Posted by: muliaok | November 22, 2007

AKTIVIS KURA – KURA ( KULIAH RAPAT – KULIAH RAPAT )

 

Sering kita dengar keluhan diantara sesama aktivis terhadap aktivis lainnya seputar kesibukannya dengan agenda rapat. Si Fulan sibuk banget sama rapatnya, sampai lupa kalau sekarang ada jadwal mentor, atau komentar si Anu mah bisanya Cuma rapat aja, tapi kerjanya gak ada.

 

Atau ucapan afwan akhi, ana gak bisa ikut liqo dulu ada rapat senat, atau rapat apalah yang sering disampaikan sebagai alasan atas ketidakhadirannya. Atau kebingungan dari sang Ibu melihat aktivitas anaknya yang demikian padat, pagi berangkat kuliah, sore pulang langsung rapat TPA, malam sehabis makan pergi lagi karena ada rapat LDK. Nyaris tak ada lagi waktu yang tersisa untuk bercengkrama dengan keluarga, dan masyarakat karena kesibukannya menghadiri rapat-rapat.

 

Jumlah hari yang ada tujuh, dan dua puluh empat jam dalam sehari semalam terasa kurang baginya karena kesibukannya dengan agenda rapat. Kalah anggota dewan bila dibandingkan dengan dia dalam hal rapat, demikian gumam sang Ibu dalam hatinya melihat kesibukan sang anak.

 

 

Aktivis Rapat

 

Rapat merupakan bagian yang penting dalam mensukseskan setiap agenda kerja dan kegiatan. Sebuah proyek bersama tidak mungkin dapat berjalan dan terealisasi bila tanpa diawali dari rapat, karena dalam rapat akan dibahas tentang banyak hal seputar proyek yang akan dijalankannya agar dapat terlaksana dan tercapai dengan memuaskan. Itulah idealismenya dari sebuah aktivitas rapat.

 

Namun yang perlu diingat adalah siapa yang akan menjalankan hasil keputusan yang dikeluarkan dari rapat tersebut, dan bukan dari banyaknya ide, usulan, atau gagasan meupun argumentasi yang dikeluarkan anggota rapat bahkan tak jarang rapat harus berlanjut sampai berjam-jam atau sampai larut malam karena perdebatan yang panjang.

 

Jangan sampai seorang aktivis itu dikenal hanya sebagai seorang kader atau aktivitas rapat yang cuma bisa ngomong dalam rapat tapi tidak ada aksi, atau dengan kata lain ia hanya senangnya ikut rapat – rapat saja. Sehingga jadwalnya disusun penuh dan padat hanya dengan agenda rapat an sich. Aktivis yang demikianlah yang termasuk kategori “Aktivis Kura – Kura” (Kuliah – Rapat, Kuliah – Rapat). Ingat kita adalah kumpulan kaum yang lebih banyak berbuat dan bekerja serta beramal dari pada berbicara ( Nahnu qaumun ‘amaliyyun), disamping itu kita adalah bukan anggota parlemen atau anggota dewan yang memang amalan mereka adalah mengadakan rapat untuk membahas segala macam undang – undang dan kebijakan – kebijakan dari pihak eksekutif negara. Jangan sampai orang – orang yang berada dilevel “operasional” tingkat rapatnya justru melebihi dari orang-orang yang berada di tingkat manajerial atau pimpinan (qiyadah).

 

Virus – virus Rapat

 

Terkadang rapat dapat berubah menjadi tempat bermunculnya virus-virus penyakit yang akan mengenai dan merusak diri aktivis itu sendiri baik disadari atau tidak, diakui maupun tidak dan virus tersebut lebih banyak dan dominant memunculkan penyakit-penyakit hati para aktivis dakwah.

 

Sikap ingin menguasai dan dominant dalam rapat, ingin hanya pendapat dan ucapannya sajalah yang didengar dan diterima, dan debat kusir yang tidak ada selesainya adalah diantara penykit-penyakit hati yang menimpa aktivis dakwah ketika rapat.

Selain itu virus hati(virus cinta) pun kadang dapat menimpa seorang aktivis dalam rapatnya, terlebih lagi bila suasana dan setingan rapatnya terbuka dan tanpa hijab, sehingga semua anggota rapat baik ikhwan maupun akhwatnya dapat dengan bebas dan leluasa saling melihat dan memandang atau bahkan saling bertatapan. mungkin saat pertama kalinya tidak ada rasa apa-apa dan normal-normal saja, sehingga merasa aman dengan kondisi demikian. Namun sesungguhnya hal itulah yang harus diwaspadai oleh kita sebab virus hati itu akan muncul dan masuk ke dalam diri kita dengan cara perlahan dan sangat halus sehingga sering kita dibuat tidak sadar olehnya.

 

Berawal dari kekaguman atas kehadirannya dalam rapat, kagum atas ide-ide dan pemikiran yang disampaikan, kemuian membandingkan dengan aktivis lainny, yng pada akhirnya mulai muncul rasa senang dan suka bila rapat ada si “dia” yang dikaguminya, sehingga semangat rapat menjadi agenda utamanya bila rapat tersebut pun dihadiri oleh si dia. Berbagai cara dan dalih pun akan disampaikan agar rapat berlangsung lebih lama sehingga dapat berinteraksi lebih lama pula dengan si “dia” yang dikaguminya. Tak peduli lagi kalau ternyata rapat telah berjalan tidak efektif dan kehilangan arahnya.

 

Rapat Efektif

 

Agar rapat dapat berjalan dengan baik dan efektif, kiranya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Harus ada alokasi waktunya seperti kapan dimulainya, jam berapa dimulai dan selesainya.

  2. Agenda yang akan dibahas harus jelas adanya dan arahnya kemana. Sehingga ketika diskusi dalam rapat sudah mulai melenceng dan keluar dari relnya, maka kitalah yang harus mengingatkannya.

  3. Seluruh peserta rapat harus sudah mendapatkan atau mengetahui agenda rapat yang akan dibahas, sehingga rapat tidak bertele-tele dan banyak pengulangan.

  4. Tidak banyak berdebat dan harus menghasilkan. Bila dalam rapat tidak atau gagal mengeluarkan hasil rapat itu sesungguhnya telah dikatakan gagal pula. Mengeluarkan pendapat atau argumentasi dalam rapat adalah bagian dari dinamika rapat, namun hal tersebut akan menjadi lain ceritanya bila mesing-masing bersikeras mempertahankan pendapatnya sehingga tidak dicapai kata sepakat.

  5. Harus ada dokumentasi rapat. Seluruh agenda dan pembahasan serta hasil rapat harus terecord dalam dokumentasi rapat.

 

Demikian beberapa kiat yang mungkin dapat dijalankan untuk meraih rapat yang efektif. Dan satu hal penting yang harus dipahami oleh aktivis adalah beramal lebih utama dari pada banyak bicara (rapat). Diantara hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang pengamat Jepang tentang orang-orang Indonesia adalah bahwa orang Indonesia itu lebih banyak dan senang rapat daripada kerja, senang membuat banyak panitia seperti contoh “panja” dan “pansus”, lalu senang menghamburkan uang dari sisa anggaran, dan terakhir tidak pandai mengambil pelajaran dari yang sudah terjadi.

 

Bila hal tersebut kita renungi dan kita pahami bersama, sesungguhnya rapat pun akan menjadi hal yang biasa-biasa saja dan tidak istimewa. Kita pun dapat memposisikan dan memberikan waktu yang proposional antara agenda rapat dan agenda amal. Sekali lagi jangan sampai kita menjadi aktivis kura-kura yang kesehariannya hanya kuliah rapat – kuliah rapat dan mellupakan ladang amal yang luas ini. Ingatlah kita adalah nahnu qaumun ‘amaliyyun. Wallahu’alam

 

Oleh : H.Ahmad Mukhlis. SE

Sumber : Majalah Tatsqif edisi 21. Th.III/Muharram-safar 1428H/Pebruari-Maret 2007


Responses

  1. allahu akbar….mudah-mudahan bisa saya amalkan…
    sukron…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: