI INI, TIDAK BOLEH SAMA

Menghiasi Ramadhan dengan amalan istimewah harus menjadi agenda umat islam di bulan ini. Jangan sampai Ramadhan kali ini berlalu dengan penyesalan di dalam hati. Oleh Edy Nasrullah

Dahulu, ketika umat islam sampai di penghujung sya’ban, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam (SAW) berkhutbah, “Telah datang bulan yang mulia, dan penuh barakah. Didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan”. Di bulan itu, puasa menjadi kewajiban, bangun malam terus dilakukan. Satu kewajiban yang dikerjakan nilainya sama dengan mengerjakan 70 kewajiban.
Inilah bulan kesabaran. Bulan bertambahnya rezeki bagi seorang mukmin. Bulan penuh ampunan. Bulan yang membebaskan kaum Muslimin. Di bulan Ramadhan ini, umat islam diwajibkan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Apakah kita menjadi umat yang tak bertenaga? Siapa bilang?
Pada 17 Ramadhan tahun kedua hijriah, umat islam berperang melawan kaum kuffar dengan penuh semangat. Dalam perang itu kaum kuffar Quraisy berkekuatan 1000 tentara. Sekitar 300 tentara berkuda, dan 700 lainnya naik unta. Mereka menggenggam senjata yang kucup lengkap, ditambah dengan logistik yang sangat memadai.
Sebaliknya kaum muslimin hanya berkekuatan 313 tentara, mengendarai hanya dua ekor kuda dan 70 untah yang ditunggangi secara bergantian. Sedang senjata yang dibawa seadanya dan logistiknya pun ala kadarnya.
Jumlahnya kecil, berpuasa pula. Tapi ternyata dengan puasa itu, mata hati betul-betul melihat keagungan Ilahi. Bukan lagi gemerlap keduniaan yang mereka saksikan, tetapi keagungan Ilahi Rabbi. Ketika berperang, seluruh organ tubuh masing-masing umat islam hanya menyerukan Asma Allah.
Meski jumlah mereka tiga ratusan, tapi kekuatan perangnya seperti berjumlah tiga ribu orang. Bahkan ditambah lagi dengan lima ribu malaikat yang memberi bantuan, sebagaimana ditulis dengan firman agung-Nya. “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”(QS Ali Imran: 123)
Di bulan ramadhan pula sepuluh ribu umat islam berbonding-bondong memasuki kota Mekkah bersama Rasulullah pada tanggal 10 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah, mereka menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Peristiwa ini terkenang dengan istilah Fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah,-red). Bukankah ini pertanda bahwa puasa Ramadhan sama sekali tidak menjadikan seseorang lemah?
Qiyamullail
Bulan ramadhan tidak menjadikan seseorang tidak berdaya. Justru manjadikan penuh semangat, mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan ridha-Nya. Seperti yang dilakukan sahabat Umar bin Khattab, ketika sepertiga malam tiba dia bangun, mengajak keluarganya melaksanakan shalat malam.
Sahabat Utsman ibn Affan punya kebiasaan unik. Pernah suatu ketika, Utsman kehilangan kesadarannya saat shalat malam karena saking khusyu’nya, dan betul-betul menghayati bacaan Al-Qur’an. Baru satu rakaat, Utsman sudah membaca seluruh ayat Al-Qur’an hingga khatam, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hatim.
Begitu pula halnya dengan Manshur bin Al-Mu’tamir. Jika malam yang semakin larut menjelang, dia langsung mengenakan pakaian terbaiknya lalu naik ka atap rumahnya untuk shalat malam.
Tak ketunggalan juga Sufyan ats-Tsauri. Abdul Razaq, salah seorang muridnya, menceritakan, gurunya itu pernah mendatanginya selepas isya, lalu Razaq menghidangkan makanan berupa kismis dan pisang. Setelah selesai, ia bangkit berwudhu, mengencangkan ikat pinggangnya, dan menghadap kiblat. Lalu sang guru berkata, “Wahai Abdul Razak, beri makan keledai!” selanjutnya dia meluruskan kakinya dan shalat hingga subuh menjelang.
Mereka semua melakukan ini karena teringat akan pesan Allah, bahwa pada sebagian malam, umat islam dianjurkan untuk bertahajud sebagai suatu ibadah tambahan untuk mendapatkan tempat yang terpuji di sisi Allah. “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”(QS al Isra’:79)
Di dalam ayat lain, Allah menegaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, yaitu mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”(QS adz Dzaariyaat: 15-18)
Rasulullah sendiri menegaskan bahwa shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam. (Muttafaq ‘alaiih) Setidaknya bisa diketahui, bahwa kemuliaan didapat bagi mereka yang pada malam hari di bulan Ramadhan meluangkan waktu untuk bangun, bermunajad kepada Allah, dan melaksanakan shalat.
Membaca Al-Qur’an
Selain qiyamullail, ibadah membaca al-Qur’an memiliki posisi khusus di bulan Ramadhan, karena di bulan inilah al-Qur’an diturunkan pertama kali, sebagaimana dijelaskan Allah sendiri. (QS: 2: 185). Dan salah satu sebutan lain bulan Ramadhan adalah Syahrul Qur’an atau bulan diturunkannya al-Qur’an.
Pahala membaca al-Qur’an pun bukan main besarnya. Betapa tidak, satu huruf dibaca satu pahala diraih. “Barang siapa membaca satu huruf kitab huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya,”jelas Rasulullah,”Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.”(HR. At-Tirmidzi)
Dengan besarnya pahala itu, besar pula kesempatan untuk semakin dengan Allah. Karena itulah para sahabat, tabi’in, dan ulama banyak yang berkali-kali khatam al-Qur’an pada bulan Ramadhan.
Utsman bin Affan misalnya. Setiap hari kedua bibirnya tiada henti melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, hingga setiap hari dia selalu khatam. Ibrahm an-Nakha’i, cucu Abdullah bin Mas’ud, jika sudah memasuki hari sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, dia mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam.
Imam malik memiliki kebiasaan memaksimalkan kemuliaan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Caranya, selama bulan Ramadhan, Imam Malik menutup rapat semua kitab, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain. “Bulan ini adalah Ramadhan , bulannya al-Qur’an,” ujar beliau sambil menunjukkan mushafnya.
Muridnya, Imam Syafi’i khatam sebanya enam puluh kali selama Ramadhan. Itu dilakukan di luar bacaan al-Qur’an ketika shalat pasti lebih banyak lagi.
Adalah tidak afdhal rasanya kalau di bulan Ramadhan tidak menghatamkan al-Qur’an. Bahkan, sebagaimana Ibnu Rajab, seorang alim dan pakar fikih mazhab hanbali, mengatakan, “Orang yang biasa khatam al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka setidaknya, kurang dari tiga hari pasti sudah khatam.”
Bersedekah
Di saat Ramadhan datang, Rasulullah tidak hanya mengimbau kepada umat islam untuk melakukan ibadah ritual saja. Ibadah yang bernilai sosial pun menjadi imbauannya agar dilaksanakan oleh umat Islam. Dalam hal ini, Rasulullah mengimbau umat islam untuk bersedekah, karena,”Seutama-utamanya sedekah adalah bulan Ramadhan.”(HR Tirmidzi)
Mendengar imbauan tersebut, para sahabat berlomba-lomba untuk bersedekah. Umar bin Khattab misalnya, langsung membawa separuh hartanya untuk sedekah. Sebelum menerima sedekahnya, Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluarga di rumah?” kemudian Umar menjawab harta sejumlah yang dia sedekahkan.
Tidak mau ketinggalan, Abubakar Shiddiq langsung memboyang seluruh hartanya untuk disedekahkan. Rasul pun tercengang melihat hal itu, dan bertanya, apa yang ditinggalkannya untuk keluarga. Dengan penuh percaya diri, Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya. “Ketika melihat sedekah Abubakar, Umar mengakui tidak bisa bersedakah lebih banyak lagi.
Kisah Thalhah bin ubaidillah juga patut dijadikan hikmah. Suatu ketika dia bertatap muka dengan istrinya dengan wajah yang kusut. Entah apa gerangan yang dia hadapi, yang jelas sang istri menyimpan kecurigaan, pasti ada masalah yang dihadapi. Maka dia langsung bertanya ada apa gerangan. Setelah beberapa saat, Thalhah mengungkapkan bahwa hartanya sudah terlalu banyak menumpuk, dan bingung harus diapakan.
Mendengar pernyataan itu, sang istri langsung memberikan saran untuk menyedekahkan hartanya. Dan thalhah langsung menyedekahkan semua hartanya sejumlah empat ratus dirham.
Ada juga sedekah yang yang tidak dengan harta seperti yang dilakukan oleh salafus shalih semisal Abdullah bin Umar, Daud at-Thai, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hanbal. Mereka bersedekah dengan memberi makan saat buka puasa tiba. Abdullah bin Umar terutama, acap kali berbuka puasa bersama anak-anak yantim dan fakir miskin.
Ada juga yang menyediakan makanan yang digemari para tamu, seperti yang dilakukan Hasab al-Bashri dan Ibnu al-Mubarak. Ketika buka puasa, mereka beramah tamah dan menyambut para tamunya dengan gembira.
Sekelompok umat islam dari Bani Adi selalu berbuka puasa bersama-sama. Jika tidak ada orang yang berbuka puasa dengan mereka, mendatangi masjid, mengajak jamaah untuk berbuka puasa bersama mereka.
Semua amalan sedekah ini mereka lakukan dengan penuh keikhlasan, karena mereka tahu, pada bulan-bulan biasa saja, pahalanya itu tujuh kali lipat, dan setiap kelipan dikalikan lagi seratus kali lipat. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang menafkahkan hatanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran)bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(QS al Baqarah:261) Jika pada hari-hari biasa saya, balasan yang diberikan sedemikian rupa, apa lagi di bulan Ramadhan yang mulia seperti Ramadhan. Pasti jauh lebih besar.
Ini hanyalah sepotong amalan dari amalan yang bayak jenisnya yang biasa sahabat, tabi’in, dan ulama lakukan pada bulan Ramadhan. Tiada lain yang mereka tuju dengan amalan tersebut kecuali kesucian diri agar senantiasa dekat di sisi Ilahi Rabbi. Semoga umat islam sekarang ini mampu melakukan amaliah tersebut seperti yang pernah mereka lakukan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: