Posted by: jashtismedia | February 11, 2008

Valentine Day Dalam Sorotan…

Valentine Day menjadi sorotan di dunia Islam, apalagi mendekati hari perayaan itu yaitu tanggal 14 Februari. Secara umum, tidak ada Ulama (Syaikh maupun Ustadz) yang tidak mengharamkan Valentine Day ini, seluruhnya mengharamkan… Dari sudut pandang syariat, jelas tidak ada dalam syariat Islam yang mengajarkannya, justru itu adalah “ajaran” maupun budaya dari golongan/agama lain. Dari sudut pandang akhlak, banyak sekali kemaksiatan dan pemborosan pada hari valentine bahkan mungkin banyak Wanita yang mengorbankan sesuatu yang paling berharga darinya untuk hari valentine. Tidak salah jika semua ulama mengharamkan Valentine Day.

Lalu bagaimana dengan valentine day di dunia Islam, mari kita simak beberapa berita yang berhubungan dengan valentine day berikut ini (diambil dari eramuslim.com):

Hari Valentine di Mata Masyarakat Pakistan

Pakistan – Mayoritas masyarakat Pakistan menilai perayaan Hari Valentine tidak Islami, karena bagi mereka menunjukkan kasih sayang selayaknya ditunjukkan sepanjang masa bukan dikhususkan hanya pada satu hari tertentu saja.

“Agama kami (Islam) mengajarkan kami untuk bersikap baik dan saling mencintai antar seluruh anggota keluarga seumur hidup kami. Bagi saya aneh, melihat sejumlah orang menantikan kedatangan suatu hari di mana mereka bisa menunjukkan kasih sayang pada isteri atau saudara-saudaranya yang lain, ” kata Tanya Hussein, seorang guru.

Zohaib seorang eksekutif di perusahaan multi nasional di Karachi bahkan menilai hari Valentine sebagai perayaan yang “terkesan bodoh.”

“Saya pikir, bagi pasangan menikah, romatisme bahkan bisa dilakukan hanya dengan duduk bersama pada malam hari sambil menikmati kopi. Sengaja membuat rencana untuk satu hari seperti itu, terkesan bodoh sekali, ” ujar Zohaib.

Sebagian besar masyarakat Pakistan tidak begitu peduli dengan hari Valentine. “Saya tidak tahu hari apa itu?” kata Jummah Shah seorang buruh di pelabuhan Karachi.

Menurut Jummah, masyarakat Pakistan tidak punya waktu mengingat apalagi merayakan hari Valentine, karena mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

“Kami tidak punya waktu untuk hal semacam itu, ” katanya sambil tertawa lebar.

Ia menyambung, “Acara-acara seperti itu hanya untuk mereka yang punya banyak uang. Sedangkan saya hampir tidak mampu mencari nafkah untuk keluarga saya. Saya tidak punya waktu untuk memberi hadiah atau bunga. ”

Budaya Barat

Meski pemerintah Pakistan-negara yang mayoritas penduduknya Muslim-tidak melarang mereka yang ingin merayakan Valentine, para ulama di negara itu sejak lama menyatakan bahwa perayaan itu merupakan produk budaya Barat.

“Ini adalah taktik yang digunakan Barat untuk merusak pemikiran anak-anak muda kita. Apa hubungannya cinta dengan pesta anggur dan dansa-dansa, saling bertukar hadiah dan berkumpulnya pasangan-pasangan yang belum menikah, ” kritik Khalil ar-Rahman, seorang imam masjid di Pakistan.

Ia menambahkan, kebiasaan merayakan hari Valentine bisa mendorong hubungan pra-nikah yang dilarang dalam Islam.

“Masyarakat kita tidak seperti masyarakat Barat di mana seorang anak harus berpisah dengan orang tuanya saat ia sudah berusia 18 tahun ke manapun mereka mau pergi. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak gadis dan anak laki-laki kita melakukan hubungan pra-nikah, ” papar ar-Rahman.

Meski demikian, ada segelintir orang Pakistan yang merayakan hari Valentine dengan alasan hanya sebagai selingan untuk mengurangi kejenuhan hidup sehari-hari.

“Saya capek dengan rutinitas sehari-hari, khususnya menjaga anak-anak. Setiap hari ulang tahun perkawinan, ulang tahun kelahiran dan hari Valentine, saya bisa mendapatkan alasan untuk bisa mengenakan gaun dan pergi keluar bersama suami tanpa anak-anak, ” kata Ghazala, seorang ibu rumah tangga berusia 21 tahun.

Ghazala mengaku tidak peduli dengan asal muasal hari Valentine yang berakar pada agama Kristen. “Siapa yang peduli? Saya merayakannya hanya untuk melepaskan kepenatan dari rutinitas sehari-hari, tidak lebih, ” tukasnya.

Ahmad, seorang mahasiswa mendukung pernyataan Ghazala. “Segala sesuatu selayaknya jangan selalu dikaitkan dengan Islam dan budaya. Kami, Alhamdulillah Muslim dan dengan merayakan hari ini, keyakinan kami tidak luntur, ” katanya berargumen.

Kepentingan Komersil

Menurut sebagian masyarakat Pakistan dan pakar ekonomi, perayaan hari Valentine makin terkomersialisasi. “Saya tidak mengerti mengapa Valentine dirayakan di Barat, di mana segala sesuatunya sudah dijadikan produk komersil, bahkan cinta, ” kata Hussein.

“Saya melihat kebiasaan ini tidak lebih sebagai event komersil” sambungnya.

Menurut para ekonom, bisnis terkait perayaan hari Valentine bisa mencapai 160 juta dollar di seluruh Pakistan.

Wartawan ekonomi, Sohail Afzal mengatakan, hari Valentine sudah menjadi event komersil di kota-kota besar dalam lima atau enam tahun terakhir.

“Event ini dipromosikan oleh perusahaan-perusahaan multi nasional, perusahaan telepon genggam, hotel dan lainnya hanya untuk kepentingan komersil, ” kata Afzal. (ln/iol)


Parlemen Minta Pemerintah Kuwait Larang Valentine’s Day

Kuwait – Dua anggota parlemen Kuwait dari kalangan Islamis meminta pemerintah Kuwait memberlakukan larangan perayaan hari Valentine di negeri itu. Mereka menganggap perayaan Valentine tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan hanya mengedepankan aktivitas-aktivitas yang bertentangan dengan susila.

“Kami menyerukan menteri perdagangan untuk menunjukkan otoritasnya dengan melarang perayaan hari Valentine, yang merupakan budaya asing bagi masyarakat kita dan bertentangan dengan ajaran serta nilai-nilai agama kita, ” kata Jamaan al-Harbash, salah seorang anggota parlemen yang menyerukan larangan peringatan hari Valentine.

Harbash menilai peringatan hari Valentine menyebarkan aktivitas yang bertentangan dengan susila di tengah masyarakat Kuwait dan ia mengingatkan bahwa parlemen akan mengambil tindakan terhadap pemerintah, jika tidak mengeluarkan larangan.

Anggota parlemen lainnya, Waleed al-Tabtabai yang mengetuai komite monitoring praktek budaya asing di parlemen mengatakan, komitenya akan mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat dari kementerian informasi, kementerian dalam negeri dan kemenerian perdagangan untuk mengkaji langkah-langkah apa yang akan diambil untuk melarang peringatan hari Valentine itu.

Menurut al-Tabtabai, mereka akan membicarakan pembatasan-pembatasan apa yang diperlukan untuk mencegah agar anak-anak muda Kuwait tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine yang jatuh tiap tanggal 14 Februari. (ln/al-arby)


Kampanye Mengganti Valentine Day dengan Muhammad Day

Mesir – Sejumlah pemuda Mesir menyerukan kaum Muslimin untuk merubah perayaan Valentine’s Day yang bertepatan dengan 14 Februari dengan Muhammad Day. Seruan ini disampaikan di sejumlah situs internet Islam untuk memberi alternatif yang sangat positif, di samping menampilkan kecintaan dan dukungan Muslim kepada Rasulullah saw. Terlebih, baru saja kaum Muslimin dunia diguncangkan oleh kartun yang melecehkan Rasulullah saw.

“Berdasarkan bahwa cinta adalah nilai prinsip dalam Islam, maka kami menyerukan kampanye “Yelaa Noheb bi jidd” (Mari Benar-benar Mencintai) dengan meluruskan pemikiran tentang makna cinta yang sesungguhnya. Mereka menyodorkan pemikiran baru tentang cinta di simbol “Yela Noheb Zey Nabiyena” (Mari mencintai pakaian Nabi kita). Seruan ini bukan merupakan pengakuan kecintaan sakral sebagaimana sikap yang ditampilkan oleh para pendukung Valentine. Tapi kecintaan yang disalurkan dalam koridor Islam yang lebih utama.

Selain itu mereka juga menyebutkan bahwa ide ini disampaikan berdasarkan pemikiran bahwa tidak ada yang lebih berhak menampilkan cinta melebihi cinta Rasulullah saw. “Rasulullah saw tidak pernah melampiaskan cinta keluar dari ikatan pernikahan. Dan karenanya pelajaran romantis harus diambil dari hubungan suami istri. Berbeda dengan percintaan suci para pendukung valentine yang lebih banyak diarahkan pada hubungan lain jenis yang tidak diikat dengan tali pernikahan.”

Karena itulah, menurut mereka, cinta dalam Islam lebih utuh dan lebih mulia dalam seluruh aspeknya. Mereka menyerukan para pemuda dan pemudi Islam tidak terlibat dalam acara percintaan ala valentine’s day. Tapi dirubah dengan memperingati hari Muhammad Day, dengan membenahi pemahaman cinta dengan pemahaman yang benar sesuai pengajaran yang didapat dari Rasulullah saw. Seruan ‘Muhammad Day’ juga dilakukan melalui sms ke berbagai nomor hand phone di kalangan muda mudi Mesir.

Para pemuda Islam yang menyerukan Muhammad Day menyatakan bahwa ide mereka ini bukanlah bid’ah ditinjau dari sisi syariat. Karena apa yang dilakukan adalah untuk memanfaatkan event tertentu terutama kasus penghinaan atas Rasulullah saw melalui kartun oleh sejumlah media Barat. “Ide peringatan hari Muhammad Day adalah dengan tujuan menyampaikan pesan, bukan ditetapkan sebagai kesempatan yang harus dilakukan setiap tahun,” ujar mereka. (na-str/iol)


Responses

  1. sekedar melengkapi..
    http://orido.wordpress.com/2007/02/12/hotd-kasih-sayang-islam/

    semoga berguna..

  2. Ass,
    bagi saya ga ada tuch Valentine Day….
    Yang ada makan coklat, itu baru saya suka!
    Tapi kemaren saya punya pengalaman menarik yang ga terlupakan,
    yaitu…
    Yaitu…
    yaitu TIDUR ……!
    Abisnya semua teman ngajak jalan2, malessssss!
    Yang ada maksiat doang…..
    Key…
    Thanks..

  3. valentine day nooooooo
    valentine day is not aur culture
    valentine day is ………culture

  4. dulu, sebelum aku tau tentang hukum valentine’s day itu haram, aku selalu merayakannya, tapi setelah tau, naudzubillahimindzalik… bagi kaum muslim, jangan lagi y ngerayain valentine’s day?! karena itu neraka jahanam………


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: