Posted by: jashtismedia | February 3, 2008

Dua Sayap Taubat

Jabir bin Abdullah Al-Anshari meriwayatkan kisah hidup seorang pemuda Anshar bernama Tsa’labah bin Abdul Rahman. Sejak masuk Islam ia selalu setia melayani Rasulullah SAW dengan cekatan.  Suatu ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Saat sedang menjalankan tugas tersebut kebetulan ia melewati sebuah rumah milik salah seorang sahabat Anshar. Tiba-tiba secara tak sengaja ia melihat wanita penghuni rumah itu yang sedang mandi. Serta merta ia ketakutan. Ia sangat khawatir wahyu akan turun kepada Nabi SAW berkaitan dengan perbuatannya. Maka ia pun segera berlari menjauhi pusat kota. Ketika sampai di pegunungan yang ada di antara kota Mekkah dan Madinah, ia pun mendakinya.  Tentu saja Nabi SAW merasa kehilangan.

Hal itu berlangsung selama empat puluh hari. Hingga akhirnya Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memberikan salam dan berfirman kepadamu yang isinya: bahwa seorang laki-laki dari ummatmu berada di antara pegunungan ini dan telah memohon perlindungan kepada-Ku.”Mendengar wahyu tersebut beliau kemudian bersabda: “Wahai Umar dan Salman, berangkatlah kalian sekarang dan ajaklah kembali Tsa’labah bin Abdul Rahman kemari.”  Keduanya pun segera berangkat menyusuri jalan perbukitan yang ada di Madinah, hingga bertemu dengan seorang pengembala bernama Dzufafah. Umar lalu bertanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda bernama Tsa’labah yang tinggal di antara kawasan pegunungan ini?”  “Mungkin yang Engkau maksudkan itu adalah seorang yang lari dari neraka jahannam?”jawab Dzufafah.  “Dari mana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka jahannam?’ tanya Umar lagi.  “Sebab, setiap malam dia ke luar kepada kami dari kawasan antara pegunungan itu sambil meletakkan tangannya di atas kepala sambil berkata, “Wahai Allah, mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkanku untuk mendapatkan keputusan?” jawab Dzufafah.  “Itulah orang yang sedang kami cari,” jawab Umar sigap.

Kemudian, berangkatlah mereka menemui Tsa’labah. Ternyata benar, ketika hari menjelang malam, Tsa’labah keluar. Di sekitar lereng pegunungan, mereka segera menemuinya. Umar kemudian menghampiri dan mendekapnya seraya membujuknya untuk kembali kepada Rasulullah SAW.  “Wahai Umar, adakah Rasulullah mengetahui dosaku?” kata Tsa’labah.   “Aku tidak tahu, hanya saja kemarin beliau menyebut-nyebut namamu dan kemudian memerintahkan agar aku dan Salman mencarimu,” jawab Umar.  “Aku mohon engkau tidak membawaku kepada beliau, kecuali bila beliau sedang shalat,” pinta Tsa’labah.  Setelah sampai ke tempat tujuan, Tsa’labah langsung ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW. Ketika itulah Rasulullah SAW membaca sejumlah ayat Al-Qur’an. Mendengar bacaan beliau, tiba-tiba ia jatuh pingsan.  Setelah Salam Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Umar dan Salman, bagaimana dengan Tsa’labah?”  “Itu dia, ya Rasulullah,” jawab mereka sambil menunjuk ke arah sosok tubuh yang sedang terbaring.  Rasulullah SAW segera berdiri dan menghampirinya. Beliau menggerak-gerakkannya hingga ia pun siuman kembali.  “Apa yang menyebabkan engkau pergi dariku?” tanya beliau lembut.  “Dosaku, wahai Rasulullah,” jawab Tsa’labah.  “Bukankah pernah kutunjukkan kepadamu tentang ayat yang dapat menghapuskan dosa dan kesalahan? Bacalah: Rabbanaa aatina /id dunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah wa qinaa adzaaban naar (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka/ Q.S. Al-Baqarah: 201),” tuntun Rasulullah.  “Benar, wahai Rasulullah. Tapi dosaku terlalu besar,” jawabnya.   “Akan tetapi Kalam Allah itu jauh lebih besar lagi,” tegas beliau.  Setelah itu, beliau memerintahkannya pulang. Setibanya di rumah ia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar hal itu, Salman pun segera menghadap Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah, masihkah Engkau memikirkan Tsa’labah? Ia kini sedang sakit keras,” cerita Salman.  “Mari kita bersama-sama menjenguknya,” ajak beliau.

Setiba di kediaman Tsa’labah, Rasulullah SAW meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau. Tapi, ia berusaha menggeser kepalanya kembali dari pangkuan beliau.  “Mengapa kamu geser kepalamu dari pangkuanku?” tanya beliau.  “Karena kepala ini penuh dengan dosa,” jawab Tsa’labah murung.  “Apa yang kamu keluhkan?” tanya beliau lagi.   ‘Seperti ada gerumutan semut-semut di antara tulang, daging, dan kulitku,” jawab Tsa’labah menahan sakit.  “Apa yang kamu inginkan?” tanya beliau lagi.  “Ampunan dari Tuhanku,” jawab Tsa’labah mantap.  Kemudian turunlah Jibril menemui Nabi SAW. “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanku membacakan salam untukmu dan berfirman kepadamu: Andaikata hamba-Ku ini menghadap-Ku dengan membawa kesalahannya sepenuh bumi, Aku akan menyambutnya dengan ampunan-Ku sepenuh bumi pula.”  Rasulullah SAW kemudian memberitahukan wahyu itu kepadanya kepada Tsa’labah. Seketika itu juga Tsa’labah terpekik gembira dan tidak lama kemudian wafat..  Rasulullah SAW langsung memerintahkan para Sahabatnya untuk segera memandikan dan mengafani jenazah Tsa’labah. Dan ketika selesai menyalatkannya, beliau berjalan sambil berjingkat-jingkat.  Setelah acara pemakaman, salah seorang Sahabat bertanya kepada beliau, “Mengapa Engkau tadi kami lihat berjalan sambil berjingkat- jingkat?”  “Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sungguh aku tidak mampu meletakkan telapak kakiku di atas bumi, karena malaikat yang turut melayat Tsa ‘labah sangatlah banyak,” jawab beliau. Sayap Pertama: Takut terhadap Dosa (Sekecil Apapun)  Subhanallah! Begitu takutnya terhadap satu dosa (sekali lagi satu dosa), Sang Sahabat menghukum dirinya sedemikian berat. Hukuman yang membuatnya sakit keras itu belum disudahinya sampai ia mendapatkan jaminan bahwa ia benar-benar telah diampuni. Hingga Allah pun memberitahukan ampunan-Nya secara langsung di dunia, khusus kepadanya. Bahkan, penyesalannya terhadap dosa kecil tersebut (itu pun tidak disengaja), sampai melibatkan Jibril dan para malaikat dalam jumlah besar untuk turut serta memberi penghormatan (dan tentu saja doa) secara langsung di akhir hayatnya.

Berapa banyak dosa kita? Seberapa besar yang termasuk dosa besar? Berapa pula dosa kecilnya? Astaghfirullah! Hari-hari yang kita lalui kebanyakan merupakan hari-hari dosa. Tiada hari tanpa dosa. Puluhan media elektronik (TV, radio, internet, telepon premium) dan puluhan media cetak setiap saat menyuguhkan pornografi, pornoaksi dan pornoaudio, Bukan cuma sekedar adegan mandi dengan sabun dan keramas dengan shampo, tapi juga adegan joget erotis, bahkan adegan seksual itu sendiri yang secara terang-terangan diekspos besar-besaran. Ini baru dari mata.  Telinga, lisan, mulut, tangan, kaki, hati, pikiran dan seluruh anggota tubuh lainnya ternyata juga punya dosanya sendiri-sendiri. Rumah tempat tinggal kita, masyarakat dan lingkungan kita berada adalah masyarakat yang lebih didominasi nilai-nilai jahiliyah, dan dengan demikian sangat menggiring kita untuk berbuat dosa.  Ada yang lebih penting. Seberapa sensitif sikap kita terhadap setiap satuan dosa yang berbilang-bilang jumlahnya itu? Sebesar apa kadar penyesalan dan kegelisahan kita terhadap masing-masing dosa itu? Semembara apa kerinduan kita terhadap ampunan Allah terhadap tumpukan kesalahan tersebut? Seberapa deras pancaran istighfar yang mengalir dari hati dan lisan kita untuk semua dosa itu? Seberapa dalam genangan air mata taubat kita? Seberapa takut kita terhadap gambaran siksaan yang amat pedih di dalam kubur dan akhirat sebagai balasan bagi dosa-dosa itu?  Biasa saja. Kalau mau jujur, itu yang lebih sering terjadi pada diri kita. Kesibukan dunia dan berbagai kesenangannya lebih kuat menyedot perhatian kita. Kebanyakan kita adalah ghofilun (orang-orang yang lalai). Padahal sesuatu yang amat dahsyat tidak lama lagi akan segera terjadi pada diri kita: KEMATIAN (QS. 62: 8) dan HARI KIAMAT (QS. 21:1). Sayap Kedua: Optimis akan Ampunan Allah  Kisah Tsa’labah juga mengajarkan, taubat tidak bisa terbang dengan hanya satu sayap: rasa takut (khauf). Sebab ia justru akan menjerumuskan kita pada penyesalan berlebihan yang berujung pada keputusasaan. Itu sama saja menganggap Allah ‘jahat’ karena seolah- olah Dia tidak mau memaafkan. Karenanya taubat harus terbang bersama sayap yang lain: harapan (raja`).  Sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba tidak boleh sampai membuatnya lupa bahwa Allah Maha Pengampun dan Penyayang.  “Katakanlah: ‘Hai hamba-hambaku yang melampau batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 39: 53)*  Fikazyad/Hidayatullah


Responses

  1. Assalamu’alaikum akhi…

    salam kenal ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: