Posted by: muliaok | November 18, 2007

“JANGAN CEROBOH DI MASA MUDAMU”

Pergeseran budaya khususnya yang berkembang dikalangan remaja akhir-akhir ini berkembang semakin tidak karuan seiring dengan berkembangnya dunia ilmu pengatahuan dan teknologi. Tetapi ada satu perbedaan yang cukup mencolok diantara keduanya, kalau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih mengarah ke yang positif sedangkan perkembangan budaya anak muda lebih kearah yang tidak karuan alias negatif. Saya masih ingat ketika masih kecil dulu sering di ceritakan oleh arang-orang tua tentang masa muda mereka atau orang-orang muda sebelum mereka. Dulu adalah hal yang sangat tabu dan melanggar norma kalau anak muda berjalan berdua dengan mesra apalagi kalau berkhalwat di tempat yang sunyi. Apalagi berpakaian seperti yang di praktekan oleh kebanyakan kaum hawa sekarang yang membuat kita sulit membedakan apakah dia berpakaian atau tidak (maaf) dan dengan bangganya berkata “inilah cara berbusana wanita modern”. Pakaian mereka dinamakan rimpu (pakaian yang menutup seluruh tubuh dengan penutup kepala dari sarung sehingga menyerupai wanita yang berpakaian jubah) bahkan ketika para wanita tersebut keluar rumah untuk bepergian apalagi berhadapan dengan kaum Adam, tidak jarang pakaian rimpu menjadi rimpu mpida (yang kelihatan hanya mata seperti orang memakai cadar). Dengan kata lain budaya malu masih begitu kuat teratanam dalam diri mereka. Budaya ini sebenarnya tidak terlepas dari pengaruh ajaran Islam yang menjadi agama seluruh penduduk desa tersebut bahkan hampir dari seluruh warga dalam satu kabupaten tersebut.

Namun kenyataan yang terjadi sekarang, budaya tersebuthampir pudar bahkan yang terjadi sebaliknya. Hal ini pun tidak terkecuali terjadi dikalangan mahasiswa Islam dan bahkan yang berlatar belakang perguruan tinggi Islam. Budaya pacaran yang berkembang begitu pesat bak tsunami sekarang seakan menjadi suatu keharusan untuk dicoba dan dinikmati agar tidak di bilang kuper atau kuno. Begitupun budaya hura-hura atau budaya materialis dan hedonis sedang merasuki mahasiswa-mahasiswa Islam. Kenyataan ini tidak terlepas dari kuatnya pengaruh invasi budaya yang dilakukan oleh negara-negara Barat terutama AS yang merupakan penganut setia dari ajaran materialisme dan kapitalisme. Negara yang oleh kebanyakan orang dengan bangga di sebut sebagai negara paling demokratis. Tertawa lebar seakan keluar dari mulut para “nabi” ajaran ini ketika melihat begitu berkembang pesatnya penerus mereka yang militan dan sekarang yang menjadi icon ialah yang kita sebut sebagai artis (walaupun tidak semuanya). Artis-artis yang banyak menghiasi di media lebih TV tersebut oleh banyak anak muda di jadikan sebagai tokoh idola dan tanpa sadar mereka mengikuti pola hidup mereka.

Pengaruh selanjutnya datang dari tayangan sinetron-sinetron atau film-film atau yang lainnya yang kebanyakan berisi tentang percintaan anak muda (bahkan tidak jarang vulgar), denga kebanyakan pola busana yang seperti yang di sinyali Nabi Muhammad saw dalam sabdanya “berpakaian tapi telanjang” dan pola-pala hidup yang mewah. Begipun media cetak juga sepertinya mau kalah dan hal ini terbukti dari maraknya beredar majalah “panas”atau yang setengah-setengah. Dan masih banyak lagi media-media yang lainnya. Hal-hal seperti diatas itulah yang banyak kita jumpai dalam fenomena kehidupan ini lebih khususnya dikalangan remaja. Dan benar kata orang ketika kemaksiatan berlangsung terus menerus sampai menjadi budaya maka budaya itupun dianggap sebagai sebuah kebenaran, nauzdubillahi minzdalik.

Budaya pacaran yang berkembang di kalangan mahasiswa seakan telah menjadi bumbu kehidupan masyarakat kampus selain aktifitas kampus. Jalan berdua, makan berdua, boncengan mesra, saling telpon dan SMS walau tanpa sadar pulsa sdh habis tamasya berdua bahkan duduk berdua dengan romantis di tempat sunyi dan masih banyak lagi yang lainnya menjadi hal yang tidak asing. Bahkan ini menjadi kewajiban yang harus dilakukan bagi mereka yang sedang jatuh cinta dan dilanda asmara kalau tidak itusih bukan pacaran namanya, kira-kira begitulah takdir cinta sekarang. Ketika di ditanya kepada para aktifisnya, kitapun akan mendapatkan jawaban-jawaban yang kelihatan ilmiah dan rasional. Rasa cinta itu fitroh dan anugrah Allah SWT dan kalau di pendam nanti akan menyiksa diri atau bikin jerawatan, maka ia harus difasilitasi sehingga pacaran menjadi hal yang biasa. Disamping itu hitung-hitung sebagai sarana untuk saling mengenal lebih jauh sampai yang paling dalam dan rahasia, walaupun tidak jarang penuh dengan kepentingan sesaat. Dan mereka tidak sungkan menjadikan Q.S. Al-Hujurat ayat 13 menjadi landasan hukumnya.

Sekarang kita tidak sadar bahwa ini budaya seperti ini adalah bagian dari awal penghancuran moral bangsa dan ummat serta penghambat kemajuan peradaban luhur manusia. Banyak orang tidak cukup banyak belajar dari sejarah. Bangsa AS oleh sebagian pakar futuristik diprediksi sebagai bangsa yang tidak akan lama lagi umurnya karna disebabkan oleh kehancuran moral generasi mudanya yang demikian parah. Aborsi, hamil diluar nikah, seks bebas sampai bunuh diri terjadi dimana-mana akibat pergaulan bebas generasi muda yang tanpa batas. Bahkan industri pembuat film “orang dewasa” (film porno) pun dilegalkan dengan alasan liberelisme dan penambah devisa negara apalagi yang tidak sampai ketingkat tersebut, sudah menjadi hal yang lumrah. Kita masih ingat dengan hasil penelitian Iip Wijayanto yang menyimpulkan bahwa 97,75 % mahasiswi Jogja tidak perawan lagi. Walaupun hasil penelitian ini tidak sepenuhnya benar tapi ini menjadi indikasi bahwa moralitas mahasiswa semakin terpuruk. Hal ini dapat kita lihat dari semakin bebasnya pergaulan mahasiswa. Indikasi ini ditambah lagi dengan banyaknya penjualan kondom secara bebas dan tidak sedikit yang menjadi pengkomiditi adalah mahasiswa. Begitupun dengan tingkat aborsi yang cukup tinggi. Dan yang lebih berbahaya kalau budaya pacaran ini meningkat pada pola pergaulan bebas tanpa batas dan control, maka yang pasti kita tinggal menunggu kehancuran bangsa ini, lebih-lebih murka Allah SWT.

Sekarang cobalah kita berefleksi sejenak, sudah berapa banyakah energi dan waktu yang anda korbankan untuk ngatar si dia kesana-sini, jalan bareng, ngobrol, tamasya berdua atau nonton, memikirkan dia dan lain-lain. Tidakkah anda berpikir waktu dan energi itu anda curahkan untuk aktif memakmurkan masjid, baca buku, baca Qur’an, diskusi, berdakwah, keperpustakaan atau memikirkan ciptaan Allah dan yang lainnya. Sudah berapakah materi yang anda keluarkan untuk membeli kado buat dia, hadiah, pulsa, uang untuk nelpon dia dan yang lainnya. Tidakkah anda berpikir kalau materi itu anda gunakan untuk yang lebih maslahat, untuk sedekah, infaq, membeli buku, untuk biaya aktifitas dakwah dan organisasi dan yang lainnya. Tidakkah anda berpikir betapa rusaknya perasaan anda ketika di campakan si dia sampai kebencian dan dendam begitu deras mengalir di dalam diri anda, setelah anda banyak berkorban pada mantan pujaan hati anda. Tidakkah anda berpikir kecantikan/kegantengan dan keindahan diri anda hanya dinikmati oleh si dia padahal dia belum halal bagi anda. Tidakkah anda berpikir begitu terkekangnya hidup anda ketika harus menuruti keinginan pujaan hati anda, padahal dia bukan suami/istri anda. Dan tidakkah anda berpikir tidak ada pengabdian yang mendatangkan kemaslahatan dan kebaikan pada sesuatu yang di larang (batil).

Tidakkah anda berpikir ketika si dia selalu hadir dalam hati dan pikirian anda sampai pun ketika anda belajar bahkan sholat, bahwa anda telah mendahulukan dia dari pada Allah dan Rasul-Nya. Dan apakah anda pernah berpikir dan merasakan ketika anda merindukan dan mengingat dia hati anda tentram dan sejuk? atau apakah karna anda tidak pernah merasakan hati anda tentram, sejuk dan damai ketika mengingat Allah SWT. Tidakkah anda berpikir ketika anda berucap kamulah cintaku, kamulah hidup dan matiku dan aku akan melakukan apa saja untukmu asalkan cintamu hanya untukku, bisa menjamin hidup keselamatan hidup anda. Dan tidakkah anda berpikir kalau ucapan dan tekad itu ditujukan untuk Allah dan Rasul-Nya karna hanya dengan itulah hidup anda terjamin. Dan terakhir tidakkah kita pernah berpikir secara rasional dan dengan kelembutan hati akan kerugian ini?

Memang kita manusia terlalu sombong dan angkuh dihadapan Allah dengan hanya menuruti hawa nafsu kita. Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya begitu sayang dengan menginginkan kesucian dan keselamatan hidup kita manusia. Atas dasar inilah Allah menurunkan syariat-Nya yaitu agar kita menjaga diri dari hal-hal yang mendekatkan kita pada perbuatan zina. Atas dasar inilah Rasulullah saw bersabda kepada sahabat Ali bin Abi Thali r.a. agar tidak mengikuti pandangan pertama dengan pandangan selanjutnya ketika melihat hal-hal yang dilarang, karna pandangan pertama itu untuknya (sedekah) dan pandangan selanjutnya adalah dosa. Atas dasar inilah para ikhwan dan akhwat dilarang berinteraksi secara berlebihan tanpa ada tujuan-tujuan kebajikan dengan tetap menjaga kehormatan dan kesucian diri. Atas dasar inilah Rasulullah melarang kita berkholwat karna yang ketiga adalah syetan yang siap mengarahkan kita pada perangkap keindahan semu yang mencelakakan dan menghinakan. Atas dasar inilah Allah dan Rasul-Nya menyuruh kaum hawa untuk menutup auratnya dengan baik dan tidak tidak tabarruj dalam penampilan.

Atas dasar inilah Allah memberikan penghargaan tinggi kepada pemuda atau pemudi yang taat kepada Allah SWT sebagai salah satu golongan yang mendapatkan pertolongan Allah di hari kiamat nanti dimana tidak ada pertolongan kecuali pertolongan dari Allah SWT. Tidakkah kita merindukan kalau kita menjadi pemuda atau pemuda itu. Oleh karna itu mumpung kita masih di berikan nikmat muda oleh Allah SWT, kita mempergunakan nikmat masa muda ini dengan fastbiqul khairat, selalu memperbaiki diri agar menjadi generasi muda yang unggul (generasi yang ulil albab). Apa yang (tanam) dilakukan di masa muda ini adalah gambaran dari masa depan kita. Kalau kerja keras, tanggung jawab, kedisiplinan dan kebajikan serta semangat ibadah kepada-Nya selalu menghiasi tiap hari, jam dan detik kehidupan kita, maka tunggulah janji Allah SWT bahwa keridhaan-Nya untuk keberhasilan dan keselamatan akan kita raih. Tetapi kalau sebaliknya, maka tunggulah kesengsaraan dan kenistaan serta murka Allah yang akan kita dapatkan.

Oleh karna itu alangkah indahnya ketika rasa cinta yang ada dalam diri ini kita mengutamakan untuk mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya karena dengan cinta inilah keselamatan kita akan terjamin baik di dunia maupun di akhirat. Dan kalaupun kita mencintai dia kekasih pujaan hati maka cinta itu merefleksikan dari kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya dengan tetap berada dalam koridor syariat Islam. Dan berdoalah kepada Allah SWT, “ Ya Allah jika hamba jatuh cinta maka cintakanlah hamba pada seorang yang bisa melabuhkan cintanya pada-MU agar bertambah kekuatanku untuk mencinta-Mu. Ya Allah jika hamba jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku kepada-MU. Ya Allah jika hamba jatuh cinta, jagalah hatiku agar tidak berpaling dari-Mu. Ya Allah jika hamba rindu, rindukanlah hamba pada seorang yang rindu syahid di jalan-MU”.

Dan selanjutnya alangkah indahnya ketika kita memasuki mahligai suci itu dengan jiwa dan diri yang suci dengan semangat ibadah kepada-Nya. Dan alangkah indahnya jika babak kehidupan baru itu penuh cinta dan kasih sayang dengan di dasari semangat cinta kepada-Nya. Dan alangkah indahnya ketika keluarga itu menjadi baiti jannati, rumah yang penuh kehangatan dan ketentraman. Dan alangkah indahnya jika itu semau menjadi penghantar kita untuk bertemu dan melihat wajah-Nya. Tidakkah kita merindukannya ? Wallahu a’lam bi showab.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Khosyat, Muhammad Utsman, Muslimah Ideal di MAta Pria, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997.
  2. Al-Mahilli, Abu Iqbal, Muslimah Modern, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000.
  3. Arifin, Zaenal, Nikmatnya Pacaran Setelah Nikah.
  4. Dokumen Pedoman Muslimah HMI MPO, Dalam Menghadapi Tantangan Zaman Untuk Mewujudkan Muslimah Ideal yang Ulil Albab dan Ikut Serta dalam Membangun Tatanan Masyarakat yang diridloi oleh Allah. Yogyakarta, HMI MPO, 2005.
  5. Kamil, Huwaidah Muhammad Syekh, Fiqih Wanita Edisi Lengkap, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005.
  6. Mustabikin Imam, Kuncup-kuncup Cinta di taman Hati, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2002.
  7. Ta’mir Mesjid at-Taqwa, Teman Tapi Mesra, Artikel Jum’at tanggal 21 Oktober, 2005
  8. Zaikha, Siti, dkk. Muslimah Abad 21, Jakarta: Gema Insani Press, 1999.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: