Posted by: jashtiser | July 24, 2009

PEMIMPIN YANG MEMBAWA ADZAB

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati Pemimpin –pemimpin dan pembesar-pembesar kami Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) Ya Tuhan kami, timpahkanlah kepada mereka adzab Dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar. (QS Al Ahzab[33]:67-68)

Hujjatul islam Imam Al Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi dengan pemimpin yang zalim. “Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu, jangan memuji-muji merek, karena Allah sangat murka ketiaka ketika prang fasik dan zalim dipuji. Dan barang siapa mendoakan mereka panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai di muka bumi.” Tak hanya tentang pertemuan, bahkan Imam al Ghazali mengeluarkan larangan menerima pemberian dari penguasa yang zalim. “Jangan menerima apa-apa pemberian dari golongan yang besar, meski kamu tahu pemberian itu bersumber dari yang halal. Sebabm sikap tamak mereka akan merusak agama. Pemberian itu akan menimbulkan rasa simpati jika diterima (jika diterima). Lalu kamu akan mulai menjaga kepentingan mereka dan berdiam diri atas kezaliman yang mereka lakukan. Dan itu semua akan merusak agama.” Peringantan usulan juga diungkapkan. Sekecil-kesilnya mudharat ketika seseorang menerima hadiah dari penguasa adalah, akan muncul rasa sayang terhadap mereka. “seterusnya kami akan mendoakan mereka kekal dan lama diatas kedudukannya. Mengharapkan orang yang zalim lama berkuasa sama seperti mengharapkan kezaliman berkepanjangan atas hamba-hamba Allah dan alan akan musnah binasa.” Jika sudah demikian, imam al Ghazali mengajukan pertanyaan yang luar biasa menyeramkan. “Apa lagi yang lebih buruk dibanding kerusakan agama?” Setiap penguasa, selalu memiliki kemungkinan untuk berbuat zalim, kecuali penguasa yang beriman kepada Allah, berteman dan dikeliling orang-orang yang beriman pula. Mereka saling mengingatkan dan memberi nasehat, hanya demi kebaikan, dan bukan untuk kepentingan. Tapi ketika seorang penguasa dikelilingi orang-orang yang busuk dan jahat, maka kezaliman hanya tinggal menunggu waktu untuk dirasakan. Dan ketika itu semua terjadi, kerusakan akan merajalela, kehancuran di depan mata, menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran dan menjadikan kesesatan sebagai panutan. Karena itu, pemimpin yang zalim masuk menjadi salah satu golongan yang paling dibenci oleh Allah SWT. Rasulullah bersabda, “ada empat golongan yang paling Allah benci. Pedagang yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina dan seorang (penguasa) pemimpin yang zalim.”(HR. An-Nisa) Bahkan, Rasulullah memberikan penegasan sanksi atas para pemimpin yang zalim. Dalam sahih Bukah ri Muslim disebutkan, Rasulullah bersabda, “Tidaklah ada seorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk pemimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya, kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.” Alangkah ruginya para pemimpin seperti ini. Dan langkah malangnya umat dan rakyatnya yang mendapat pemimpin seperti ini. Ketika seorang pemimpin zalim berkuasa, maka yang bertanggung jawab bukan hanya para pelaku kekuasaan; raja, kaisar, presiden bahkan gubernur dan kepala desa. Uamat dan rakyat pun akan bertanggung jawab memikul beban penguasa yang zalim. Ibnu Taimiyyah dalam karyanya siasah Syari’iyah mengutip sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahamad. “barangsiapa yang mengangkat seseorang (pemimpin) untuk mengurusi perkara kaum Muslimin sementara dia mendapati ada seorang yang lebih layak dari pada orang yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat pada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Dalam hadist lain yang diriwayatkan dari sahabat Jabir ra, Rasulullah juga menegaskan bahwa mereka yang memilih pemimpin dengan pamrih duniawi maka Allah tidak akan menyapa orang-orang seperti ini di akahirata nanti. “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka adalah; orang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir namun tidak mau memberikannya kepada orang yang berada di tengah perjalanan, orang menawarkan barang dagangan kepada orang lain setelah Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia telah membelinya sekian dan sekian sehingga lawannya mempercayainya, padahal sebenarnya tidaklah demikian; dan seseorang yang mengikrarkan kepada tuhannya kecuali untuk kepentingan dunia (harta), bila sang pemimpin membrinya ia akan patuh dan tidak memberinya ia tidak akan mematuhinya.” Jauh-jauh hari, sesungguhnya Allah telah melakukan proteksi agar kita tak memiliki kecenderungan hati pada orang-orang yang zalim. Sebab, kecenderungan itu akan mengantarkan kita pada azab yang pedih. “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu di sentu api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyaiseorang penolong pun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolangan.” (QS Huud [11]: 113) Sungguh, seorang pemimpin sejatinya adalah sebuah perisai, rakyat akan berperang dibelakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk bertakwa kepada Allah azza wajallah seeta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun boila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.” (HR Muslim) Pemimpin dan yang dipimpin adalah mata rantai yang tak terpisahkan. Pemimpin lahir dari dan terpilih oleh orang-orang yang akan dipimpin. Ketika seorang pemimpin bersalah, maka bersalah pula mereka yang memilihnya. Ketika seorang pemimpin berbuat zalim, maka mereka yang memilih juga akan menaggung akibatnya. Sungguh bukan pekerjaan ringan untuk menjaga dan menghalang-halangi para pemimpin agar tidak berbuat zalim. Orang-ornag yang dipimpin harus menjaga para pemimpin dengan cara memastikan bahwa kepala negara melakukan kewajiban-kewajiban besarnya. Kewajiban pemimpin negara adalah menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, menerapkan hukum syariat, dan bahkan kewajiban personal untuk tidak melakukan maksiat. Umar bin Khattab ra lebih tegas lagi mengatakan, tugas seorang pemimpin adalah menjaga agama. “pemimpin diangkat untuk menegakkan agama Allah, “kata Umar bin Khattab. Jika kita mampu menjaga para pemimpin yang terpilih, menjadi para pemimpin yang menegakkan agama Allah, menjaga akidah umatnya, memberantas kezaliman dan menerapkan syariat, sungguh negeri ini ibarat potongan surga di dunia. Apalagi Rasulullah bersabda bahwa menasehati para pemimpin untuk taat kepada Allah, adalah salah satu perilaku yang mengandung ridho-Nya. “Sesungguhnya Allah ridha terhadap tiga perkara dan membenci tiga perkara. Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, berpegang teguhlah pada tali-Nya dan menasehati para pemimpin. Dan Allah membeci pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya.” Ada beberapa hal yang membuat pemimpin tergelincir pada perilaku zalim. Yang paling berbahaya adalah, ketika seorang menuruti hawa nafsu dan mengejar kesengan dunia. Kemudian, kolusi dan nepotisme yang tidak sesuai dengan aturan kebenaran. Para penasehat yang buruk dan teman yang jahil, juga mampu menggelincirkan para pemimpin. Jika orang-orang yang lemah dan kaum kuffar dijadiakan sebagai pembantu, kehancuran tinggal menunggu waktu. Rela dan mudah terpengaruh pada tekanan internasioanal, juga menjadi penyebab pemimpin berlaku zalim. Tugas umat, belum lagi selesai. Setelah terpilih, para pemimpin harus terjaga. Jika tidak, kita juga yang akan merasakan azab dan akibatnya. Sebab, keadilan seorang pemimpin adalah penawar dahaga bagi umatnya dan lebih dari ibadah ritual yang dilakukannya. “keadilan seorang pemimpin walaupun sesaat jauh lebih baik dari pada tuju puluh tahun beribadah,” demikian sabda Rasulullah. (HR Thabrani) Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, maka sunggu keadaan yang akan menimpa. “Yang aku takuti pada umatku adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan,” sabda rasulullah. (HR Abu Dawud) Jika pemimpin-pemimpin sesat telah memimpin sesat telah memimpin, maka manusia akan berada dalam penyesalan yang tiada tara seperti yang digambarkan Allah dalam firman-Nya. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS al Ahzab [33]:66) Dan ketika kita sampai pada tahap itu, penyesalan paling besar pun tak akan berarti. Semoga kita adalah umat yang terbaik, dengan pemimpin-pemimpin yang shalih dan muslih. Bukan sebaliknya, umat yang dipimpin para penguasa yang zalim dan bathil. Semoga pemimpin kita tidak seperti patah tongkat yang membawa rebah!.


Responses

  1. semuga pemimpin kita bukan termasuk pemimpin yang di adzab oleh Allah….
    dan mudah2an pemimpim kita termasuk pemimpin yang terbaik. amin…..

    • amin…..terimakasih atas komennya…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: