Posted by: jashtiser | March 26, 2009

Kontroversi Hubungan antara Prinsip Agama dengan Ideologi Negara

Bagaimanakah peranan agama dalam menentukan sebuah ideologi sebuah negara? Apakah agama benar-benar menjadi suatu dasar landasan dalam membuat suatu aturan bagi sebuah negara? Nah, inilah beberapa pertanyaan yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, khususnya di negara kita yang mayoritas islam. Pada hakikatnya pemikiran mendasar tentang kehidupan adalah pemikiran menyeluruh (fikrul kulliyah) tentang alam semesta, manusia, kehidupan, dan tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah kehidupan dunia serta hubungan antara kehidupan dunia dan sesudahnya (An Nabhani, 1953). Oleh karena itu, pembahasan hubungan agama dan negara harus berdasar pada hal tersebut sebagai pemikiran cabang yang lahir dari pemikiran mendasar tersebut. Mari kita lihat Ideologi-ideologi (aqidah) yang ada didunia yang digunakan sebagai dasar negara. 1. Ideologi Materialisme Ideologi materialisme (Al Maaddiyah) menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Tidak ada Tuhan, tidak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Materilah asal usul segala sesuatu. Materi merupakan dasar eksistensi segala macam pemikiran (Ghanim Abduh, 1964). Atas dasar paham materialisme itu, dengan sendirinya agama tidak mempunyai tempat dalam sosialisme. Sebab agama berpangkal pada pangkuan eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis-matrealis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi (lihat Karl Heinrich Marx, Contribution to the critique of Hegel Philosophi of right). 2. Ideologi Kapitalisme Ideologi kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashluddin ‘anil hayah), atau sekularisme. Paham ini tidak menafikan agama secara mutlak, namun hanya membatasi perannya dalam mengatur kehidupan. Keberadaan agama memang diakui walaupun hanya sebagai formalitas, namun agama tidak boleh mengatur segala aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Agama hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya sedangkan untuk hubungan antara manusia itu diatur oleh manusia itu sendiri Zallum, 1993). Berdasarkan paham kapitalisme, formulasi hubungan antara agama-negara dapat disebut dengan hubungan yang separatif, yaitu suatu pandangan yang berusaha memisahkan agama dari aspek kehidupan. Agama hanya berlaku dalam hubungan secara individual antara manusia dengan tuhannya, atau berlaku secara amat terbatas dalam interaksi sosial sesama manusia. 3. Aqidah Islamiyah Aqidah islamiyah adalah iman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari akhir dan Taqdir (Qadar) Allah. Aqidah ini merupakan dasar ideologi islam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum islam yang mengatur kehidupan manusia. Aqidah islamiyah menetapkan bahwa keimanan harus terwujud dalam keterikatan terhadap hukum syara’, yang cakupannya adalah segala aspek kehidupan, dan bahwa pengingkaran sebahagian saja dari hukum islam (yang terwujud dalam sekulerisme) adalah suatu kebatilan dan kekafiran yang nyata. Allah SWT berfirman : “Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’ : 65) “Barangsiapa yang tidak memberi keputusan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maa’idah : 44) Berdasarkan ini, maka seluruh hukum-hukum islam tanpa kecuali harus diterapkan kepada manusia, sebagai konsekuensi adanya iman atau Aqidah Islamiyah. Dan karena hukum-hukum islam ini tidak dapat diterapkan secara sempurna kecuali dengan adanya institusi negara, maka keberadaan negara dalam islam adalah suatu keniscayaan. Karena itu, formulasi hubungan agama-negara dalam pandangan islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam arti bahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sempurna dan bahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama. Agama tak dapat dipisahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalam konstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Imam Al Ghazali dalam kitabnya AL Iqtishad fil I’tiqad halaman 199 berkata : “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga nicaya akan hilang lenyap.” Ibnu Taimiyah juga dalam Majmu’ul Fatawa juz 28 halaman 394 menyatakan : “Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” Apakah kebaikan atau kerusakan kah yang akan terjadi dinegara kita itu tergantung kepada kita semua. Lalu apakah kontribusi yang dapat kamu lakukan untuk melakukan perbaikan? Wallahu’alam bi showab. source by gaulislam.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: