Posted by: jashtismedia | November 15, 2007

Tentang Aktifis yang Pacaran

posted by : Karim

Sebagai sebuah lembaga dakwah, maka citra lembaga sebagai sosok teladan memang wajib dijaga. Dan tidak selayaknya para aktifis di dalamnya justru adalah orang yang melanggar syariat Islam, baik secara diam-diam atau pun secara terang-terangan.

Namun sebagai manusia tentu saja kita harus mengerti juga bahwa jiwa manusia itu tidak akan terus menerus istiqomah di jalan Allah. Karena kedua potensi untuk fasik dan takwa itu memang ada dalam diri setiap manusia.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. QS. Asy-Syams : 8

Sesekali bisa saja seseorang terpeleset dalam mengarungi perjalanannya. Dan tidak menutup kemungkinan seorang aktifis dakwah pun tergoda untuk melakukan kemaksiatan tertentu. Bahkan bisa jadi lebih berat godaannya. Bahkan seorang Nabi pun masih bisa dilanda dorongan seperti itu sebagaimana yang disebutkan dalam kisah Nabi Yusuf AS.

“Dan aku tidak membebaskan diriku , karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (QS. Yusuf : 53)

Karena itu sebaiknya format kegiatan dan struktur organisasi sebuah lembaga yang membawa citra Islam harus benar-benar dirancang sedemikian rupa agar frekuensi ikhtilat dan campur baur antara laki-laki dan wanita menjadi seminim mungkin. Bila sebuah program bisa dilaksanakan tanpa melibatkan akhwat, sebaiknya memang tidak perlu melibatkan mereka. Dan sebaliknya, di pihak akhawat, bila memang tidak terlalu urgen untuk melibatkan ikhwan, maka juga sebaiknya tidak perlu mengajak mereka.

Hal ini dilakukan bukan untuk memecah belah ukhuwah apalagi struktur kekuatan dakwah, tetapi untuk membiasakan para aktifis untuk tidak terlalu banyak porsi ikhtilatnya. Karena pada gilirannya hanya akan menimbulkan berbagai macam dampak termasuk di dalamnya adalah apa yang anda sampaikan, yaitu fenomena pacaran antar aktifis atau apapun istilahnya.

Sehingga acara mabit misalnya, sebaiknya tidak melibatkan akhawat. Atau juga daurah di luar kota, kalau memang bisa dibuat pelaksanaannya berbeda dan terpisah baik secara waktu atupun lokasi, maka itu akan jauh lebih baik dari pada hanya sekedar dibatasi hijab saja.

Struktur kepengurusan dalam organisasi dakwah pun sebaiknya tidak dicampur-campur antara ikhwan dan akhawat, sehingga tidak mengharuskan rapat campur baur juga atau menjadi dalih dan alasan untuk bercampuran dengan lain jenis. Apalagi bila menjalar kepada saling bertelepon dan seterusnya. Maka hal ini jelas hanya akan membuka pintu peluang untuk terjadinya hal-hal yang sulit untuk dikontrol dan dijaga.

Maklumlah bahwa para aktifis ini tidak lain umumnya adalah para remaja yang sedangkan dalam masa dinamis. Naluri untuk tertarik pada lawan jenisnya pun sedang tinggi-tingginya. Sehingga walau aktifis dakwah sekalipun, tetap saja harus dibatasi sedemikian rupa agar jangan sampai isi otaknya hanya urusan akhawat melulu. Dan juga sebaliknya, jangan sampai isi pembicaraan di kalangan akhawat hanyalah masalah ikhwan melulu. Jadi semacam kajian tokoh.

Mulailah dari pemisahan bentuk pelaksanaan program kegiatan, lalu struktur organisasinya pun dirancang agar tidak membawa kepada ikhtilat. Wallahu A`lam Bish-Showab. []


Responses

  1. Kadang ja ada masalh seperti ini…
    “Si Ikhwan” kalo berhubungan dengan “non akhwat” kok biasa2 aja tapi kalo “si ikhwan” berhubungan dengan “si akhwat” kok rasanya berusaha menghindari (kaya’ saya kali..)…

    Begitu pula sebaliknya… “si akhwat” kalo berhubungan dengan “non ikhwan” kok kelihatannya biasa aja tapi kalo “si akhwat” berhubungan dengan “si ikhwan” kok kelihatan risih gitu…

    kenapa ya….?

  2. Tanya kenapa … ?

  3. iyo ntum aku yo kadang-kadang gitu…..
    tapi ya bagaimanapun interaksi kita harus dijaga, baik dengan akhwat maupun dengan “non akhwat”. masak kita jaga hijab & ghadul bashar ma akhwat aja tapi gilirannya di kelas atau aktivitas kuliah kita gak jaga..istilahnya “kepribadian ganda”.
    APA GARA-GARA “NON AKHWAT”NYA YA…..KITA JADI KEBAWA-BAWA

    tapi TERUS BERUSAHA…….!!! CAIYO

    Tum sesok ono IMT, datang yo…?nek ora awas….!!!

  4. Hehe… tahu ah… emang realitanya kaya’ gitu… tapi waktu di “tempat lain” dulu tuh malah sebaliknya…

    Kalo sama “non akhwat” ato “akhwat biasa” tuh malah risih rasanya tapi kalo sama “akhwat beneran” tuh biasa aja… mo becanda ya biasa aja, dimintain bantuan apa gitu misalnya install OS ato benerin radio/tape ato angkat2 barang berat… trus dapat “kembalian” makanan, puding ato lainnya tuh juga biasa aja.

    Ya mungkin kondisi lingkungan dah beda yak…, kalo di “tempat lain” itu “akhwat beneran” lebih mendominasi daripada “akhwat biasa”… jadi fitnah itu susah berkembang di”tempat lain” itu…

  5. Ah yang bener tum……….!!!!

  6. weh, kurang pengalaman ente tum…

  7. sory tum, maklum rumahku di desa jadi jarang ketemu akhwat. ketemune mung karo simbah-simbah. he…..he……

  8. Pantes…😀

  9. Akh Karim di ITB ana susah sekali untuk melaksanakan apa yang antum sampaikan.
    Padahal ana juga memiliki pandangan yang sama. Tapi teman-teman yang berada diatas saya dalam struktur. seolah melumrahkan hal-hal yang mendekati ikhtilat. Syuro tidak pakai hijab. Kadang bahkan koordinasi di jalan pun mudah sekali para akhwat itu menegur ikwan ataupun sebaliknya. Padahal kita sama-sama jalan sendiri.
    Bingung juga…
    Beda dengan dakwah di SMU ku dulu di Bogor..

  10. Di ITB ana susah sekali untuk melaksanakan apa yang antum sampaikan.
    Padahal ana juga memiliki pandangan yang sama. Tapi teman-teman yang berada diatas saya dalam struktur. seolah melumrahkan hal-hal yang mendekati ikhtilat. Syuro tidak pakai hijab. Kadang bahkan koordinasi di jalan pun mudah sekali para akhwat itu menegur ikwan ataupun sebaliknya. Padahal kita sama-sama jalan sendiri.
    Bingung juga…
    Beda dengan dakwah di SMU ku dulu di Bogor..

  11. assalamualaikum akhi, sebenarnya dalam satu kepengurusan nggan pa-pa lagi kalau disana melibatkan akhwat atau ikhwah, cuma bagaimana kita bisa menjaga hijab kita sendiri, karena ingat satu hal dakwah adalah organisasi dan organisasi otomatis berdakwah. ana juga heran apa yang antum bilang bahwa dalam acara mabit ada yang melibatkan akhwat maksudnya dalam hal apa? sebenarnya amal jama’i itu perlu akh, jadi nggak mungkin akhwat mengerjakan hal-hal yang berat tanpa adanya bantuan dari ikhwah ya kannnnnnnnn


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: