Posted by: jashtismedia | May 29, 2007

Ikhwan dan Akhwat dalam Fenomena Hijab (Pembatas)

Angin keterbukaan yang bertiup kencang di era reformasi menyebabkan medan dakwah menjadi sangat berbeda dengan dakwah di zaman Soeharto berkuasa. Ketika Soeharto sedang berada di zaman emasnya, scope dakwah sangat terbatas. Dakwah dilakukan door to door. Dakwah kepada masyarakat luas hanya moment-moment tertentu, dengan topik yang cukup umum. Para ulama tidak bisa menyentil atau secara tidak langsung mengkritisi pemerintah dalam ulasan ceramahnya, jika tidak ingin ’hilang malam’ segera setelah menyelesaikan isi pidatonya.

Dakwah hari ini cukup kontroversi dengan situasi di atas. Peluang yang terbuka lebar di sana-sini, memungkinkan aktivis dakwah untuk tampil tanpa ragu-ragu. Forum-forum yang mengusung panji Islam bermunculan, bacaan Islami menjamur, organisasi Islam berdiri sampai ke panggung politik nasional, bahkan seni Islam seperti lagu nasyid juga tidak ketinggalan. Singkatnya, dakwah tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Intensitas pertemuan Ikhwan-Akhwat pun tidak dapat dihindari. Namun apakah mereka turut mereformasi hijabnya seiring dengan tuntutan zaman? Mengadakan pertemuan tanpa hijab (tabir pembatas ruangan laki-laki dan perempuan), sering menelepon membahas agenda urgent untuk syuro (baca: rapat) selanjutnya, mengirim sms, miscall untuk mengingatkan jam syuro sudah dimulai, e-mail dan sarana telekomunikasi lainnya telah menjadi corak yang mewarnai pergaulan Ikhwan-Akhwat. Jika kelonggaran ini terus merambat maka dikhawatirkan aktifitas dakwah akan kehilangan keistimewaan yang mesti dimilikinya. Jika sudah demikian, lalu apa bedanya kita dengan yang lain?.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya hijab di kalangan aktivis dakwah:

Pertama, pemahaman. Walaupun telah dipenuhi atribut sebagai aktivis, masih banyak yang belum faham tentang hijab itu sendiri. Demikian juga norma-norma yang lain. Banyak di antara mereka yang ’tersandung’ terlebih dahulu baru kemudian benar-benar memahami urgensi hijab bagi perjalanan dakwah yang sedang diperjuangkan. Kendati pemahaman dapat diasah melalui bacaan, pengalaman memang lebih mengena ke sanubari orang yang mengalaminya.

Kedua, ukhuwah yang mandeg di tengah mereka. Ukhuwah sesama Akhwat yang renggang menyebabkan seorang Akhwat lebih suka curhat kepada seorang Ikhwan. Atau sebaliknya, karena sibuk menghandle beberapa kegiatan, akhirnya kurang arif melihat bahwa di antara sesama Ikhwan ada yang sedang mengalami masalah prbadi. Kadang-kadang kecenderungan yang terjadi lebih ke lawan jenis daripada kepada sesamanya. Fenomena inilah yang harus disikapi lebih awal. Ikatan hati antara Akhwat dengan sesama Akhwat, dan Ikhwan dengan sesama Ikhwan harus diperkuat.

Ketiga, kurang kontrol, baik dari murabbi atau dari dewan syuro lembaga dakwah kampus. Seringkali yang muncul adalah komentar-komentar tanpa solusi konkrit. Tidak jarang pula karena tidak ada rujukan yang benar-benar dapat dijadikan teladan. Hal ini cukup dilematis bagi aktivis yang berstatus junior yang ingin proaktif.

Ketika rambu-rambu pribadi kita agak redup, ada beberapa sikap yang semakin menjerumuskan kita dari penjagaan hijab ini. Boleh jadi tindakan ini telah sering kita lakukan, secara lambat laun membuat hijab kita semakin terkontaminasi. Di antara sikap-sikap tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pandangan.
Pandangan merupakan langkah awal yang biasa digunakan syetan untuk merusak hati seorang laki-laki atau seorang perempuan terhadap lawan jenisnya. “Dari mata turun ke hati“ bukanlah sekedar pameo. Karena itu Rasulullah Saw melarang Ali bin Abi Thalib memandang seorang perempuan untuk kedua kalinya sebab ia merupakan anak panah syetan. Allah pun telah mengingatkan dalam Surah An Nuur : 30, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.“

2. Senyuman.
Senyuman memang merupakan sedekah yang paling mudah dan paling murah. Senyuman akan bermakna positif pada orang yang tepat, pada saat yang tepat dan dalam durasi waktu yang tepat pula. Namun maknanya akan terasa berbeda jika senyuman itu diberikan pada lawan jenis dengan tatapan mata yang penuh arti dan frekuensi yng cukup sering.

3. Ucapan.
Komunikasi memang sangat diperlukan antar sesama aktivis dakwah. Perlu digaris bawahi agar perkataan yang terlontar dalam pembicaraan agenda dakwah tidak menyinggung hal-hal personal apalagi bersifat sensitif. Ucapan akan mengundang makna implisit jika diekspresikan dengan penuh perasaan. Ucapan kita akan terpengaruh jika dibawa bercanda, menghibur atau bersimpati pada lawan jenis. Karena bahaya lidah tak bertulang inilah maka Rasulullah Saw menyebutkan dalam salah satu haditsnya agar kita senantiasa berbicara yang baik atau lebih baik diam.

4. Kunjungan.
Salah satu cara mempererat silaturahim adalah dengan mengunjungi saudara. Dengan demikian ukhuwah akan semakin kuat dan harmonis. Namun kunjungan antara pria dan wanita dapat berdampak lain. Terkadang kunjungan dibuat dengan cover meminjam catatan, diskusi tentang tugas akhir semester, follow up syuro yang tidak sempat dibahas di kampus, konsultasi keislaman dan banyak topeng lainnya. Perlahan-lahan kunjungan formal ini menjadi kunjungan yang lebih bersifat prifacy.

5. Hadiah.
“Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian akan saling mencintai“, sabda Rasulullah Saw. Trik ini sangat bagus digunakan untuk menambah kehangatan persahabatan antar sesama Akhwat atau sesama Ikhwan seperti dalam acara tukar kado atau Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT). Tidak sedikit pula kita menyalah artikan pemberian ketika hadiah itu berasal dari lawan janis. Kemudian timbul perasaan ge-er yang membuka pintu-pintu rusaknya hati, karena tipisnya tameng untuk itu.

Sadar atau tidak, tindakan di atas adalah rangkaian pintu masuk syetan yang merupakan bagian dari langkah-langkah syetan untuk menjauhkan kita dari ridho Allah Swt. Kita harus senantiasa mawas diri bahwa dari setiap aliran darah ini musuh kita laknatullah tersebut akan selalu mengintai peluang untuk melengahkan kita. Terlepas kepada siapa kita melakukannya, orang yang faham atau orang yang awam. Seperti yang ditegaskan Allah dalam al-Quran Surah al-Baqarah: 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara menyeluruh. Janganlah kamu menuruti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.“

Untuk membentengi diri dari godaan ini, ada tiga penguasaan yang harus kita miliki.
Pertama, penguasaan ilmu. Keimanan perlu ditopang dengan ilmu. Mengetahui ilmu tidak cukup hanya sekedar mengenal sebab, yang lebih penting adalah memahaminya. Sesungguhnya dengan mengunakan jilbab syar’i seorang Akhwat telah membuat perisai untuk dirinya yang menunjukkan izzah seorang Muslimah. Dari penampilan fisik saja sebenarnya kita telah menghijabi diri dari kemungkinan berbuat di luar jalur. Masih banyak ilmu-ilmu lainnya yang harus digali untuk semakin meningkatkan kualitas diri seorang Muslim. Ilmu bisa datang dari mana saja, siapa saja dan kapan saja, selagi kita menguatkan azzam dan meluruskan niat bahwa kita menuntut ilmu dalam rangka beribadah kepada Allah Swt, “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat“ (Q.S. Al Mujadalah : 11).

Kedua, penguasan ma’nawi. Seorang yang faham dengan sesuatu belum tentu komit dengan pengetahuannya. Dia harus berlatih mengendalikan hawa nafsunya di bawah kendali iman. Begitu juga halnya dengan pemahaman seorang aktivis harokah, bisa saja luntur ketika keimanannya memudar. Pengetahuannya tentang etika pergaulan pria dan wanita menjadi redup, seredup cahaya imannya. Salah satu obatnya adalah dengan membasahi rohaninya yang kering dengan istighfar dan dzikrullah. Harus selalu dicamkan dalam hati bahwa kita menjaga diri ini tidak mengenal lingkungan di mana kita berada. Sejatinya, kemanapun kita melangkah, seiring dengan bertambahnya ilmu, orang ammah (umum) dapat melihat niai-nilai Islami tersebut terpancar dari tingkah polah kita. Normal jika tidak sedikit yang berbuat khilaf di tengah usahanya memperbaiki diri. Kewajiban kita adalah selalu berusaha untuk menjadi lebih baik.

Ketiga, penguasaan aplikasi. Penguasan ilmu dan stabilitas ma’nawiyah belum cukup sempurna jika respon-respon gerak belum tumbuh. Seorang aktivis yang menguasai ilmu akan memberikan reaksi yang tepat terhadap aksi-aksi yang muncul di sekitarnya serta mampu memberikan input bagi lingkungannya. Ia tidak reaksioner terhadap aksi-aksi negatif serta lebih bijaksana menyikapi suatu tantangan dari berbagai sudut pandang. Pola pikir yang broad-mainded ini akan kelihatan manfaatnya ketika ia mengambil keputusan dalam pergaulan sesama. Ia tidak akan cepat ge-er dan tidak akan membuat ge-er orang lain. Wibawanya sebagai seorang Muslim tetap terjaga.

Jadi seorang aktivis dakwah yang telah mempunyai penguasaan materi keilmuan (kognitif), kestabilan ma’nawi (afektif) dan penguasaan gerak amal (evaluatif) akan terjaga komitmennya terhadap tarikan-tarikan buruk. Seyogyanya, dengan pemahaman ini, eksistensi hijab tidak mengurangi kinerja aktivis dalam gerak organisasinya. Program-program dakwah dapat direalisasikan jika Ikhwan-Akhwat saling bersinergi, yang ditunjang dengan ukhuwah yang kental. Sangat diharapkan, lembaga dakwah kampus mampu mengenjot potensi kader-kadernya terutama yang berada di posisi kunci. Sehingga dapat menyelesaikan kerja-kerja dakwah dengan optimal yang hasilnya juga dapat dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya komunitas Ikhwan-Akhwat atau civitas akademika saja. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui tetapi lebih mengingatkan kita semuanya. Karena tentunya kita tidak ingin menjadi manusia yang merugi. Allah telah berfirman dalam al-Quran Surat al’Ashr: 1-3, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat-menasehati dalam kesabaran“. Wallahu’alam.

(inspirasi tulisan dari : Hafidzah, FSI NurJannah Padang dengan penyesuaian).
By : Onesia.


Responses

  1. PERTAMAX !!

  2. asslmmmm….
    toyyibbbbbbb

  3. apa seh ini?

  4. memang bener. Gimana kl pertemanan antar beberapa ikhwan dan akhwat? maksudnya mereka seangkatan ada 7, 2 ikhwan dan 5 akhwat, menurut antum itu gimana?bisa blz via email?

  5. tuh khan…
    seiring jalannya waktu?
    sekulerisme yang makin mendera?
    khilaf yang sering terjadi?
    kurangnya pengetahuan dan inisiatif tuk mencari tahu?

    so menurut an, yaa yang tahu harus selalu mengingatkan dan meminta diingatkan kalo khilaf.

  6. Bagus Sekali dengan apa yg telah di tulis,…
    Saya setuju,..Akan lebih baik jika di sosialisasikan ke yang lain secara perlahan dan bertahap,…
    Karena mereka akan meresa Aneh,…Kalau aktivis seh udah pada ngerti kaya-nya, tgl penerapannya ajah kan…!?! tapi bagi yang laen…???
    Nah,…Itu tugas kite,…
    Thanks

  7. Syukur Alhamdullilh, dengan adanya situs ini membuka peluang kepada saudara-saudara kita yang lain untuk mendapat asbab dari ALLAH SWT untuk mendapatkan petunjuk-NYa

  8. Subhanallah…
    So Sweet..
    qt agRee banged, dengan adanya artikel ini seseorang yang belum paham atau sedang khilaf bisa teringat kembali,Ahammiyatu Hijab, Okeh..
    Buat yang laen..dgn Da’wah fardhiyah ke saudaranya sedang dilanda proBlem tsb….

  9. assalamualaikum, sebenarnya inilah fenomena yang banyak kita temui, dikalangan aktifis yang nota bene penggerak dakwah tapi malah terkena dengan yang namanya VMJ, usul ana apabila ada saudaa yang lagi futur atau sebaliknya maka jangan biarkan begitu saja, karena sesama saudaa harus saling mengingatkan, akhi wa ukhtifillah mari kita pertingkat ruhiyah kita dan yang paling penting perbanyak istighfar.wassalam

  10. Ass,ilmu tanpa amal gak ada gunanya.Ibarat pohon yang tidak berbuah.Sebaiknya tanya lagi pada diri kita masing-masing apakah kita telah mengamalkan segala aturan Allah???padahal Qt mengetahuinya.Janganlah Qt termasuk kepada golongan orang-orang yang fasik…..wass

  11. Assalamualaikum, jaga mata jaga hati jangan nodai hati ini dengan senyum manismu.

  12. ane heran melihat fenomena pergaulan antara ikhwa dan akhwat yang akhir2 ini ane temui di kalangan kampus. apa sekarang sudah begitu longgarnya hijab di antara mereka???!!!

  13. di zaman modern seperti kita harus mempertebal keimanan dan akidah kita. Hanya itu kuncinya,

  14. AslmkmwW, Alhmdulillah jazakumullah khoir katsir y… Atas infonya… Sgt.. Sgt b’guna bgd bwt ikhwahfillah yg blum faham t’utama orang awam … WslmkmwW

  15. mudah-mudahan kita bisa istiqomah, tidak cuma hijab hati saja tapi hijab mata dan semuanya

  16. Reformasi Telah Mati

    Tabloid SUARA ISLAM EDISI 44, Tanggal 16 – 29 Mei 2008 M/10 – 23 Jumadil Awal 1429 H

    Wacana reformasi dan demokratisasi total, telah membius rakyat Indonesia dan menjelma menjadi kekuatan dahsyat menjelang Mei 1998. Gelombang reformasi pun menumbangkan rezim Soeharto yang telah berkuasa lebih 30 tahun. Kini perjalanan reformasi telah mencapai 10 tahun, sungguh mengerikan reformasi hanya membukukan kehancuran demi kehancuran bangsa ini.

    Bagaimana membaca secara konkrit dan obyektif hasil reformasi sepuluh tahun terakhir ini (Mei 1998-Mei 2008)? Apa yang terjadi sejak presiden Soeharto berhasil ditumbang-kan, hingga hari ini? Perjalanan era refor-masi ini niscaya amat dibanggakan para pelaku dan penyelenggara Negara, baik eksekutif, yudikatif, dan legislatif terdiri parlemen parpol dan politisi. Capaian-capaian ekonomi, sosial politik, perta-hanan dan keamanan selalu dilaporkan serba maju, meningkat dan membaik.

    Padahal fakta yang berlaku sebenar-nya justru diagonal terbalik. Misalnya pemerintah terus-menerus melaporkan kema-juan ekonomi, padahal yang terjadi kini bangsa Indonesia justru mengalami pun-cak krisis ekonomi yang telah berlangsung lebih 10 tahun terakhir ini. Angka kemis-kinan dan pengangguran terus-menerus meningkat. Harga-harga kebutuhan bahan pokok terus melejit tak terkendali bahkan bahan baku yang semakin mahal itu sulit dicari di pasaran dan bisa diperoleh dengan antre. Pemandangan antre minyak tanah, minyak goreng dan beras ini menjadi pemandangan set-back seperti setengah abad yang lalu di zaman orde lama.

    Menjadi Bius Memabukkan

    Setelah sepuluh tahun reformasi berlalu, hakikatnya bangsa Indonesia bisa mengambil pelajaran sangat faktual sepanjang perjalanan reformasi ini. Empat presiden (Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan kini Susilo Bam-bang Yudhoyono) pun telah silih berganti naik ke kursi kekuasaan dengan meng-usung sistem politik yang reformis, demokratis menggantikan rezim dikta-torial yang dijalankan presiden Soeharto lebih tiga dasawarsa. Tapi empat presiden ini ternyata tidak mampu mengenyahkan dan menyembuhkan penyakit kronis bernama: Krisis Multidimensi. Bahkan krisis ini berkobar menjadi-jadi.

    Walau kondisi bangsa Indonesia se-makin terpuruk, namun rakyat Indonesia terutama para penguasanya seringkali mendapat pujian dari negara-negara Barat. Indonesia disebut sebagai negara demokratis terbesar di dunia setelah AS dan India. Namun ironisnya Indonesia yang telah menjalankan kehidupan politik yang sangat demokratis itu, ekonomi Indonesia terus terpuruk. Angka-angka kemiskinan semakin membengkak jum-lahnya. Kemandirian bangsa di segala bidang mengalami kemerosotan yang sangat mengenaskan. Contoh paling nyata adalah ketidakmandirian bangsa di bidang pangan. Indonesia sebagai negara agraris dan maritim terbesar di dunia, kini (2008) rakyatnya bergejolak dalam krisis susul-menyusul, dimulai dengan krisis minyak goreng, beras, kedelai, minyak tanah. Indonesia yang dikenal terito-rialnya 70 persen terdiri lautan, sungguh ironis kini pun telah mengimpor garam. Inilah fakta ironis dan menyakitkan. Indonesia sebagai penghasil minyak bumi, rakyatnya setiap hari antre minyak tanah (kerosine) sekadar untuk men-dapatkan dua liter minyak.

    Rakyat Indonesia bagai terjebak dalam sistem demokrasi yang telah men-jeratnya dalam sistem Kapitalisme Global yang terus mengisapnya habis-habisan. Pemilihan presiden secara langsung (2004) telah menghasilkan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Lebih dari itu Pilkada Gubernur, bupati-walikota pun telah digelar di seluruh wilayah Indonesia dan menghasilkan belasan gubernur baru puluhan bupati-walikota (hampir mencapai seratus orang). Bahkan jika Pilkada kelak sudah digelar secara keseluruhan, maka catatan statistiknya hampir setiap hari akan di-gelar Pilkada di suatu daerah di Indonesia. Apa yang didapat setelah rakyat Indonesia kini dipimpin oleh presiden dan kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat itu? Negatif. Inilah jawaban yang merata. Sementara penelitian sebuah koran nasional di ibukota menegaskan bahwa kepemimpinan baru hasil pilkada ternyata tidak mengubah prestasi yang dicapai kepala daerah sebelumnya yang dihasilkan dengan mekanisme lama (dipilih melalui DPRD).

    Praktek Pilkada yang sarat dengan politik uang, belum lagi ekses Pilkada dengan kerusuhan yang dikobarkan pihak yang kalah, telah menyurutkan optimisme Indonesia bisa melanjutkan model politik ini. Adalah PBNU melalui Ketua Umum Hasyim Muzadi menyentak dengan imbauannya agar Pilkada dihentikan di Indonesia dan kembali ke sistem lama.

    Membayangkan ekses Pilkada dengan politik uangnya memang mengerikan. Pusaran dan tarikannya telah mencip-takan politik uang yang membawa konsekuensi koruptif dan menghalalkan tujuan dengan segala cara. Biaya Pilkada bupati disebut-sebut sedikitnya Rp 200 milyar, sedangkan biaya untuk gubernur mencapai Rp 500 milyar.Pejabat baru yang terpilih niscaya akan mengem-balikan modal yang telah ia keluarkan karena sebagian justru diperoleh dari sumbangan dan utang. Model Pilkada langsung memang telah menyeret bangsa ini pada pusaran bahaya di masa dekat yang akan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia.

    Model politik era reformasi ini secara pasti telah menempatkan partai politik menjadi “panglima”, sekaligus menerap-kan oligarki partai politik yang justru “membunuh” aspirasi di luar partai politik. Bersamaan dengan itu perfor-mance partai politik semakin terpuruk di mata rakyat secara luas. Hal ini karena perilaku politisi khususnya di parlemen yang amat koruptif dan tidak peduli kendati kritik bertubi-tubi diarahkan ke parlemen. Ratusan anggota parlemen daerah telah diadili dalam kasus-kasus korupsi, kini bahkan anggota DPR pusat pun mulai dijebloskan ke penjara KPK.

    Kini masyarakat luas dengan caranya sendiri “menolak” sistem yang ternyata justru membuat rakyat menderita. Pil-kada semakin banyak diikuti partisipan golput alias memboikot. Jumlah golput semakin membengkak mendekati angka 50 persen. Maraknya pendirian partai politik baru sebagai peserta Pemilu 2009, bukan mencerminkan meningkatnya gai-rah rakyat menyongsong Pemilu 2009, melainkan “kehebohan” orang-orang yang itu-itu juga dan selama ini selalu mengail di pusaran “bisnis partai”. Dipastikan partai-partai baru itu dibentuk oleh pengurus partai-partai gurem yang telah terpuruk sebelumnya. Eksistensi mereka sejatinya hanya “dagelan” yang sangat tidak lucu karena mempermainkan nasib bangsa Indonesia yang terus terpuruk.

    Pelajaran satu dekade perjalanan reformasi ini sejatinya amat gamblang dan mudah untuk disimpulkan. Agenda asing (Barat) telah mendikte perubahan yang kini terjadi di Indonesia dan terus terulur hingga hari ini. Dimulai dengan campur tangan IMF dengan berbagai formula yang dipaksakan menjelang dan awal reformasi dan justru menghancur-kan ekonomi negeri ini. Mulai pembekuan bank, pemaksaan swatanisasi BUMN, dengan menjual aset-aset strategis milik Negara.Pemretelan kekuasaan presiden dengan dibentuknya puluhan komisi-komisi, dan yang paling vital adalah pe-rubahan UUD 45 yang kini berubah 125 persen menjadi liberalistis. Konsep refor-masi seperti ini ternyata hanya menjadi “jembatan” menuju kehancuran bangsa Indonesia.

    Tepat di usia reformasi memasuki dekade pertama (Mei 2008), kondisi bangsa Indonesia di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono justru meng-alami kesulitan kehidupan yang kian menghimpit. Tekanan kehidupan sehari-hari menyebabkan semakin sering ter-dengar kabar keluarga-keluarga yang bunuh diri bersama-sama antara bapak-ibu dan anak-anaknya. Sangat menge-rikan. Kondisi semakin parah karena pemerintah “nekad” menaikkan BBM sampai 30 persen. Padahal ketika pemerintah menaikkan BBM 125 persen pada Oktober 2005, pemerintah tegas-tegas menjanjikan tidak akan menaikkan BBM sampai 2009. Kekacauan diprediksi bakal mengiringi kenaikan BBM sekitar Juni 2008 mendatang. Bahkan sejumlah politisi meyakini akan terjadi suasana yang kacau (chaos) disusul terjadi instabilitas negara.

    Yang jelas catatan dalam perhitungan statistik dengan kenaikan BBM Juni 2008, jumlah angka kemiskinan akan bertambah meroket sekitar 15,68 juta jiwa.Angka resmi pemerintah jumlah rakyat miskin mencapai selama ini adalah 16,85 persen atau 36,8 juta jiwa.dengan kenaikan BBM 30 persen ini akan mendorong inflasi 26,94 persen. Bisa dibayangkan rencana kenaikan BBM ini niscaya belaka akan menjebol seluruh daya tahan rakyat Indonesia.

    Yang paling mengerikan adalah rezim Susilo Bambang Yudhoyono idem-ditto belaka dengan tiga presiden sebelumnya di era reformasi yakni tak bisa mengubah status utang Indonesia. Kini utang pemerintah seperti diumumkan Depkeu adalah AS$ 155,29 milyar terdiri pinjaman dengan perjanjian utang sebesar AS $ 63,34 milyar ditambah obligasi AS $ 90,95 milyar. Perjanjian utang sebesar itu diterapkan dengan rente ala ribawi yang sangat eksploitatif jauh dari adil dan dipaksakan para “penjajah” baru, rezim Kapitalis Global. Dengan bunga 8 persen setahun, pemerintah Indonesia setiap tahun harus membayar bunga sebesar AS$ 12,4 milyar atau sebesar Rp 114 trilyun. Padahal utangnya tak berubah alias tak berkurang satu dolar pun. Sungguh mengerikan nasib bangsa Indonesia di tangan rezim reformasi. Negara dan bangsa ini akan terus diseret ke jurang kehancuran oleh rezim refor-masi.

    Di bidang sosial keagamaan, kerusak-an seolah dibiarkan. Muncul aliran-aliran sesat. Reformasi yang mengagung-agung-kan HAM (hak asasi manusia) seperti memberi angin bagi upaya perusakan Islam. Di zaman Gus Dur, Baha’i dilegal-kan. Selanjutnya muncul ke permukaan aliran Salamullah-nya Lia Aminudin, Alqiyadah Al Islamiyah-nya Ahmad Moshadeq, Ahmadiyah, dan aliran-aliran sesat lokal lainnya. Pemerintah reformasi tak mampu melindungi umat dari penye-baran aliran sesat tersebut. Pemerintah hanya sekadar menyelesaikan persoalan ini secara hukum. Padahal ini bukan ranah hukum semata, tapi sudah menyangkut aqidah yang konsekuensinya dunia akhirat.

    Bersamaan dengan itu, kehidupan yang mengagungkan kebebasan tumbuh subur. Pornoaksi dan pornografi marak di mana-mana. Sampai-sampai kantor berita AP (Assosiate Press) dalam surveinya menyebut Indonesia sebagai surga pornografi terbesar kedua setelah Rusia. Undang-undang yang mengatur perilaku itu hingga kini tak keluar. Pembahasannya berlarut-larut. Ini kare-na pemerintah dan DPR lebih memen-tingkan kaum pemuja kebebasan dari-pada mayoritas penduduk Muslim. Lagi-lagi pemilik modal dan orang-orang yang punya link dengan asing yang mem-pengaruhi kekuasaan dan kebijakan ne-gara. Praktik tirani minoritas terhadap mayoritas sangat kasat mata.

    Dalam politik luar negeri, politik bebas aktif tak lagi menjadi acuan. Sejak reformasi Indonesia cenderung ke Ame-rika. Malah tahun lalu, mungkin karena takut dengan Amerika, Indonesia mendu-kung sanksi terhadap Iran dalam kasus pengembangan energi nuklir Iran. Peme-rintah dikecam habis umat Islam.

    Yang menyedihkan lagi, dalam kondisi susah, para penguasa dan wakil rakyat menunjukkan perilaku hedonis. Mereka seolah membiarkan rakyat tersiksa akibat krisis berkepanjangan. Malah dalam masa pemerintahan SBY sekarang, sempat-sempatnya dia membuat dan merekam lagu serta nonton film ramai-ramai.

    Di mana nurani mereka???

    Wallauhu’alam [aru syeif assad/mj/www.suara-islam.com]

  17. […] post oleh Maghfur […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: