Posted by: jashtiser | August 28, 2009

RAMADHAN KALI INI, TIDAK BOLEH SAMA

Menghiasi Ramadhan dengan amalan istimewah harus menjadi agenda umat islam di bulan ini. Jangan sampai Ramadhan kali ini berlalu dengan penyesalan di dalam hati. Oleh Edy Nasrullah

Dahulu, ketika umat islam sampai di penghujung sya’ban, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam (SAW) berkhutbah, “Telah datang bulan yang mulia, dan penuh barakah. Didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan”. Di bulan itu, puasa menjadi kewajiban, bangun malam terus dilakukan. Satu kewajiban yang dikerjakan nilainya sama dengan mengerjakan 70 kewajiban. Read More…

Posted by: jashtiser | July 24, 2009

PEMIMPIN YANG MEMBAWA ADZAB

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati Pemimpin –pemimpin dan pembesar-pembesar kami Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) Ya Tuhan kami, timpahkanlah kepada mereka adzab Dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar. (QS Al Ahzab[33]:67-68) Read More…

Posted by: jashtiser | April 25, 2009

Bagaimana Islam Menyikapi Demokrasi

Diringkas dan disarikan dari Mushtholahât wa Mafâhîm karya Syaikh `Abdul Âkhir Hammâd al-Ghunaimî hafizhahullâhu.
Risalah ini adalah sebuah diskusi ilmiah seputar permasalahan demokrasi dan bagaimana sikap Islam terhadapnya. Yang mendorong saya menulis risalah ini adalah adanya artikel-artikel yang ditulis oleh al-Ustadz Fahmî Huwaidî (salah seorang kolumnis dan penulis senior dan terkenal di Mesir, pen.) yang mengajak untuk berkompromi dengan demokrasi, ketimbang menentang dan mengabaikannya.
Awal mulanya, ada salah satu artikelnya yang menunjukkan bahwa dirinya menganggap Islam itu dizhalimi ketika ada yang beranggapan bahwa Islam itu bertentangan dengan Demokrasi, dan pada akhirnya, artikelnya tersebut menunjukkan pengingkarannya terhadap aktivis muslim yang menolak demokrasi dan menganggap penolakan mereka ini sebagai suatu hal yang syâdz (aneh/ganjil) terhadap seruan Islam secara umum.
Oleh sebab isu demokrasi ini merupakan salah satu hal yang tengah diperbincangkan di dunia Islam dan banyak sekali perdebatan mengenainya akhir-akhir ini, disamping juga adanya orang yang memutlakkan pendapatnya bahwa Islam itu identik dengan sistem demokrasi, bahkan mereka beranggapan bahwa menentang demokrasi itu adalah suatu hal yang syâdz, maka hal ini perlu dikritisi dan dijelaskan. Saya memandang perlunya untuk membantah beberapa hal yang cukup urgen di sini, yang terangkum dalam beberapa poin berikut ini :
1.Penjelasan sikap yang syar’î terhadap demokrasi beserta bukti dan dalil-dalilnya.
2.Penjelasan bahwa sikap menolak demokrasi ini apakah termasuk sikap yang diserukan kaum muslimin secara umum ataukah sikap yang aneh/ganjil
3.Demokrasi itu merupakan sisi lain dari kediktatoran.
Sikap yang syar’î terhadap demokrasi
Tatkala Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah ditanya tentang pasukan Tatar (Mongol), beliau menjelaskan bahwa hukum kepada mereka dibangun di atas dua pondasi, yaitu : pertama, mengetahui perihal/keadaan mereka, dan kedua, mengetahui hukum Alloh terhadap orang semisal mereka. (Majmû’ Fatâwâ 28:554)
Sejatinya, metoda yang ditempuh oleh Syaikhul Islâm ini adalah Read More…

Posted by: jashtiser | April 1, 2009

ADAB TERHADAP KEDUA ORANG TUA

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Seorang Muslim tentu mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya dan kewajiban berbakti, menaati dan berbuat baik terhadap keduanya. Bukan hanya karena mereka berdua menjadi sebab keberadaannya, atau karena mereka telah berbuat baik terhadapnya dan memenuhi kebutuhannya, atau karena mereka adalah manusia paling berjasa dan utama bagi dirinya, akan tetapi lebih dari itu karena Allah Ta’ala telah menetapkan kewajiban atas anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, bahkan perintah tersebut penyebutannya disertakan dengan kewajiban hamba yang paling utama yaitu kewajiban beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan tidak menyekutukanNya. Firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23) Read More…

Posted by: jashtiser | March 26, 2009

SEMPURNAKAN SHALATMU DENGAN KHUSYU’

Shalat menurut pandangan islam merupakan bentuk komunikasi manusia dengan tuhan-Nya. Komunikasi ini dimaksudkan untuk bertawajjuh (megnhadap) sungguh-sungguh dan ikhlas kepada Allah SWT. Di sampingping itu, shalat dimaksudkan juga untuk meneguhkan keesaan Allah, tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah dan larangan-Nya.

Shalat sesungguhnya juga merupakan cermin keimanan bagi seorang mukmin. Ia merupakan sentuhan kasih sayang, sentuhan yang lembut yang mampu membuka hati, dan menembus Dzat Yang Maha Tinggi. Maka tujuan yang dimaksud dari shalat bukan sekedar gerakan-geraka badan, tetapi tujuan yang hakiki adalah adanya keterkaitan hati dengan Allah SWT. Itulah pelaksanaan shalat yang hakiki dan sempurna. Read More…

Bagaimanakah peranan agama dalam menentukan sebuah ideologi sebuah negara? Apakah agama benar-benar menjadi suatu dasar landasan dalam membuat suatu aturan bagi sebuah negara? Nah, inilah beberapa pertanyaan yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, khususnya di negara kita yang mayoritas islam. Pada hakikatnya pemikiran mendasar tentang kehidupan adalah pemikiran menyeluruh (fikrul kulliyah) tentang alam semesta, manusia, kehidupan, dan tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah kehidupan dunia serta hubungan antara kehidupan dunia dan sesudahnya (An Nabhani, 1953). Oleh karena itu, pembahasan hubungan agama dan negara harus berdasar pada hal tersebut sebagai pemikiran cabang yang lahir dari pemikiran mendasar tersebut. Mari kita lihat Ideologi-ideologi (aqidah) yang ada didunia yang digunakan sebagai dasar negara. 1. Ideologi Materialisme Ideologi materialisme (Al Maaddiyah) menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Tidak ada Tuhan, tidak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Materilah asal usul segala sesuatu. Materi merupakan dasar eksistensi segala macam pemikiran (Ghanim Abduh, 1964). Atas dasar paham materialisme itu, dengan sendirinya agama tidak mempunyai tempat dalam sosialisme. Sebab agama berpangkal pada pangkuan eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis-matrealis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi (lihat Karl Heinrich Marx, Contribution to the critique of Hegel Philosophi of right). 2. Ideologi Kapitalisme Ideologi kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashluddin ‘anil hayah), atau sekularisme. Paham ini tidak menafikan agama secara mutlak, namun hanya membatasi perannya dalam mengatur kehidupan. Keberadaan agama memang diakui walaupun hanya sebagai formalitas, namun agama tidak boleh mengatur segala aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Agama hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya sedangkan untuk hubungan antara manusia itu diatur oleh manusia itu sendiri Zallum, 1993). Berdasarkan paham kapitalisme, formulasi hubungan antara agama-negara dapat disebut dengan hubungan yang separatif, yaitu suatu pandangan yang berusaha memisahkan agama dari aspek kehidupan. Agama hanya berlaku dalam hubungan secara individual antara manusia dengan tuhannya, atau berlaku secara amat terbatas dalam interaksi sosial sesama manusia. 3. Aqidah Islamiyah Aqidah islamiyah adalah iman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari akhir dan Taqdir (Qadar) Allah. Aqidah ini merupakan dasar ideologi islam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum islam yang mengatur kehidupan manusia. Aqidah islamiyah menetapkan bahwa keimanan harus terwujud dalam keterikatan terhadap hukum syara’, yang cakupannya adalah segala aspek kehidupan, dan bahwa pengingkaran sebahagian saja dari hukum islam (yang terwujud dalam sekulerisme) adalah suatu kebatilan dan kekafiran yang nyata. Allah SWT berfirman : “Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’ : 65) “Barangsiapa yang tidak memberi keputusan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maa’idah : 44) Berdasarkan ini, maka seluruh hukum-hukum islam tanpa kecuali harus diterapkan kepada manusia, sebagai konsekuensi adanya iman atau Aqidah Islamiyah. Dan karena hukum-hukum islam ini tidak dapat diterapkan secara sempurna kecuali dengan adanya institusi negara, maka keberadaan negara dalam islam adalah suatu keniscayaan. Karena itu, formulasi hubungan agama-negara dalam pandangan islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam arti bahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sempurna dan bahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama. Agama tak dapat dipisahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalam konstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Imam Al Ghazali dalam kitabnya AL Iqtishad fil I’tiqad halaman 199 berkata : “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga nicaya akan hilang lenyap.” Ibnu Taimiyah juga dalam Majmu’ul Fatawa juz 28 halaman 394 menyatakan : “Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” Apakah kebaikan atau kerusakan kah yang akan terjadi dinegara kita itu tergantung kepada kita semua. Lalu apakah kontribusi yang dapat kamu lakukan untuk melakukan perbaikan? Wallahu’alam bi showab. source by gaulislam.com

Posted by: Heri Setiawan | August 30, 2008

Sahur dan Keutamaannya

1. Hikmahnya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab.

Dari Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur” [Hadits Riwayat Muslim 1096]

2. Keutamaannya

[a] Makan Sahur Adalah Barokah.
Dari Salman Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barokah itu ada pada tiga perkara : Al-Jama’ah, Ats-Tsarid dan makan Sahur”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah menjadikan barokah pada makan sahur dan takaran”

Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Aku masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang makan sahur, beliau bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya makan sahur adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan” [Hadits Riwayat Nasa’i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya SHAHIH]
Keberadaan sahur sebagai barakah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan dalam puasa, menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa.

Read More…

Older Posts »

Categories