Posted by: jashtismedia | November 22, 2007

Skandal…Sisi Lain Para Aktivis

Aku sebenarnya ngga tega menuliskan hal ini, ya…, aku akan menulis sisi-sisi kemanusiaan yang juga berlaku di kalangan aktivis (wa bil khusus Aktivis Dakwah Kampus). Aku tergugah menuliskan hal ini setelah dalam catatan dakwahku menumpuk sejumlah kasus yang cukup membuat hati pilu. Bagaimana tidak,selama ini aku menganggap teman-temanku adalah orang yang ‘sempurna’:baik akhlaknya, tekun ibadahnya, sholih dan sholihah sifatnya…dan sejumlah reputasi baik lainnya, tapi sekarang aku menemukan fakta, bahwa teman-temanku yang aktivis itu ternyata juga manusia.

Kalau hanya satu dua kasus mungkin bisa aku katakan kasuistik, tapi ternyata…bukan hanya dua kasus….BUANYAAK. Sehingga aku menganggap ini gejala atau fenomena. Bukan sekedar fenomena, tapi fenomena gunung es. Wah Gawat.

Tapi terus terang, aku menulis ini agak dilematis juga. Disatu sisi aku ingin memberi tahu teman-temanku yang masih “bersih”, bahwa ada banyak kasus yang terjadi pada teman-teman lain yang bisa kita jadikan pelajaran. Aku berharap teman-temanku–dan juga aku–tidak melakukan hal yang sama. Tapi disisi lain, aku tidak mau membuka aib saudaraku sendiri. Ya, karena informasi yang aku punya ini termasuk kategori TOP SECRET. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya–bahkan aku punya data primer yang aku dapatkan dari pelakunya. Tetapi secara umum dapat aku katakan bahwa hampir semua kasus memiliki modus operandi yang sama: cinta, syahwat dan disorientasi dakwah.

Ya, mungkin lebih baik aku nggak usah merinci secara detail kasusnya. Cukuplah hal ini kusampaikan pada ”pihak-pihak yang berwenang saja”. Aku juga punya sedikit keyakinan, mungkin banyak diantara yang lain juga memiliki informasi yang sama, jadi aku tak perlu lagi bercerita disini. Yang perlu diwaspadai adalah faktor-faktor penyebab apa yang bisa membuat kader bisa ”terjatuh” seperti itu, bukan pada kronologis kasusnya. Kalau aku renungkan dan berdasarkan diskusi dengan beberapa teman, ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab:

Pertama, Polutan hulu yang tak terselesaikan
Polutan Hulu??… istilah ini pertama aku dengar ketika diskusi dalam halaqohku masuk pada tema : pembahasan kader-kader bermasalah. Jauh sebelum seorang kader mengenal Tarbiyah, biasanya ia memiliki sifat atau kebiasaan buruk, seperti: sering pacaran, suka membangkang, malas, susah bekerjasama dan lain sebagainya. Seiring perjalanan Tarbiyah, seharusnya sifat-sifat tersebut bisa dihilangkan, meski sedikit demi sedikit. TETAPI, adakalanya sifat atau kebiasaan tersebut tidak bisa hilang, meski Tarbiyahnya sudah lama. Padahal seiring dengan lamanya Tarbiyah, ia harus siap memikul amanah dakwah yang lebih banyak. Akibatnya tidak ada keseimbangan antara kesiapan personal dan tuntutan dakwah di lapangan. Bisa dipastikan kader tersebut akan macet ditengah jalan ketika harus menyelesaikan pekerjaannya. Inilah akibat polutan hulu yang tak terselesaikan. Sebagai contoh ada seorang kader akhwat potensial, usia Tarbiyahnya sekitar 5 tahun-an. Oleh MR nya ia dipromosikan untuk bisa menambah amanah yang cukup strategis dan menantang–disamping amanah sebelumnya yang sudah ia jalankan. Ketika promosi akhirnya disetujui, ternyata akhwat tersebut malah macet di tengah jalan. Amanahnya jadi berantakan. Selidik punya selidik, ternyata sejak awal ada catatan Tarbiyah yang belum ia selesaikan: ia susah beramal jama’i dan setahun terakhir ini ia sudah kehilangan orientasi dakwahnya.

Kedua, Kultur Dakwah yang tidak nyaman
Banyak diantara kader dakwah yang mengeluh, bahwa di lapangan ternyata materi-materi Tarbiyah jarang diaplikasikan. Ukhuwah terasa garing, interaksi personal semakin renggang–boro-boro bisa itsar. Amal Jama’i hanyalah teori. Pengurus sibuk sendiri-sendiri. Profesionalisme tinggalah mimpi. Untuk bisa syuro tepat waktu saja sangat sulit sekali. Maka muncullah ungkapan: ternyata organisasi dakwah tidak lebih baik dari organisasi lainnya. Untuk kader-kader baru, jelas hal ini bisa dijadikan alasan untuk tidak aktif lagi dalam barisan dakwah. Jangankan kader baru, ada kader yang sudah Tarbiyah bertahun-tahun akhirnya keluar gara-gara merasa tidak nyaman lagi dengan dakwah ini.

Ketiga, Kurangnya Keterbukaan
Anda seorang Murobbi? anda punya binaan?….boleh jadi anda tidak tahu apa yang terjadi pada binaan anda sekarang. Lantas tiba-tiba anda dapat laporan, bahwa binaan anda terkena kasus yang memalukan. Nah..sekarang anda baru sibuk menyelesaikan kasus binaan anda.

Dalam program halaqoh, biasanya ada program (baramij) tentang pembahasan permasalahan-permasalahan (Qodloya) pribadi atau organisasi. Kasus di atas seharusnya tidak terjadi kalau baramij ini berjalan. Namun ada kalanya, program ini sering dilewatkan–atau bahkan tidak ada sama sekali– seolah-olah tidak ada masalah apapun pada binaan. Para binaan kita berdalih bahwa ia merasa tidak nyaman mengungkapkan masalah pribadi pada forum halaqoh, hingga akhirnya ia memilih menyelesaikan sendiri permasalahannya. Atau justru ia malah curhat pada orang lain–yang menurut dia bisa dipercaya–yang bukan anggota halaqohnya. Ini sebenarnya sudah menyimpang dari konsep ideal halaqoh. Sejatinya halaqoh atau liqo adalah sebuah keluarga. Disinilah konsep ukhuwah dan itsar pertama kali diterapkan. Sesama anggota halaqoh sudah merasa sepenanggungan. Permasalah-permasalahan menyangkut personal, finansial, dakwah dan lainnya dibahas dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Sebenarnya masalah keterbukaan adalah masalah kepercayaan. Seseorang akan berani terbuka kalau dia percaya, bahwa persoalan dia dapat diselesaikan. Kalau menyangkut sesuatu yang amniyah (Rahasia), ia percaya rahasianya akan tetap aman. Jadi, kalau kader atau binaan kita sudah tidak terbuka di forum halaqohnya, atau ia juga tidak terbuka pada anda selaku MR nya, berarti sudah terjadi krisis kepercayaan pada anda dan halaqoh anda. Dan inilah titik awal persoalan.

Mungkin masih banyak faktor-faktor yang bisa menyebabkan seorang kader bisa terlibat “skandal” (bukan skandal jepit lho…), namun menurutku tiga faktor ini saja sudah cukup untuk membuat seorang kader terjerembab pada persoalan krusial.

Penyikapan masalah inipun beragam, ada diantara teman (include me….) yang protes keras ke bagian kaderisasi (meskipun tidak secara langsung); kenapa hal ini dibiarkan terjadi? ada yang tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi, ada yang cuek, ada yang mengejek, ada yang menganggap ini wajar sebagai konsekuensi fase dakwah sekarang, aku berhusnudzon bahwa mereka sebenarnya masih memiliki kepedulian terhadap dakwah ini. Aku juga memahami beratnya kerja-kerja kaderisasi–karena aku juga pernah masuk dalam dunia ini. Aku juga tahu, kadang masalahnya ada di internal kaderisasinya atau di orang-orang kaderisasinya. Bisa juga para MR nya yang bermasalah.

Aku sendiri menganggap ini sebagai tantangan dakwah sekarang. Dan tantangan ini kujawab dengan hal-hal konkrit di lapangan, misalnya komitmen dengan jadwal Liqo, berupaya menyelesaikan amanah dakwah atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dakwah. Meski pun secara jujur kuakui aku juga, akhir-akhir ini aku nggak optimal dalam menuntaskan pekerjaan, selidik punya selidik….ternyata aku juga bermasalah….

Baiklah teman….sekarang kita berdo’a saja, semoga Allah senantiasa meringankan setiap masalah kita, melapangkan dada-dada kita, mempermudah urusan kita, dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita….Amiin.

Dan selanjutnya, mari kita bekerja dan berkarya nyata bersama.

 

Bismillah dengan hati menuju tenang…..


Responses

  1. maksudnya skandal yang gimana yak..? kok kaya’nya kurang jelas…?

  2. tidak ada manusia yang sempurna selain rasulullah… siapapun orangnya… maka dari itu semua perkataan selain perkataan rasulullah boleh ditolak..

    jadi malah tidak wajar kalo ada manusia selain rasulullah yang sempurna🙂 isu sebenarnya adalah bagaimana orang itu mengelola kekurangannya? -kalau dia tau kekurangannya sih…- kalau tidak tau ya harus diberi tau dengan cara yang ahsan…

    bahkan isnyaallah ladang amal bagi kita kalau kita bisa membantunya mengelola kekurangannya tersebut. waallahu alam

  3. setiap persoalan adalah kita, setiap kesalahan adalah kita, semua itu takkan selesai sebelum kita memperbaiki diri, tak ada yang salah selain kita,so….. sahabat, kita jangan cari kambing hitam y, dah biasa! klo ada cari yang ungu aj🙂
    nie bwt semua lho……….bukan penulis aj

  4. ahem, klo membahas tentang aktivis dakwah, bagi saya itu selalu terkesan berat. Tapi memang pada kenyataannya ga pernah mudah, sebab tugas peradaban itu memang berada dipundak para aktivis dakwah itu.

    di pundak kita.

    dan semuanya tak pernah mudah.

    segala kesalahan itu manusiawi

  5. Skandal???
    Masak aktivis dakwah punya skandal???
    Gak malu tah sama yang didakwahi???

  6. wah, buka-bukaan nih…
    penting ya?

  7. Manusia tempat salah dan lupa,
    Kalau ada yang salah,
    mari kita saling mengingatkan

  8. Menaggapi skandal aktivis.
    Rocker juga manusia men. Seperti juga aktivis dia juga manusia. Qt ngaca diri siapa qt sbnrnya qt pd dasarnya adlh manusia yg tak prnh luput dari slh. jangan analogikan aktivis adl manusia sempurna. Tarbiyah bnknlh mslh yg dihadapi. Tpi qt yg bermasalah dlm menghadapi tarbiyah itu sendiri. Prnhkah qt berfikir sudah berapa kali qt tdk datang dlm forum tarbiyah itu sendiri. Qt mungkin blm sadar tentang hakikat tarbiyah itu sendiri. Qt emg lebih sering melihat sebuah titik hitam ditengah dari pada melihat sekelilingnya yg kelihatan putih. Jd “skandal” bukan merupakan kata yg tepat buat aktivis. Skandal mempunyai kata yg konotatif. Saran pilihlah kata yg tepat semisal refleksi aktifis ato bgmn?

  9. Assalamualaikum.wr.wb…
    Saya ga ngerti bahasa-bahasa yang berkelas tinggi, ada baiknya di jelaskan ke dalam emailku ya….
    Biar Sya tahu, apa itu Sandal itu tadi?/???
    Oh ya,….
    Tulisan tadi meskipun saya ga tahu, tapi aga nyerempet hatiku lochh….
    Tapi baguslah…..
    CUNT…

  10. Ass.
    Mudah – mudahan ikhwan wa akhwat fillah bisa menyelesaikan masalahnya semua, dan segera menyibukkan diri dengan agenda dakwah agar Syariah dan KHILAFAH cepat tegak……. wss

  11. ikhwan juga manusia, tapi itu tidak bisa jadi pembenaran,
    masih banyak juga aktivis dakwah yang hanif, but, gimana kita mnjaga diri n keluarga kita tuk meraih ridho Allah.

  12. ass
    ikhwan juga manusia, tapi itu tidak bisa jadi pembenaran,
    masih banyak juga aktivis dakwah yang hanif, but, gimana kita mnjaga diri n keluarga kita tuk meraih ridho Allah.
    wass

  13. nih sebenernya mo ngebahas tentang skandalnya atauw bahas tentang aktifitas dakwahnya ya? kok beda sama judulnya itu lho….kalau bahas masalh skandalnya mungkin bisa jelaskan kenapa itu bisa terjadi….
    ada baiknya merenung dulu dimasing-masing diri…tujuan utama kita itu apa awal ikut tarbiyah…kalo cuma mo ikut-ikutan saja…ya..biar bisa dibilang aktifis dakwah….dijamin hal itu ga kan bertahan lama….kalo udah bosen malah bisa comeback ke prilaku awal sebelum dia ikut tarbiyah…..wallahualam….

  14. Ass Wr Wb

    Ikhwah, aktivis harus menjadi manusia yang lebih dari manusia biasa, karena ia lahir dari tarbiyah ( ngaji ). Aktivis tidak dapat berlindung dari setiap kesalahan dengan berkata ” Aktivis Juga Manusia ” lagi bagaimana dengan pembinaan yang sudah kita jalankan.

    Wss Wr Wb

  15. “Skandal???
    Masak aktivis dakwah punya skandal???
    Gak malu tah sama yang didakwahi???”

    STUJUuuu mas!!! gmn qt mw dkwhin org, klo kykinan qt bsa runtuh m SKANDAL, plgi skandal mnyngkut syahwat…!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: