Posted by: jashtismedia | May 25, 2007

Tangisan Untuk Adikku

Aku dilahirkan disebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari orang tua ku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. ayang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuru lima puluh sen dari laci ayahku, ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah kalau begitu kalian berdua layak dipukuli!”.
Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi. tiba-tiba, adikku mencengkramnya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk diatas rabjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal apa lagi yang akan kamu lakukan dimasa mendatang? Kamu layak dipukuli sampai mati! Kamu pencuri tidak tau malu!”.


Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikan air mata seteres pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk meju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tudak akan pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahu dan Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhir di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk kesebuah provinsi. MAlam itu ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengar memberenggut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga, adikku berjalan keluar kedhadapan ayah dan berkata, “Ayah, Saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika Bearti saya mesti mengemis di jalan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah didusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa kemuka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia tidak akan meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, Sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap kesamping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas diatas bantalku. “Kak, masuk ke universitas itu tidak mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut diatas tempat tidurku, dan menangis dengan airmata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya dilokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ketahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar dikamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar diluar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang kepada teman sekamarku kalau kamu adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? apa mereka tidak akan menertawakanmu?” aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dengan kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya ia mengeluarkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu. ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat gadis kota memakainya, jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku kedalam pelikanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku kerumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih dimana-mana, setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil didepan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? ia teluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”
Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, serarus jarum terasa menusukku Aku mengolesi sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu ketika saya bekerja dikontruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku untuk bekerja dan.”

Ditengah kalimat itu dia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun kewajahku. Tahun itu adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika Aku menikah, aku tinggal banyak dikota. Banyak kali Suamiku dan aku mengundang oarang tuakuuntuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. tetapi adikku menolak tawaran tersebut. ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapatkan sengatan listrik, dan masuk rumah sakit Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putihpada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menololak jadi manager? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. mengapa kamu tidak mau mrndengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar ia baru saja menjadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepata-patah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kamu kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat, “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi keseklah dan pulang kerumah. Suatu hari, Saya kehilangan sati dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba dirumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, Orang yang paling aku berterimakasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling bahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. (Dari “i Cried for My brother six times-swaramer)

Cerita ini diambil dari sebuah e-book kumpulan cerita motivasi
judul : Motivasi net
oelh : Ir. Andi Muzaki,SH,MT.

cat : Bila ada kebaikan dalam cerita ini maka ambillah kebaikan tersebut dan bila ada keburukan dalam ceriata ini buang dan tinggalkanlah keburukan tersebut. Semoga kita mendapatkan hikmah dari cerita tersebut.


Responses

  1. 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: