Posted by: jashtiser | March 26, 2009

SEMPURNAKAN SHALATMU DENGAN KHUSYU’

Shalat menurut pandangan islam merupakan bentuk komunikasi manusia dengan tuhan-Nya. Komunikasi ini dimaksudkan untuk bertawajjuh (megnhadap) sungguh-sungguh dan ikhlas kepada Allah SWT. Di sampingping itu, shalat dimaksudkan juga untuk meneguhkan keesaan Allah, tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah dan larangan-Nya.

Shalat sesungguhnya juga merupakan cermin keimanan bagi seorang mukmin. Ia merupakan sentuhan kasih sayang, sentuhan yang lembut yang mampu membuka hati, dan menembus Dzat Yang Maha Tinggi. Maka tujuan yang dimaksud dari shalat bukan sekedar gerakan-geraka badan, tetapi tujuan yang hakiki adalah adanya keterkaitan hati dengan Allah SWT. Itulah pelaksanaan shalat yang hakiki dan sempurna.

Karena kedudukan shalat begitu agung dan tinggi menurut Allah, maka tidak diragukan bagi seorang muslim untuk memperhatikan pentingnya shalat. Karenya ia wajib melaksanakan shalat secara benar dan sempurna.

Jika selama ini problem umat islam kebanyakan mereka tidak mau shalat, maka sesungguhnya problem bagi mereka yang sudah shalat adalah bahwa mereka belum dapat merasakan khusyu’ dalam menjalankan shalat.

Satu hal yang sangat disayangkan bahwa shlat kita masih belum bahkan bukan termasuk dari shalat orang-orang yang cinta dan ma’rifah (mengenal betul) kepada Allah SWT, yaitu orang-orang yang merasakan nikmat, ketenangan, dan kenyamanan dalam shalat. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada bilal dalam salah satu sabdanya:

“Wahai bilal, dirikanlah shalat (kumandangkanlah iqamah) niscaya saya akan merasakan nyaman dalam shalat.”(HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ketika kita tidak dapat mencapai khusyu’ semacam ini, maka biasanya kita akan mengerjakan shalat dengan asal-asalan saja, dan tidak memperdulikan kualitas shalat kita, yang penting sudah shalat. Namun sebaiknya jika seorang mukmin dihatinya telah merasakan indah dan nyaman ketika shalat, tentunya ia tidak mau berpisah dari shalat. Sebaliknya ketika ia tidak merasakan hal itu, maka ia akan merasakan berat melaksanakan shala. Nah, boleh jadi selama ini kita belum merasakan kenyamanan shalat, sehingga shalat terasa berat bagi kita. Akhirnya kita melaksanakan shalat semaunya sendiri, mininggalkan shalat-shalat sunnah dan tergesah-gesah dalam shalat fardlu. Kita pun merasakan kosong dalam shalat, hati pun tidak merasakan kenyamanan ketika shalat.

Oleh sebab itu ada beberapa faktor yang dapat membantu dalam kekhusyu’an shalat:

1. Hati yang ikhlas karena Allah SWT

Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah jika seseorang menegakkan shalat dengan tujuan hanya karena Allah SWT dan mengingat akhirat. Dengan begitu akan muncul khusyu’ pada anggota tubuhnya, sehingga dia akan merasa tenang dan hatinya hadir ketika shalat.

2. Ma’rifat kepada Allah SWT, hatinya mengagungkan Allah SWT dan takut kepadanya.

Khusyu’ itu berarti dari dalam hati, dan muncul ketika seseorang ma’rifat kepada Allah, mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya. Oleh karenanya, semakin mengenal kepada Allah, maka seseorang akan semakin khusyu’. Semakin bertambah ma’rifat seseorang kepada Allah maka ia akan semakin khusyu’ kepada-Nya.

3. Mengetahui bahwa shalat itu merupakan pertemuan antara dirinya dengan Allah SWT dan bermunajat kepada-Nya

Seorang mukmin ketika shalat, hendaknya dia mengetahui bahwa dengan shalat, ia akan bertemu dengan Tuhannya. Shalat merupakan bentuk komunikasi antara manusia dengan penciptanya. Dengan shalat, seseorang dapat bermunajat dengan Tuhannya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang baik yang dapat menembus tirai-tirai yang tinggi supaya kalimat tadi sampai kepada penciptanya tanpa perantara. Itulah salah satu etika yang sangat luhur ketika berhadapan dengan Tuhannya, ketika memuji kepada-Nya, mengadu keluhan-keluhannya dan mencari kesuksesan. Di samping itu, shalat juga merupakanbentuk janji yang hakiki bagi seseorang untuk tidak melakukan perbuatan dosa dan kemungkaran.

4. Konsentrasinya hati dan anggota tubuh darimemikirkan selain Allah

Memikirkan sesuatu selain Allah ketika shalat akan menghilangkan kekhusyu’an seseorang. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadis Nabi saw dari Aisyah ra. Beliau berkata:

Aku bertanya kepada Nabi saw tentang berpalingnya seseorang (al-iltifaat) ketika shalat kepada selain Allah? Nabi saw menjawab: ia adalah curian, dimana setan mengambilnya dari seorang hamba yang shalat.”(HR. Al-Bukhari)

5. Tuma’ninah (tenang) dan tidak tergesah-gesah dalam shalat

Tuma’ninah (tenang) dalam shalat merupakan salah satu faktor yang dapat mengantarkan seseorang untuk khusyu’ sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:

“Maka jika kalian tenang tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat bagi orang-orang mukmin itu merupakan ketetapan yang sudah ditentukan waktunya.”(Q.S.Ibrahim: 40),

6. Shalat pada wakunya

Shalat pada awal waktu merupakan ibadah yang diprintahkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Ia merupakan perantara seseorang untuk memperoleh kebahagiaannya, dan nyaman setelah ia lelah dan sibuk dengan urusan dunianya. Kemudian ia bermunajat kepada Tuhannya sehingga memperoleh solusi dalam memecahkan kesulitan-kesulitan pada dirinya, kemudian ia menampakkan rasa takut dan kelalaiannya di hadapan keagungan Allah SWT. Karena lalai dalam shalat merupakan tanda tertolaknya amalan seseorang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: