<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Di Jalan Da'wah Kami Melangkah</title>
	<atom:link href="http://jashtismedia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jashtismedia.wordpress.com</link>
	<description>Unit Kerohanian Islam STMIK AMIKOM Yogyakarta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 May 2011 09:19:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jashtismedia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Di Jalan Da'wah Kami Melangkah</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jashtismedia.wordpress.com/osd.xml" title="Di Jalan Da&#039;wah Kami Melangkah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jashtismedia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>RAMADHAN KALI INI, TIDAK BOLEH SAMA</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/08/28/ramadhan-kali-ini-tidak-boleh-sama/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/08/28/ramadhan-kali-ini-tidak-boleh-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 16:56:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jashtiser</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/2009/08/28/ramadhan-kali-ini-tidak-boleh-sama/</guid>
		<description><![CDATA[Menghiasi Ramadhan dengan amalan istimewah harus menjadi agenda umat islam di bulan ini. Jangan sampai Ramadhan kali ini berlalu dengan penyesalan di dalam hati. Oleh Edy Nasrullah Dahulu, ketika umat islam sampai di penghujung sya’ban, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam (SAW) berkhutbah, “Telah datang bulan yang mulia, dan penuh barakah. Didalamnya terdapat malam yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=175&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghiasi Ramadhan dengan amalan istimewah harus menjadi agenda umat islam di bulan ini. Jangan sampai Ramadhan kali ini berlalu dengan penyesalan di dalam hati. Oleh Edy Nasrullah</p>
<p>Dahulu, ketika umat islam sampai di penghujung sya’ban, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam (SAW)  berkhutbah, “Telah datang bulan yang mulia, dan penuh barakah. Didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan”. Di bulan itu, puasa menjadi kewajiban, bangun malam terus dilakukan. Satu kewajiban yang dikerjakan nilainya sama dengan mengerjakan 70 kewajiban.<span id="more-175"></span><br />
Inilah bulan kesabaran. Bulan bertambahnya rezeki bagi seorang mukmin. Bulan penuh ampunan. Bulan yang membebaskan kaum Muslimin. Di bulan Ramadhan ini, umat islam diwajibkan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Apakah kita menjadi umat yang tak bertenaga? Siapa bilang?<br />
Pada 17 Ramadhan tahun kedua hijriah, umat islam berperang melawan kaum kuffar dengan penuh semangat. Dalam perang itu kaum kuffar Quraisy berkekuatan 1000 tentara. Sekitar 300 tentara berkuda, dan 700 lainnya naik unta. Mereka menggenggam senjata yang kucup lengkap, ditambah dengan logistik yang sangat memadai.<br />
Sebaliknya kaum muslimin hanya berkekuatan 313 tentara, mengendarai hanya dua  ekor kuda dan 70 untah yang ditunggangi secara bergantian. Sedang senjata yang dibawa seadanya dan logistiknya pun ala kadarnya.<br />
Jumlahnya kecil, berpuasa pula. Tapi ternyata dengan puasa itu, mata hati betul-betul melihat keagungan Ilahi. Bukan lagi gemerlap keduniaan yang mereka saksikan, tetapi keagungan Ilahi Rabbi. Ketika berperang, seluruh organ tubuh masing-masing umat islam hanya menyerukan Asma Allah.<br />
Meski  jumlah mereka tiga ratusan, tapi kekuatan perangnya seperti berjumlah tiga ribu orang. Bahkan ditambah lagi dengan lima ribu malaikat yang memberi bantuan, sebagaimana ditulis dengan firman agung-Nya. “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”(QS Ali Imran: 123)<br />
Di bulan ramadhan pula sepuluh ribu umat islam berbonding-bondong memasuki kota Mekkah bersama Rasulullah pada tanggal 10 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah, mereka menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Peristiwa ini terkenang dengan istilah Fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah,-red). Bukankah ini pertanda bahwa puasa Ramadhan sama sekali tidak menjadikan seseorang lemah?<br />
Qiyamullail<br />
Bulan ramadhan tidak menjadikan seseorang tidak berdaya. Justru manjadikan penuh semangat, mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan ridha-Nya. Seperti yang dilakukan sahabat Umar bin Khattab, ketika sepertiga malam tiba dia bangun, mengajak keluarganya melaksanakan shalat malam.<br />
Sahabat Utsman ibn Affan punya kebiasaan unik. Pernah suatu ketika, Utsman kehilangan kesadarannya saat shalat malam karena saking khusyu’nya, dan betul-betul menghayati bacaan Al-Qur’an. Baru satu rakaat, Utsman sudah membaca seluruh ayat Al-Qur’an hingga khatam, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hatim.<br />
Begitu pula halnya dengan Manshur bin Al-Mu’tamir. Jika malam yang semakin larut menjelang, dia langsung mengenakan pakaian terbaiknya lalu naik ka atap rumahnya untuk shalat malam.<br />
Tak ketunggalan juga Sufyan ats-Tsauri. Abdul Razaq, salah seorang muridnya, menceritakan, gurunya itu pernah mendatanginya selepas isya, lalu Razaq menghidangkan makanan berupa kismis dan pisang. Setelah selesai, ia bangkit berwudhu, mengencangkan ikat pinggangnya, dan menghadap kiblat. Lalu sang guru berkata, “Wahai Abdul Razak, beri makan keledai!” selanjutnya dia meluruskan kakinya dan shalat hingga subuh menjelang.<br />
Mereka semua melakukan ini karena teringat akan pesan Allah, bahwa pada sebagian malam, umat islam dianjurkan untuk bertahajud sebagai suatu ibadah tambahan untuk mendapatkan tempat yang terpuji di sisi Allah. “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”(QS al Isra’:79)<br />
Di dalam ayat lain, Allah menegaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, yaitu mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”(QS adz Dzaariyaat: 15-18)<br />
Rasulullah sendiri menegaskan bahwa shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam. (Muttafaq ‘alaiih) Setidaknya bisa diketahui, bahwa kemuliaan didapat bagi mereka yang pada malam hari di bulan Ramadhan meluangkan waktu untuk bangun, bermunajad kepada Allah, dan melaksanakan shalat.<br />
Membaca Al-Qur’an<br />
Selain qiyamullail, ibadah membaca al-Qur’an memiliki posisi khusus di bulan Ramadhan, karena di bulan inilah al-Qur’an diturunkan pertama kali, sebagaimana dijelaskan Allah sendiri. (QS: 2: 185). Dan salah satu sebutan lain bulan Ramadhan adalah Syahrul Qur’an atau bulan diturunkannya al-Qur’an.<br />
Pahala membaca al-Qur’an pun bukan main besarnya. Betapa tidak, satu huruf dibaca satu pahala diraih. “Barang siapa membaca satu huruf kitab huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya,”jelas Rasulullah,”Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.”(HR. At-Tirmidzi)<br />
Dengan besarnya pahala itu, besar pula kesempatan untuk semakin dengan Allah. Karena itulah para sahabat, tabi’in, dan ulama banyak yang berkali-kali khatam al-Qur’an pada bulan Ramadhan.<br />
Utsman bin Affan misalnya. Setiap hari kedua bibirnya tiada henti melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, hingga setiap hari dia selalu khatam. Ibrahm an-Nakha’i, cucu Abdullah bin Mas’ud, jika sudah memasuki hari sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, dia mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam.<br />
Imam malik memiliki kebiasaan memaksimalkan kemuliaan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Caranya, selama bulan Ramadhan, Imam Malik menutup rapat semua kitab, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain. “Bulan ini adalah Ramadhan , bulannya al-Qur’an,” ujar beliau sambil menunjukkan mushafnya.<br />
Muridnya, Imam Syafi’i khatam sebanya enam puluh kali selama Ramadhan. Itu dilakukan di luar bacaan al-Qur’an ketika shalat pasti lebih banyak lagi.<br />
Adalah tidak afdhal rasanya kalau di bulan Ramadhan tidak menghatamkan al-Qur’an. Bahkan, sebagaimana Ibnu Rajab, seorang alim dan pakar fikih mazhab hanbali, mengatakan, “Orang yang biasa khatam al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka setidaknya, kurang dari tiga hari pasti sudah khatam.”<br />
Bersedekah<br />
Di saat Ramadhan datang, Rasulullah tidak hanya mengimbau kepada umat islam untuk melakukan ibadah ritual saja. Ibadah yang bernilai sosial pun menjadi imbauannya agar dilaksanakan oleh umat Islam. Dalam hal ini, Rasulullah mengimbau umat islam untuk bersedekah, karena,”Seutama-utamanya sedekah adalah bulan Ramadhan.”(HR Tirmidzi)<br />
Mendengar imbauan tersebut, para sahabat berlomba-lomba untuk bersedekah. Umar bin Khattab misalnya, langsung membawa separuh hartanya untuk sedekah. Sebelum menerima sedekahnya, Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluarga di rumah?” kemudian Umar menjawab harta sejumlah yang dia sedekahkan.<br />
Tidak mau ketinggalan, Abubakar Shiddiq langsung memboyang seluruh hartanya untuk disedekahkan. Rasul pun tercengang melihat hal itu, dan bertanya, apa yang ditinggalkannya untuk keluarga. Dengan penuh percaya diri, Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya. “Ketika melihat sedekah Abubakar, Umar mengakui tidak bisa bersedakah lebih banyak lagi.<br />
Kisah Thalhah bin ubaidillah juga patut dijadikan hikmah. Suatu ketika dia bertatap muka dengan istrinya dengan wajah yang kusut. Entah apa gerangan yang dia hadapi, yang jelas sang istri menyimpan kecurigaan, pasti ada masalah yang dihadapi. Maka dia langsung bertanya ada apa gerangan. Setelah beberapa saat, Thalhah mengungkapkan bahwa hartanya sudah terlalu banyak menumpuk, dan bingung harus diapakan.<br />
Mendengar pernyataan itu, sang istri langsung memberikan saran untuk menyedekahkan hartanya. Dan thalhah langsung menyedekahkan semua hartanya sejumlah empat ratus dirham.<br />
Ada juga sedekah yang yang tidak dengan harta seperti yang dilakukan oleh salafus shalih semisal Abdullah bin Umar, Daud at-Thai, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hanbal. Mereka bersedekah dengan memberi makan saat buka puasa tiba. Abdullah bin Umar terutama, acap kali berbuka puasa bersama anak-anak yantim dan fakir miskin.<br />
Ada juga yang menyediakan makanan yang digemari para tamu, seperti yang dilakukan Hasab al-Bashri dan Ibnu al-Mubarak. Ketika buka puasa, mereka beramah tamah dan menyambut para tamunya dengan gembira.<br />
Sekelompok umat islam dari Bani Adi selalu berbuka puasa bersama-sama. Jika tidak ada orang yang berbuka puasa dengan mereka, mendatangi masjid, mengajak jamaah untuk berbuka puasa bersama mereka.<br />
Semua amalan sedekah ini mereka lakukan dengan penuh keikhlasan, karena mereka tahu, pada bulan-bulan biasa saja, pahalanya itu tujuh kali lipat, dan setiap kelipan dikalikan lagi seratus kali lipat. “Perumpamaan  (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang menafkahkan hatanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran)bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(QS al Baqarah:261) Jika pada hari-hari biasa saya, balasan yang diberikan sedemikian rupa, apa lagi di bulan Ramadhan yang mulia seperti Ramadhan. Pasti jauh lebih besar.<br />
Ini hanyalah sepotong amalan dari amalan yang bayak jenisnya yang biasa sahabat, tabi’in, dan ulama lakukan pada bulan Ramadhan. Tiada lain yang mereka tuju dengan amalan tersebut kecuali kesucian diri agar senantiasa dekat di sisi Ilahi Rabbi. Semoga umat islam sekarang ini mampu melakukan amaliah tersebut seperti yang pernah mereka lakukan.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=175&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/08/28/ramadhan-kali-ini-tidak-boleh-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jashtiser</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMIMPIN YANG MEMBAWA ADZAB</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/07/24/pemimpin-yang-membawa-adzab/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/07/24/pemimpin-yang-membawa-adzab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 14:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jashtiser</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati Pemimpin –pemimpin dan pembesar-pembesar kami Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) Ya Tuhan kami, timpahkanlah kepada mereka adzab Dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar. (QS Al Ahzab[33]:67-68) Hujjatul islam Imam Al Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=172&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati Pemimpin –pemimpin dan pembesar-pembesar kami Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) Ya Tuhan kami, timpahkanlah kepada mereka adzab Dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar. (QS Al Ahzab[33]:67-68)<span id="more-172"></span></p>
<p>Hujjatul islam Imam Al Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi dengan pemimpin yang zalim. “Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu, jangan memuji-muji merek, karena Allah sangat murka ketiaka ketika prang fasik dan zalim dipuji. Dan barang siapa mendoakan mereka panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai di muka bumi.” Tak hanya tentang pertemuan, bahkan Imam al Ghazali mengeluarkan larangan menerima pemberian dari penguasa yang zalim. “Jangan menerima apa-apa pemberian dari golongan yang besar, meski kamu tahu pemberian itu bersumber dari yang halal. Sebabm sikap tamak mereka akan merusak agama. Pemberian itu akan menimbulkan rasa simpati jika diterima (jika diterima). Lalu kamu akan mulai menjaga kepentingan mereka dan berdiam diri atas kezaliman yang mereka lakukan. Dan itu semua akan merusak agama.” Peringantan usulan juga diungkapkan. Sekecil-kesilnya mudharat ketika seseorang menerima hadiah dari penguasa adalah, akan muncul rasa sayang terhadap mereka. “seterusnya kami akan mendoakan mereka kekal dan lama diatas kedudukannya. Mengharapkan orang yang zalim lama berkuasa sama seperti mengharapkan kezaliman berkepanjangan atas hamba-hamba Allah dan alan akan musnah binasa.” Jika sudah demikian, imam al Ghazali mengajukan pertanyaan yang luar biasa menyeramkan. “Apa lagi yang lebih buruk dibanding kerusakan agama?” Setiap penguasa, selalu memiliki kemungkinan untuk berbuat zalim, kecuali penguasa yang beriman kepada Allah, berteman dan dikeliling orang-orang yang beriman pula. Mereka saling mengingatkan dan memberi nasehat, hanya demi kebaikan, dan bukan untuk kepentingan. Tapi ketika seorang penguasa dikelilingi orang-orang yang busuk dan jahat, maka kezaliman hanya tinggal menunggu waktu untuk dirasakan. Dan ketika itu semua terjadi, kerusakan akan merajalela, kehancuran di depan mata, menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran dan menjadikan kesesatan sebagai panutan. Karena itu, pemimpin yang zalim masuk menjadi salah satu golongan yang paling dibenci oleh Allah SWT. Rasulullah bersabda, “ada empat golongan yang paling Allah benci. Pedagang yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina dan seorang (penguasa) pemimpin yang zalim.”(HR. An-Nisa) Bahkan, Rasulullah memberikan penegasan sanksi atas para pemimpin yang zalim. Dalam sahih Bukah ri Muslim disebutkan, Rasulullah bersabda, “Tidaklah ada seorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk pemimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya, kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.” Alangkah ruginya para pemimpin seperti ini. Dan langkah malangnya umat dan rakyatnya yang mendapat pemimpin seperti ini. Ketika seorang pemimpin zalim berkuasa, maka yang bertanggung jawab bukan hanya para pelaku kekuasaan; raja, kaisar, presiden bahkan gubernur dan kepala desa. Uamat dan rakyat pun akan bertanggung jawab memikul beban penguasa yang zalim. Ibnu Taimiyyah dalam karyanya siasah Syari’iyah mengutip sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahamad. “barangsiapa yang mengangkat seseorang (pemimpin) untuk mengurusi perkara kaum Muslimin sementara dia mendapati ada seorang yang lebih layak dari pada orang yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat pada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Dalam hadist lain yang diriwayatkan dari sahabat Jabir ra, Rasulullah juga menegaskan bahwa mereka yang memilih pemimpin dengan pamrih duniawi maka Allah tidak akan menyapa orang-orang seperti ini di akahirata nanti. “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka adalah; orang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir namun tidak mau memberikannya kepada orang yang berada di tengah perjalanan, orang menawarkan barang dagangan kepada orang lain setelah Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia telah membelinya sekian dan sekian sehingga lawannya mempercayainya, padahal sebenarnya tidaklah demikian; dan seseorang yang mengikrarkan kepada tuhannya kecuali untuk kepentingan dunia (harta), bila sang pemimpin membrinya ia akan patuh dan tidak memberinya ia tidak akan mematuhinya.” Jauh-jauh hari, sesungguhnya Allah telah melakukan proteksi agar kita tak memiliki kecenderungan hati pada orang-orang yang zalim. Sebab, kecenderungan itu akan mengantarkan kita pada azab yang pedih. “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu di sentu api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyaiseorang penolong pun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolangan.” (QS Huud [11]: 113) Sungguh, seorang pemimpin sejatinya adalah sebuah perisai, rakyat akan berperang dibelakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk bertakwa kepada Allah azza wajallah seeta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun boila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.” (HR Muslim) Pemimpin dan yang dipimpin adalah mata rantai yang tak terpisahkan. Pemimpin lahir dari dan terpilih oleh orang-orang yang akan dipimpin. Ketika seorang pemimpin bersalah, maka bersalah pula mereka yang memilihnya. Ketika seorang pemimpin berbuat zalim, maka mereka yang memilih juga akan menaggung akibatnya. Sungguh bukan pekerjaan ringan untuk menjaga dan menghalang-halangi para pemimpin agar tidak berbuat zalim. Orang-ornag yang dipimpin harus menjaga para pemimpin dengan cara memastikan bahwa kepala negara melakukan kewajiban-kewajiban besarnya. Kewajiban pemimpin negara adalah menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, menerapkan hukum syariat, dan bahkan kewajiban personal untuk tidak melakukan maksiat. Umar bin Khattab ra lebih tegas lagi mengatakan, tugas seorang pemimpin adalah menjaga agama. “pemimpin diangkat untuk menegakkan agama Allah, “kata Umar bin Khattab. Jika kita mampu menjaga para pemimpin yang terpilih, menjadi para pemimpin yang menegakkan agama Allah, menjaga akidah umatnya, memberantas kezaliman dan menerapkan syariat, sungguh negeri ini ibarat potongan surga di dunia. Apalagi Rasulullah bersabda bahwa menasehati para pemimpin untuk taat kepada Allah, adalah salah satu perilaku yang mengandung ridho-Nya. “Sesungguhnya Allah ridha terhadap tiga perkara dan membenci tiga perkara. Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, berpegang teguhlah pada tali-Nya dan menasehati para pemimpin. Dan Allah membeci pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya.” Ada beberapa hal yang membuat pemimpin tergelincir pada perilaku zalim. Yang paling berbahaya adalah, ketika seorang menuruti hawa nafsu dan mengejar kesengan dunia. Kemudian, kolusi dan nepotisme yang tidak sesuai dengan aturan kebenaran. Para penasehat yang buruk dan teman yang jahil, juga mampu menggelincirkan para pemimpin. Jika orang-orang yang lemah dan kaum kuffar dijadiakan sebagai pembantu, kehancuran tinggal menunggu waktu. Rela dan mudah terpengaruh pada tekanan internasioanal, juga menjadi penyebab pemimpin berlaku zalim. Tugas umat, belum lagi selesai. Setelah terpilih, para pemimpin harus terjaga. Jika tidak, kita juga yang akan merasakan azab dan akibatnya. Sebab, keadilan seorang pemimpin adalah penawar dahaga bagi umatnya dan lebih dari ibadah ritual yang dilakukannya. “keadilan seorang pemimpin walaupun sesaat jauh lebih baik dari pada tuju puluh tahun beribadah,” demikian sabda Rasulullah. (HR Thabrani) Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, maka sunggu keadaan yang akan menimpa. “Yang aku takuti pada umatku adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan,” sabda rasulullah. (HR Abu Dawud) Jika pemimpin-pemimpin sesat telah memimpin sesat telah memimpin, maka manusia akan berada dalam penyesalan yang tiada tara seperti yang digambarkan Allah dalam firman-Nya. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS al Ahzab [33]:66) Dan ketika kita sampai pada tahap itu, penyesalan paling besar pun tak akan berarti. Semoga kita adalah umat yang terbaik, dengan pemimpin-pemimpin yang shalih dan muslih. Bukan sebaliknya, umat yang dipimpin para penguasa yang zalim dan bathil. Semoga pemimpin kita tidak seperti patah tongkat yang membawa rebah!.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=172&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/07/24/pemimpin-yang-membawa-adzab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jashtiser</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Islam Menyikapi Demokrasi</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/04/25/bagaimana-islam-menyikapi-demokrasi/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/04/25/bagaimana-islam-menyikapi-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 18:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jashtiser</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/2009/04/25/bagaimana-islam-menyikapi-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[Diringkas dan disarikan dari Mushtholahât wa Mafâhîm karya Syaikh `Abdul Âkhir Hammâd al-Ghunaimî hafizhahullâhu. Risalah ini adalah sebuah diskusi ilmiah seputar permasalahan demokrasi dan bagaimana sikap Islam terhadapnya. Yang mendorong saya menulis risalah ini adalah adanya artikel-artikel yang ditulis oleh al-Ustadz Fahmî Huwaidî (salah seorang kolumnis dan penulis senior dan terkenal di Mesir, pen.) yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=154&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diringkas dan disarikan dari Mushtholahât wa Mafâhîm karya Syaikh `Abdul Âkhir Hammâd al-Ghunaimî hafizhahullâhu.<br />
Risalah ini adalah sebuah diskusi ilmiah seputar permasalahan demokrasi dan bagaimana sikap Islam terhadapnya. Yang mendorong saya menulis risalah ini adalah adanya artikel-artikel yang ditulis oleh al-Ustadz Fahmî Huwaidî (salah seorang kolumnis dan penulis senior dan terkenal di Mesir, pen.) yang mengajak untuk berkompromi dengan demokrasi, ketimbang menentang dan mengabaikannya.<br />
Awal mulanya, ada salah satu artikelnya yang menunjukkan bahwa dirinya menganggap Islam itu dizhalimi ketika ada yang beranggapan bahwa Islam itu bertentangan dengan Demokrasi, dan pada akhirnya, artikelnya tersebut menunjukkan pengingkarannya terhadap aktivis muslim yang menolak demokrasi dan menganggap penolakan mereka ini sebagai suatu hal yang syâdz (aneh/ganjil) terhadap seruan Islam secara umum.<br />
Oleh sebab isu demokrasi ini merupakan salah satu hal yang tengah diperbincangkan di dunia Islam dan banyak sekali perdebatan mengenainya akhir-akhir ini, disamping juga adanya orang yang memutlakkan pendapatnya bahwa Islam itu identik dengan sistem demokrasi, bahkan mereka beranggapan bahwa menentang demokrasi itu adalah suatu hal yang syâdz, maka hal ini perlu dikritisi dan dijelaskan. Saya memandang perlunya untuk membantah beberapa hal yang cukup urgen di sini, yang terangkum dalam beberapa poin berikut ini :<br />
1.Penjelasan sikap yang syar’î terhadap demokrasi beserta bukti dan dalil-dalilnya.<br />
2.Penjelasan bahwa sikap menolak demokrasi ini apakah termasuk sikap yang diserukan kaum muslimin secara umum ataukah sikap yang aneh/ganjil<br />
3.Demokrasi itu merupakan sisi lain dari kediktatoran.<br />
Sikap yang syar’î terhadap demokrasi<br />
Tatkala Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah ditanya tentang pasukan Tatar (Mongol), beliau menjelaskan bahwa hukum kepada mereka dibangun di atas dua pondasi, yaitu : pertama, mengetahui perihal/keadaan mereka, dan kedua, mengetahui hukum Alloh terhadap orang semisal mereka. (Majmû’ Fatâwâ 28:554)<br />
Sejatinya, metoda yang ditempuh oleh Syaikhul Islâm ini adalah<span id="more-154"></span> metoda yang wajib kita tiru di dalam semua keadaan disertai dengan pemaparan hukum syar’î tentangnya. Oleh karena itu, kita juga mengatakan di dalam permasalahan yang tengah kita bahas ini, bahwa kita harus mengetahui tentang seluk beluk demokrasi, baik konsep dan praktisnya, kemudian berangkat dari hal ini kita dapat mengetahui hukum Alloh tentangnya dari nash-nash syari’at yang lurus.<br />
Apakah Demokrasi itu?<br />
Sesungguhnya, suatu hal yang telah diketahui oleh setiap pelajar pemula yang mempelajari studi pemikiran politik, bahwa demokrasi itu berasal dari derivasi dua kata Yunani, yaitu Demos yang berarti rakyat (arab : asy-Sya’b) dan Kratas yang berarti kekuasaan (arab : as-Sulthoh). Jadi arti demokrasi adalah yang berwenang/memiliki kekuasaan untuk menentukan suatu hukum adalah rakyat.<br />
Bangsa yang pertama kali menerapkan demokrasi adalah bangsa Greek (Yunani) yang mereka menyebutnya dengan pemerintahan kota (sipil) yang dilaksanakan di kota Athena dan Sparta, dimana setiap individu masyarakat dari kalangan laki-laki turut berperan serta di dalam menentukan hukum terhadap segala sesuatu, seperti di dalam pemilihan penguasa, membuat undang-undang dan lain sebagainya. inilah bentuk sistem demokrasi yang pertama, yaitu berjalan secara langsung dimana setiap individu dapat turut serta secara langsung di dalam menelorkan sebuah hukum atau peraturan, tanpa perlu memilih dewan perwakilan untuk mewakili mereka.<br />
Bentuk sistem demokrasi ini telah berakhir dalam waktu singkat, seiring dengan berakhirnya pemerintahan kota di Athena dan Sparta. Akan tetapi ide dan pemikiran demokrasi masih tetap terjaga di memori sejarah sampai abad renaissance (kebangkitan) di Eropa, khususnya pasca revolusi Perancis, dimana bangsa Eropa mulai melakukan perombakan dan perubahan dari keadaannya yang berada di bawah cengkeraman kerajaan dan kezhaliman gereja. Perubahan tersebut adalah dengan mulainya mereka mengekstraksi sistem demokrasi dari perbendaharaan sejarah. Hal ini oleh sebab mereka tidak memiliki konsep agama yang benar sehingga mereka dapat berhukum dengannya.<br />
Kemudian mulailah dilakukan beberapa revisi terhadap bentuk demokrasi yang pertama, sehingga menjadi sistem demokrasi yang tidak langsung. Maksudnya, rakyat harus memilih dewan perwakilan untuk mewakilinya di dalam menentukan hukum dan pembuatan undang-undang/ legislasi. Kemudian ada juga (yang dalam perkembangannya) menjadi sistem demokrasi semi-langsung, artinya rakyat tetap memilih dewan perwakilan untuk mewakili aspirasinya, namun selain itu dirinya masih memiliki hak untuk menyalurkan aspirasinya terhadap kebijakan penguasa melalui referendum publik atau yang semisalnya.<br />
Konsekuensinya adalah, eksisnya partai-partai politik yang saling berkompetisi untuk meraih kemenangan dengan cara menggalang suara terbanyak, agar dapat mencapai kursi kekuasaan. Selain itu juga diperkenalkan sejumlah jaminan dan hak-hak yang menjamin kebebasan setiap individu, diantaranya adalah hak politik di dalam memberikan suara, mencalonkan diri di dalam majelis parlemen, kantor publik dan selainnya. Namun, substansi dari demokrasi adalah tetap, sebagaimana demokrasi merupakan derivat dari bahasa aslinya, yaitu rakyatlah yang membuat undang-undang dan legislasi, baik secara langsung maupun tidak.<br />
Ketetapan di dalam sistem perundangan demokrasi, selaras dengan apa yang ditetapkan oleh para pengamat politik bahwa seharusnya dewan perwakilan itu dianggap sebagai representasi kehendak rakyat, akan tetapi sering kali hal ini tidak dapat terjadi, atau seperti dalam uraian al-Ustâdz al-Maudûdî tetang pemilu di negara barat :<br />
“Pemilu ini tidak akan sukses, kecuali dengan menipu manusia, memperdaya akal dan hati mereka dengan harta, pengetahuan, kecerdasan dan propaganda palsu… kemudian mereka yang sukses terpilih, berubah menjadi tuhan-tuhan bagi mereka, yang mensyariatkan undang-undang sekehendak mereka, bukan untuk kemaslahatan orang banyak, namun untuk kepentingan pribadi dan keuntungan partainya. Ini sungguh merupakan penyakit akut yang menjangkiti negara Amerika, Inggris dan seluruh negeri yang hari ini menyebutnya sebagai surga demokrasi.” (Nazhoriyah al-Islâm as-Siyasiyah hal. 18).<br />
Demikianlah yang terjadi di dalam demokasi pada bentuk asalnya, apabila kita berpindah kepada sistem demokrasi dalam versinya yang palsu, maksud saya adalah sistem demokrasi yang timpang yang lazim terjadi pada negeri kaum muslimin, sejatinya hanyalah kedok untuk menutupi hukum diktatorisme dan kesewenang-wenangan mereka. Kita akan mengungkap bahwa esensinya adalah tetap sama-sama demokrasi, yaitu manusia-lah yang mensyariatkan hukum kepada manusia lainnya. Dewan Perwakilan Rakyat di Mesir contohnya, yang memiliki kewenangan legislatif sebagaimana tercantum pada pasal 86 dari konstitusinya, tertulis : “Demokrasi adalah kedaulatan tertinggi rakyat.”<br />
Sama juga dengan majelis parlemen di negeri ini, mereka membuat undang-undang menurut kehendak anggotanya secara bebas/merdeka atau dari pemerintah yang mendiktenya. Hasilnya tetap satu, yaitu bahwa manusia-lah diberikan hak untuk membuat legislasi dan meletakkan undang-undang.<br />
Setelah paparan di atas yang menjelaskan arti demokrasi, sisi historis dan realitasnya, maka kami dapat menjelaskan hukum syar’î di dalamnya, yang terangkum dalam beberapa hal di bawah ini :<br />
Pertama : Masalah Tasyrî’ (Legislasi/Perundan g-undangan)<br />
Esensi dari demokrasi menurut kami adalah : memberikan hak tasyrî’ (legislasi) kepada manusia dan manusia berhak membuat hukum bagi diri mereka sendiri menurut kehendak dan keinginan mereka. Kemampuan untuk membuat legislasi ini menurut kami adalah pasti ada di dalam seluruh bentuk sistem demokrasi.<br />
Masalah legislasi ini merupakan substansi perbedaan antara Islam dengan demokrasi. Islam secara tegas dan terang-terangan menyatakan bahwa hak legislasi itu adalah murni hak Alloh semata. Yang haram adalah apa yang diharamkan Alloh dan yang halal adalah apa yang dihalalkan Alloh. Masalah ini bukanlah permasalahan furû’ (cabang) sebagaimana diduga oleh sebagian orang, namun masalah ini adalah masalah yang berkaitan dengan pokok aqidah. Bagi orang yang masih memperdebatkan masalah ini, silakan merenungi firman Alloh Azza wa Jalla berikut :<br />
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?” (QS asy-Syûrâ : 21)<br />
Dan firman-Nya :<br />
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. ” (QS an-Nisâ` : 60)<br />
Dan firman-Nya Ta’âlâ :</p>
<p>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidaklah dikatakan beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisâ` : 65)<br />
Syaikh Muhammad bin Ibrâhîim rahimahullâhu berkata tentang ayat ini di dalam Risâlah Tahkîmu al-Qowânîna :<br />
“Alloh Subhânahu telah meniadakan keimanan seseorang yang tidak mau berhukum dengan nabi terhadap perkara yang mereka perselisihkan dengan penafian yang ditekankan (nafyan mu`akkadan) dengan pengulangan yang disertai dengan sumpah.” (Risâlah Tahkîmu al-Qowânîna hal. 5)<br />
Ibnu Katsîr rahimahullâhu menukilkan sebuah konsensus (ijmâ’) atas kafirnya orang yang menjadikan bagi dirinya syariat selain syariat Alloh. Beliau berkata ketika membicarakan tentang hukum al-Yasa yang diterapkan oleh Jengis Khân untuk menghukumi para pengikutnya :<br />
“Barangsiapa yang meninggalkan syariat yang diturunkan kepada Muhammad bin `Abdillâh penutup para nabi, dan berhukum dengan selain syariat beliau dari syariat-syariat kafir yang telah di-mansûkh (dihapus hukumnya dengan Islam) maka ia telah kafir. Lantas bagaimana kiranya dengan orang yang berhukum dengan al-Yasa dan lebih mendahulukannya (ketimbang syariat Nabi)? Barangsiapa yang melakukan hal ini maka telah kafir dengan kesepakatan (ijmâ’) kaum muslimin.” (al-Bidâyah wah Nihâyah 13:128)<br />
Apabila perkaranya telah jelas seperti ini, maka kami mengajukan pertanyaan kepada para aktivis Islam yang menyeru kepada demokrasi, yaitu : siapakah yang berhak menentukan hukum di dalam masyarakat demokrasi yang kini tengah Anda gembar-gemborkan ini? Apakah boleh manusia membuat syariat untuk diri mereka sendiri selain syariat Alloh?<br />
Apabila Anda mengatakan bahwa manusia memiliki hak untuk membuat syariat bagi diri mereka sendiri sekehendak mereka, maka kami katakan : apakah Anda murka terhadap Rabb anda sendiri dan Anda menentang keislaman sendiri lalu Anda mengatakan sebuah ucapan yang sangat besar ini! (yaitu ucapan kufur, pen).<br />
Dan apabila Anda mengatakan : “bahkan kami menghendaki dengan sistem demokrasi ini untuk tidak memberikan hak tasyrî’ (legislasi) kepada manusia selain dari syariat Alloh, karena sesungguhnya tidak ada hukum melainkan hanya milik Alloh.” Maka kami jawab : kalau begitu, hal yang Anda sebutkan tersebut bukanlah demokrasi, namun Islam, dan janganlah Anda mencari nama-nama yang lain (bagi Islam) ataukah Anda merasa tidak cukup dengan nama yang telah Alloh berikan (yaitu Islam)?<br />
Apabila ada ulama kontemporer yang mengatakan :<br />
“Orang-orang yang pro demokrasi tidaklah otomotatis mereka ini menolak hâkimiyah Alloh dan memberikannya kepada manusia. Mayoritas orang yang menyerukan demokrasi tidaklah terlintas ke dalam pikiran mereka bahwa mereka memaksudkan dan membatasi<br />
tujuannya kepada demokrasi, namun mereka bermaksud menolak kediktatoran… ” (Ustadz Fahmî Huwaidî menukilkan ucapan ini dari DR. Yûsuf al-Qaradhâwî dalam harian al-Ahrâm tanggal 18/8/1992).<br />
Maka kami katakan kepada beliau : Kami, tidak pula terlintas di benak kami sedangkan kami menolak demokrasi, bahwa ada suatu bentuk demokrasi yang kosong esensinya dari memberikan hak legislasi kepada manusia itu sendiri. Dan bentuk demokrasi seperti ini, sejauh pengetahuan kami belum pernah ada sepanjang sejarah dan realitas. Barangsiapa yang tetap bersikeras di dalam imajinasinya bahwa bentuk seperti ini ada dan merupakan bagian dari demokrasi, kemudian ia menghukumi untuk menerimanya, maka silakan lakukan! Namun, ia tidaklah punya hak untuk menyalahkan orang lain yang yang bersandar kepada realitas, yang berpandangan bahwa demokrasi itu esensinya menyelisihi syariat Alloh lalu menolak sistem demokrasi ini.<br />
Kami ketika menolak sistem demokrasi, hal ini disebabkan bahwa kami memandang demokrasi itu bertentangan dengan Islam. Dan kami tidaklah menetapkan hal ini untuk menvonis aktivis-aktivis Islam yang pro demokrasi, yang tertipu dan merasa bahwa masih ada kemungkinan bagi mereka untuk mendukung demokrasi sebagai suatu hukum sedangkan pada saat yang sama mereka beranggapan bahwa mereka mampu menjaga pokok keislaman mereka. Akan tetapi, kami mengatakan kepada mereka apa yang dikatakan oleh al-Ustadz Muhammad Quthb :<br />
“Di dunia Islam ini, ada para penulis, pemikir dan du’at yang ikhlas, yang tertipu dengan demokrasi. Mereka mengatakan : kami mengambil dari demokrasi ini hal-hal positifnya dan meninggalkan hal-hal yang negatifnya (keburukannya) . Mereka mengatakan : kami mengikat demokrasi ini dengan wahyu yang diturunkan Alloh, kami tidak memperbolehkan ilhâd (atheisme) dan tidak memperbolehkan degradasi moral dan pelanggaran hukum. Jika demikian keadaannya, maka ini sekali-kali bukanlah demokrasi, namun ini adalah Islam. Karena sistem demokrasi itu adalah hukum dari rakyat melalui rakyat dan untuk rakyat. Rakyat juga turut memiliki kekuasaan untuk membuat undang-undang (baik secara langsung maupun tidak langsung, pen). Apabila hal ini ditiadakan atau diikat dengan suatu batasan, maka hal ini sekali-kali bukanlah demokrasi sebagaimana yang tengah berlangsung di zaman ini dengan nama ini.<br />
Tanyakanlah kepada aktivis demokrasi, katakan kepada mereka : kami menghendaki untuk berhukum dengan wahyu yang diturunkan Alloh, tidak ada hak bagi rakyat ataupun dewan perwakilan untuk membuat undang-undang melainkan apabila tidak ada nash dari al-Qur`ân, Sunnah dan ijmâ’ (kensensus) dari ulama kaum muslimin… niscaya mereka akan menjawab secara spontan : “Sesungguhnya ini bukanlah demokrasi yang kami ketahui. Di dalam demokrasi itu manusia berhak membuat undang-undang di dalam segala urusan…” Mereka juga akan berkata : “Carilah nama lain yang kalian kehendaki… tapi jangan nama demokrasi!” Jika demikian keadaannya, kenapa kita tetap bersikeras menamai undang-undang yang kita kehendaki dengan nama demokrasi? Kenapa tidak kita namai saja dengan Islam?” (Madzâhib Fikriyah Mu’âshirah hal. 253-254)</p>
<p>bagaimana pendapat kalian?</p>
<p><em>sumber dari</em> <strong><a href="http://kualamadu.wordpress.com">kualamadu</a></strong></p>
<br />Posted in Berita, Politik  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=154&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/04/25/bagaimana-islam-menyikapi-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jashtiser</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ADAB TERHADAP KEDUA ORANG TUA</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/04/01/adab-terhadap-kedua-orang-tua/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/04/01/adab-terhadap-kedua-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 15:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jashtiser</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#60;!&#8211;[if !mso]&#62; &#60;! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &#8211;&#62; Seorang Muslim tentu mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya dan kewajiban berbakti, menaati dan berbuat baik terhadap keduanya. Bukan hanya karena mereka berdua menjadi sebab keberadaannya, atau karena mereka telah berbuat baik terhadapnya dan memenuhi kebutuhannya, atau karena mereka adalah manusia paling berjasa dan utama bagi dirinya, akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=152&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]-->&lt;!&#8211;[if !mso]&gt;<span class="mceItemObject"></span> &lt;!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &#8211;&gt; <!--[endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Lucida Sans Unicode"; 	panose-1:2 11 6 2 3 5 4 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-2147476737 14699 0 0 63 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:none; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Lucida Sans Unicode"; 	mso-font-kerning:.5pt;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:none; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Lucida Sans Unicode"; 	mso-font-kerning:.5pt;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:196965429; 	mso-list-template-ids:1999540290;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l1 	{mso-list-id:1895237671; 	mso-list-template-ids:-59847776;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seorang Muslim tentu mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya dan kewajiban berbakti, menaati dan berbuat baik terhadap keduanya. Bukan hanya karena mereka berdua menjadi sebab keberadaannya, atau karena mereka telah berbuat baik terhadapnya dan memenuhi kebutuhannya, atau karena mereka adalah manusia paling berjasa dan utama bagi dirinya, akan tetapi lebih dari itu karena Allah Ta’ala telah menetapkan kewajiban atas anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, bahkan perintah tersebut penyebutannya disertakan dengan kewajiban hamba yang paling utama yaitu kewajiban beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan tidak menyekutukanNya. Firman Allah Ta’ala yang artinya, <em>“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” </em>(QS. Al-Isra’: 23) <span id="more-152"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim, berikut ini adalah beberapa petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berbakti kepada kedua orang tua baik semasa hidup keduanya atau sepeninggal mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Hak-Hak yang Wajib Dilaksanakan Semasa Hidup Orang Tua.</span></strong><span> </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Menaati mereka selama      tidak mendurhakai Allah Ta’ala</span></strong><span>. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Menaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap muslim, sedang mendurhakai keduanya merupakan perbuatan yang diharamkan, kecuali jika mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah Ta’ala (berbuat syirik) atau bermaksiat kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman, artinya, <em>“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, ….” </em>(QS.Luqman:15) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, <em>“Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan”.</em> (HR. Al-Bukhari) </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Berbakti dan merendahkan      diri di hadapan kedua orang tua</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Allah Ta’ala berfirman, artinya, <em>“…dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan «ah» dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.”</em> (QS. Al-Israa’: 23-24) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” (HR.Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ‘ah’, tidak mengeraskan suara melebihi suara mereka. Rendahkanlah diri dihadapan keduanya dengan cara mendahulukan segala urusan mereka. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Berbicara dengan lemah      lembut di hadapan mereka</span></strong><span> </span></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Menyediakan makanan untuk      mereka</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Hal ini juga termasuk bentuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika hal tersebut merupakan hasil jerih payah sendiri. Lebih-lebih jika kondisi keduanya sudah renta. Sudah seyogyanya, mereka disediakan makanan dan minuman yang terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua dari pada dirinya, anaknya dan istrinya. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Meminta izin kepada      mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan (kewajibannya untuk dirinya-pent). Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, <em>“Wahai Rasulullah apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya, ‘Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?’ Laki-laki tersebut menjawab, ‘Masih’. Beliau bersabda, ‘Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya’.”</em> (HR. al-Bukhari dan Muslim), dan masih banyak hadits yang semakna dengan hadits tersebut. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Memberikan harta kepada      orang tua sebesar yang mereka inginkan.</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata, “Ayahku ingin mengambil hartaku”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, <em>“Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” </em>(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil, serta telah berbuat baik kepadanya. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Membuat keduanya ridha      dengan berbuat baik kepada orang-orang yang dicintainya.</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Hendaknya seseorang membuat kedua orang tuanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang mereka cintai. Yaitu dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka, dan lain sebagainya. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Memenuhi sumpah / Nazar      kedua orang tua</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena hal itu termasuk hak mereka. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Tidak Mencaci maki kedua      orang tua. </span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, <em>“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci maki orang tuanya.” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa ada orang yang mencaci maki orang tuanya?’ Beliau menjawab, “ </em></span><em><span>Ada</span></em><em><span>. ia mencaci maki ayah orang lain kemudian orang tersebut membalas mencaci maki orang tuanya. Ia mencaci maki ibu orang lain lalu orang itu membalas mencaci maki ibunya.”</span></em><span> (HR. al-Bukhari dan Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Terkadang perbuatan tersebut tidak dirasakan oleh seorang anak, dan dilakukan dengan bergurau padahal hal ini merupakan perbuatan dosa besar. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Mendahulukan berbakti      kepada ibu daripada ayah</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” beliau menjawab, “Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau kembali menjawab, “Ibumu”. Lelaki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu siapa lagi? Tanyanya. “Ayahmu,” jawab beliau.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu daripada ayah. Sebab, menaati ayah lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan syari’at. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan taat kepada suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Maksud ‘lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu’ dalam hadits tersebut adalah bersikap lebih halus dan lembut kepada ibu daripada ayah. Sebagian Ulama salaf berkata, “Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.” </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span>Mendahulukan berbakti      kepada kedua orang tua daripada berbuat baik kepada istri.</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span>Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua lalu mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik mereka, di antara amal mereka, ‘ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan’. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Hak-Hak Orang Tua Setelah Mereka Meninggal Dunia</span></strong><span> </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Mengurus jenazahnya dan      banyak mendoakan keduanya, karena hal ini merupakan bakti seorang anak      kepada kedua orang tuanya. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Beristighfar (memohonkan      ampun kepada Allah Ta’ala) untuk mereka berdua, karena merekalah orang      yang paling utama untuk didoakan agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa      mereka dan menerima amal baik mereka. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Menunaikan janji dan      wasiat kedua orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup mereka, dan      melanjutkan amal-amal baik yang pernah mereka kerjakan selama hidup      mereka. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila      amal baik tersebut dilanjutkan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Memuliakan teman atau      sahabat dekat kedua orang tua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam      pernah bersabda, <em>“Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang      anak yang m<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a>enyambung      tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya      meninggal”.</em> (HR. Muslim) </span></li>
<li class="MsoNormal"><span><span> </span>Menyambung tali silaturrahim dengan      kerabat Ibu dan Ayah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, <em>“Barang      siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya yang ada dikuburannya,      maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah      ia meninggal”. </em>(HR. Ibnu Hibban).</span></li>
</ul>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"></a><span class="MsoFootnoteReference"><span> </span>http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&amp;id=521</span></p>
</div>
</div>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=152&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/04/01/adab-terhadap-kedua-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jashtiser</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEMPURNAKAN SHALATMU DENGAN KHUSYU’</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/03/26/sempurnakan-shalatmu-dengan-khusyu%e2%80%99/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/03/26/sempurnakan-shalatmu-dengan-khusyu%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 13:08:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jashtiser</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Shalat menurut pandangan islam merupakan bentuk komunikasi manusia dengan tuhan-Nya. Komunikasi ini dimaksudkan untuk bertawajjuh (megnhadap) sungguh-sungguh dan ikhlas kepada Allah SWT. Di sampingping itu, shalat dimaksudkan juga untuk meneguhkan keesaan Allah, tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah dan larangan-Nya. Shalat sesungguhnya juga merupakan cermin keimanan bagi seorang mukmin. Ia merupakan sentuhan kasih sayang, sentuhan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=148&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Shalat menurut pandangan islam merupakan bentuk komunikasi manusia dengan tuhan-Nya. Komunikasi ini dimaksudkan untuk bertawajjuh (megnhadap) sungguh-sungguh dan ikhlas kepada Allah SWT. Di sampingping itu, shalat dimaksudkan juga untuk meneguhkan keesaan Allah, tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah dan larangan-Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Shalat sesungguhnya juga merupakan cermin keimanan bagi seorang mukmin. Ia merupakan sentuhan kasih sayang, sentuhan yang lembut yang mampu membuka hati, dan menembus Dzat Yang Maha Tinggi. Maka tujuan yang dimaksud dari shalat bukan sekedar gerakan-geraka badan, tetapi tujuan yang hakiki adalah adanya keterkaitan hati dengan Allah SWT. Itulah pelaksanaan shalat yang hakiki dan sempurna.<span id="more-148"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Karena kedudukan shalat begitu agung dan tinggi menurut Allah, maka tidak diragukan bagi seorang muslim untuk memperhatikan pentingnya shalat. Karenya ia wajib melaksanakan shalat secara benar dan sempurna.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Jika selama ini problem umat islam kebanyakan mereka tidak mau shalat, maka sesungguhnya problem bagi mereka yang sudah shalat adalah bahwa mereka belum dapat merasakan khusyu’ dalam menjalankan shalat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Satu hal yang sangat disayangkan bahwa shlat kita masih belum bahkan bukan termasuk dari shalat orang-orang yang cinta dan ma’rifah (mengenal betul) kepada Allah SWT, yaitu orang-orang yang merasakan nikmat, ketenangan, dan kenyamanan dalam shalat. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada bilal dalam salah satu sabdanya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><em>“Wahai bilal, dirikanlah shalat (kumandangkanlah iqamah) niscaya saya akan merasakan nyaman<span> </span>dalam shalat</em>.”(HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Ketika kita tidak dapat mencapai khusyu’ semacam ini, maka biasanya kita akan mengerjakan shalat dengan asal-asalan saja, dan tidak memperdulikan kualitas shalat kita, yang penting sudah shalat. Namun sebaiknya jika seorang mukmin dihatinya telah merasakan indah dan nyaman ketika shalat, tentunya ia tidak mau berpisah dari shalat. Sebaliknya ketika ia tidak merasakan hal itu, maka ia akan merasakan berat melaksanakan shala. Nah, boleh jadi selama ini kita belum merasakan kenyamanan shalat, sehingga shalat terasa berat bagi kita. Akhirnya kita melaksanakan shalat semaunya sendiri, mininggalkan shalat-shalat sunnah dan tergesah-gesah dalam shalat fardlu. Kita pun merasakan kosong dalam shalat, hati pun tidak merasakan kenyamanan ketika shalat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Oleh sebab itu ada beberapa faktor yang dapat membantu dalam kekhusyu’an shalat:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Hati yang ikhlas karena Allah SWT</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah jika seseorang menegakkan shalat dengan tujuan hanya karena Allah SWT dan mengingat akhirat. Dengan begitu akan muncul khusyu’ pada anggota tubuhnya, sehingga dia akan merasa tenang dan hatinya hadir ketika shalat.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Ma’rifat kepada Allah SWT, hatinya mengagungkan Allah SWT dan takut kepadanya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Khusyu’ itu berarti dari dalam hati, dan muncul ketika seseorang ma’rifat kepada Allah, mengenal keagungan dan kesempurnaan-Nya. Oleh karenanya, semakin mengenal kepada Allah, maka seseorang akan semakin khusyu’. Semakin bertambah ma’rifat seseorang kepada Allah maka ia akan semakin khusyu’ kepada-Nya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Mengetahui bahwa shalat itu merupakan pertemuan antara dirinya dengan Allah SWT dan bermunajat kepada-Nya</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Seorang mukmin ketika shalat, hendaknya dia mengetahui bahwa dengan shalat, ia akan bertemu dengan Tuhannya. Shalat merupakan bentuk komunikasi antara manusia dengan penciptanya. Dengan shalat, seseorang dapat bermunajat dengan Tuhannya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang baik yang dapat menembus tirai-tirai yang tinggi supaya kalimat tadi sampai kepada penciptanya tanpa perantara. Itulah salah satu etika yang sangat luhur ketika berhadapan dengan Tuhannya, ketika memuji kepada-Nya, mengadu keluhan-keluhannya dan mencari kesuksesan. Di samping itu, shalat juga merupakanbentuk janji yang hakiki bagi seseorang untuk tidak melakukan perbuatan dosa dan kemungkaran.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Konsentrasinya hati dan anggota tubuh darimemikirkan selain Allah</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Memikirkan sesuatu selain Allah ketika shalat akan menghilangkan kekhusyu’an seseorang. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadis Nabi saw dari Aisyah ra. Beliau berkata:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">“<em>Aku bertanya kepada Nabi saw tentang berpalingnya seseorang (al-iltifaat) ketika shalat kepada selain Allah? Nabi saw menjawab: ia adalah curian, dimana setan mengambilnya dari seorang hamba yang shalat</em>.”(HR. Al-Bukhari)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><em> </em></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Tuma’ninah (tenang) dan tidak tergesah-gesah dalam shalat</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><em>Tuma’ninah (tenang) dalam shalat merupakan salah satu faktor yang dapat mengantarkan seseorang untuk khusyu’ sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:</em></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><em>“Maka jika kalian tenang tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat bagi orang-orang mukmin itu merupakan ketetapan yang sudah ditentukan waktunya</em>.”(Q.S.Ibrahim: 40),</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Shalat pada wakunya</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast">Shalat pada awal waktu merupakan ibadah yang diprintahkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Ia merupakan perantara seseorang untuk memperoleh kebahagiaannya, dan nyaman setelah ia lelah dan sibuk dengan urusan dunianya. Kemudian ia bermunajat kepada Tuhannya sehingga memperoleh solusi dalam memecahkan kesulitan-kesulitan pada dirinya, kemudian ia menampakkan rasa takut dan kelalaiannya di hadapan keagungan Allah SWT. Karena lalai dalam shalat merupakan tanda tertolaknya amalan seseorang.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=148&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/03/26/sempurnakan-shalatmu-dengan-khusyu%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jashtiser</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kontroversi Hubungan antara Prinsip Agama dengan Ideologi Negara</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/03/26/kontroversi-hubungan-antara-prinsip-agama-dengan-ideologi-negara/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/03/26/kontroversi-hubungan-antara-prinsip-agama-dengan-ideologi-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 13:03:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jashtiser</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimanakah peranan agama dalam menentukan sebuah ideologi sebuah negara? Apakah agama benar-benar menjadi suatu dasar landasan dalam membuat suatu aturan bagi sebuah negara? Nah, inilah beberapa pertanyaan yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, khususnya di negara kita yang mayoritas islam. Pada hakikatnya pemikiran mendasar tentang kehidupan adalah pemikiran menyeluruh (fikrul kulliyah) tentang alam semesta, manusia, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=143&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimanakah peranan agama dalam menentukan sebuah ideologi sebuah negara? Apakah agama benar-benar menjadi suatu dasar landasan dalam membuat suatu aturan bagi sebuah negara? Nah, inilah beberapa pertanyaan yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, khususnya di negara kita yang mayoritas islam.   Pada hakikatnya pemikiran mendasar tentang kehidupan adalah pemikiran menyeluruh (fikrul kulliyah) tentang alam semesta, manusia, kehidupan, dan tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah kehidupan dunia serta hubungan antara kehidupan dunia dan sesudahnya (An Nabhani, 1953). Oleh karena itu, pembahasan hubungan agama dan negara harus berdasar pada hal tersebut sebagai pemikiran cabang yang lahir dari pemikiran mendasar tersebut.  Mari kita lihat Ideologi-ideologi (aqidah) yang ada didunia yang digunakan sebagai dasar negara.  1.	Ideologi Materialisme  Ideologi materialisme (Al Maaddiyah) menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Tidak ada Tuhan, tidak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Materilah asal usul segala sesuatu. Materi merupakan dasar eksistensi segala macam pemikiran (Ghanim Abduh, 1964). Atas dasar paham materialisme itu, dengan sendirinya agama tidak mempunyai tempat dalam sosialisme. Sebab agama berpangkal pada pangkuan eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis-matrealis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi (lihat Karl Heinrich Marx, Contribution to the critique of Hegel Philosophi of right).   2.	Ideologi Kapitalisme Ideologi kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashluddin &#8216;anil hayah), atau sekularisme. Paham ini tidak menafikan agama secara mutlak, namun hanya membatasi perannya dalam mengatur kehidupan. Keberadaan agama memang diakui walaupun hanya sebagai formalitas, namun agama tidak boleh mengatur segala aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Agama hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya sedangkan untuk hubungan antara manusia itu diatur oleh manusia itu sendiri Zallum, 1993). Berdasarkan paham kapitalisme, formulasi hubungan antara agama-negara dapat disebut dengan hubungan yang separatif, yaitu suatu pandangan yang berusaha memisahkan agama dari aspek kehidupan. Agama hanya berlaku dalam hubungan secara individual antara manusia dengan tuhannya, atau berlaku secara amat terbatas dalam interaksi sosial sesama manusia.   3.	Aqidah Islamiyah Aqidah islamiyah adalah iman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari akhir dan Taqdir (Qadar) Allah. Aqidah ini merupakan dasar ideologi islam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum islam yang mengatur kehidupan manusia. Aqidah islamiyah menetapkan bahwa keimanan harus terwujud dalam keterikatan terhadap hukum syara&#8217;, yang cakupannya adalah segala aspek kehidupan, dan bahwa pengingkaran sebahagian saja dari hukum islam (yang terwujud dalam sekulerisme) adalah suatu kebatilan dan kekafiran yang nyata. Allah SWT berfirman :  “Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa&#8217; : 65)  “Barangsiapa yang tidak memberi keputusan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al Maa&#8217;idah : 44)   Berdasarkan ini, maka seluruh hukum-hukum islam tanpa kecuali harus diterapkan kepada manusia, sebagai konsekuensi adanya iman atau Aqidah Islamiyah. Dan karena hukum-hukum islam ini tidak dapat diterapkan secara sempurna kecuali dengan adanya institusi negara, maka keberadaan negara dalam islam adalah suatu keniscayaan. Karena itu, formulasi hubungan agama-negara dalam pandangan islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam arti bahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sempurna dan bahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama. Agama tak dapat dipisahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalam konstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat.  Imam Al Ghazali dalam kitabnya  AL Iqtishad fil I&#8217;tiqad halaman 199 berkata :  “Karena itu, dikatakanlah bahwa agama  dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga nicaya akan hilang lenyap.”  Ibnu Taimiyah juga dalam Majmu&#8217;ul Fatawa juz 28 halaman 394 menyatakan :  “Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.”    Apakah kebaikan atau kerusakan kah yang akan terjadi dinegara kita itu tergantung kepada kita semua. Lalu apakah kontribusi yang dapat kamu lakukan untuk melakukan perbaikan?  Wallahu&#8217;alam bi showab.   source by gaulislam.com</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=143&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2009/03/26/kontroversi-hubungan-antara-prinsip-agama-dengan-ideologi-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jashtiser</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahur dan Keutamaannya</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/30/sahur-dan-keutamaannya/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/30/sahur-dan-keutamaannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 06:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah sahur]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sahur]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sahur]]></category>
		<category><![CDATA[sahur ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu sahur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[1. Hikmahnya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyuruh makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab. Dari Amr bin &#8216;Ash Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda. &#8220;Artinya : Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 1096] 2. Keutamaannya [a] Makan Sahur Adalah Barokah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=138&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1.    Hikmahnya</strong><br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyuruh makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab.</p>
<p>Dari Amr bin &#8216;Ash Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur&#8221; </em>[Hadits Riwayat Muslim 1096]</p>
<p><strong>2.    Keutamaannya</strong></p>
<p><strong>[a]    Makan Sahur Adalah Barokah.</strong><br />
Dari Salman Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Barokah itu ada pada tiga perkara : Al-Jama&#8217;ah, Ats-Tsarid dan makan Sahur&#8221;</em></p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah menjadikan barokah pada makan sahur dan takaran&#8221;</em></p>
<p>Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : Aku masuk menemui Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang makan sahur, beliau bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Sesungguhnya makan sahur adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan&#8221;</em> [Hadits Riwayat Nasa'i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya SHAHIH]<br />
Keberadaan sahur sebagai barakah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan dalam puasa, menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa.</p>
<p><span id="more-138"></span>Dalam makan sahur juga (berarti) menyelisihi Ahlul Kitab, karena mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menamakannya dengan makan pagi yang diberkahi sebagaimana dalam dua hadits Al-Irbath bin Syariyah dan Abu Darda &#8216;Radhiyallahu &#8216;anhuma.<br />
<em>&#8220;Artinya : Marilah menuju makan pagi yang diberkahi, yakni sahur&#8221;</em></p>
<p><strong>[b].    Allah dan Malaikat-Nya Bershalawat Kepada Orang-Orang yang Sahur.</strong><br />
Mungkin barakah sahur yang tersebar adalah (karena) Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya, memenuhi mereka dengan rahmat-Nya, malaikat Allah memintakan ampunan bagi mereka, berdo&#8217;a kepada Allah agar mema&#8217;afkan mereka agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah di bulan Ramadhan.</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur&#8221; </em></p>
<p>Oleh sebab itu seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala yang besar ini dari Rabb Yang Maha Pengasih. Dan sahurnya seorang muslim yang paling afdhal adalah korma.<br />
Bersabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
<em>&#8220;Artinya : Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma&#8221;</em></p>
<p>Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air, karena keutamaan yang disebutkan tadi, dan karena sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
<em>&#8220;Artinya : Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air&#8221;</em></p>
<p><strong>3.    Mengakhirkan Sahur</strong><br />
Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar, karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit Radhiyallahu &#8216;anhu melakukan sahur, ketika selesai makan sahur Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bangkit untuk shalat subuh, dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat di Kitabullah.</p>
<p>Anas Radhiyallahu &#8216;anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu &#8216;anhu.<br />
<em>&#8220;Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kemudian beliau shalat&#8221;</em> Aku tanyakan (kata Anas),<em> &#8220;Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?&#8221; </em>Zaid menjawab, <em>&#8220;Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur&#8217;an&#8221;</em><br />
Ketahuilah wahai hamba Allah -mudah-mudahan Allah membimbingmu- kalian diperbolehkan makan, minum, jima&#8217; selama (dalam keadaan) ragu fajar telah terbit atau belum, dan Allah serta Rasul-Nya telah menerangkan batasan-batasannya sehingga menjadi jelas, karena Allah Jalla Sya&#8217;nuhu mema&#8217;afkan kesalahan, kelupaan serta membolehkan makan, minum dan jima, selama belum ada kejelasan, sedangkan orang yang masih ragu (dan) belum mendapat penjelasan. Sesunguhnya kejelasan adalah satu keyakinan yang tidak ada keraguan lagi. Jelaslah.</p>
<p><strong>4.    Hukumnya</strong><br />
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkannya &#8211; dengan perintah yang sangat ditekankan-. Beliau bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu&#8221;</em></p>
<p>Dan beliau bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barakah&#8221;</em> [Hadits Riwayat Bukhari 4/120, Muslim 1095 dari Anas.</p>
<p>Kemudian beliau menjelaskan tingginya nilai sahur bagi umatnya, beliau bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab adalah makan sahur&#8221;</em></p>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang meninggalkannya, beliau bersabda.<br />
<em>&#8220;Artinya : Sahur adalah makanan yang barakah, janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan Malaikat-Nya memberi sahalawat kepada orang-orang yang sahur&#8221;</em></p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.<br />
<em>&#8220;Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air&#8221; </em></p>
<p>Saya katakan : Kami berpendapat perintah Nabi ini sangat ditekankan anjurannya, hal ini terlihat dari tiga sisi.<br />
1.	Perintahnya.<br />
2.	Sahur adalah syiarnya puasa seorang muslim, dan pemisah antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab<br />
3.	Larangan meninggalkan sahur.<br />
Inilah qarinah yang kuat dan dalil yang jelas.</p>
<p>Walaupun demikian, Al-Hafidz Ibnu Hajar menukilkan dalam kitabnya Fathul Bari 4/139 : Ijma atas sunnahnya. Wallahu &#8216;alam.</p>
<p><strong>diambil dari buku Sifat Puasa Nabi, <a title="download ebook sifat puasa nabi" href="http://myfilehost.us/index.php?p=download&amp;hash=SF7Uh3L1HNMc" target="_blank">download ebooknya disini</a></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jashtismedia.wordpress.com/138/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jashtismedia.wordpress.com/138/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=138&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/30/sahur-dan-keutamaannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Di Kampus STMIK AMIKOM Yogyakarta</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/30/ramadhan-di-kampus-stmik-amikom-yogyakarta/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/30/ramadhan-di-kampus-stmik-amikom-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 06:18:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[kajian ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[program ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan di kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Unit Kerohanian Islam STMIK Amikom Yogyakarta mengadakan program Ramadhan Di Kampus selama bulan Ramadhan 1429H. Banyak kegiatan yang diadakan seperti Kajian Ba&#8217;da Ashar, Bedah Buku, Ramadhan Short School, Bakti Sosial, Belajar Bareng, Halal Market dan Main Futsal. Untuk jadwal secara detail bisa dilihat pada gembar berikut (klik untuk memperbesar, save as image untuk menyimpan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=136&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Unit Kerohanian Islam STMIK Amikom Yogyakarta mengadakan program Ramadhan Di Kampus selama bulan Ramadhan 1429H. Banyak kegiatan yang diadakan seperti Kajian Ba&#8217;da Ashar, Bedah Buku, Ramadhan Short School, Bakti Sosial, Belajar Bareng, Halal Market dan Main Futsal.</p>
<p>Untuk jadwal secara detail bisa dilihat pada gembar berikut (klik untuk memperbesar, save as image untuk menyimpan dan buka dalam ukuran sebenarnya):<br />
<a title="Easy Image Hosting" href="http://images.myfilehost.us/viewer.php?id=arx1220076921k.jpg" target="_blank"><img src="http://images.myfilehost.us/images/arx1220076921k.jpg" border="0" alt="Free Image Hosting" width="618" height="434" /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jashtismedia.wordpress.com/136/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jashtismedia.wordpress.com/136/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=136&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/30/ramadhan-di-kampus-stmik-amikom-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.myfilehost.us/images/arx1220076921k.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Free Image Hosting</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imsakiyah Ramadhan 1429H</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/27/imsakiyah-ramadhan-1429h/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/27/imsakiyah-ramadhan-1429h/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 04:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Heri Setiawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[1429H]]></category>
		<category><![CDATA[download imsakiyah]]></category>
		<category><![CDATA[download jadwal imsakiyah]]></category>
		<category><![CDATA[imsakiyah 1429H]]></category>
		<category><![CDATA[imsakiyah ramadhan 1429H]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal imsakiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan 1429H]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jashtismedia.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Panitia Ramadhan Di Kampus (RDK) dibawah organisasi Unit Kerohanian Islam &#8211; Jama&#8217;ah Shohwatul Islam STMIK AMIKOM Yogyakarta menerbitkan jadwal Imsakiyah Ramadhan 1429H untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Berikut jadwal Imsakiyah yang sudah dibuat dan segera di edarkan di lingkungan kampus STMIK Amikom Yogyakarta. Untuk imsakiyah daerah-daerah yang lain bisa merujuk di sini atau di sana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=133&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a title="Easy Image Hosting" href="http://images.myfilehost.us/viewer.php?id=jdv1219809610h.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" src="http://images.myfilehost.us/images/jdv1219809610h.jpg" border="0" alt="Free Image Hosting" width="241" height="338" /></a></p>
<p>Panitia Ramadhan Di Kampus (RDK) dibawah organisasi Unit Kerohanian Islam &#8211; Jama&#8217;ah Shohwatul Islam STMIK AMIKOM Yogyakarta menerbitkan jadwal Imsakiyah Ramadhan 1429H untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Berikut jadwal Imsakiyah yang sudah dibuat dan segera di edarkan di lingkungan kampus STMIK Amikom Yogyakarta.</p>
<p>Untuk imsakiyah daerah-daerah yang lain bisa merujuk <a href="http://awansx.wordpress.com" target="_blank">di sini </a>atau <a href="http://microsite.detik.com/imsakiyah1429/" target="_blank">di sana</a> atau <a href="http://www.pkpu.or.id/imsyak/" target="_blank">di situ</a> &#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jashtismedia.wordpress.com/133/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jashtismedia.wordpress.com/133/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=133&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/08/27/imsakiyah-ramadhan-1429h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">awansx</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.myfilehost.us/images/jdv1219809610h.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Free Image Hosting</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reformasi Telah Mati</title>
		<link>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/07/27/reformasi-telah-mati/</link>
		<comments>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/07/27/reformasi-telah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 07:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jashtismedia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[suara islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ukimedia.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Tabloid SUARA ISLAM EDISI 44, Tanggal 16 &#8211; 29 Mei 2008 M/10 &#8211; 23 Jumadil Awal 1429 H Wacana reformasi dan demokratisasi total, telah membius rakyat Indonesia dan menjelma menjadi kekuatan dahsyat menjelang Mei 1998. Gelombang reformasi pun menumbangkan rezim Soeharto yang telah berkuasa lebih 30 tahun. Kini perjalanan reformasi telah mencapai 10 tahun, sungguh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=132&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tabloid SUARA ISLAM EDISI 44, Tanggal 16 &#8211; 29 Mei 2008 M/10 &#8211; 23 Jumadil Awal 1429 H</p>
<p>Wacana reformasi dan demokratisasi total, telah membius rakyat Indonesia dan menjelma menjadi kekuatan dahsyat menjelang Mei 1998. Gelombang reformasi pun menumbangkan rezim Soeharto yang telah berkuasa lebih 30 tahun. Kini perjalanan reformasi telah mencapai 10 tahun, sungguh mengerikan reformasi hanya membukukan kehancuran demi kehancuran bangsa ini.</p>
<p>Bagaimana membaca secara konkrit dan obyektif hasil reformasi sepuluh tahun terakhir ini (Mei 1998-Mei 2008)? Apa yang terjadi sejak presiden Soeharto berhasil ditumbang-kan, hingga hari ini? Perjalanan era refor-masi ini niscaya amat dibanggakan para pelaku dan penyelenggara Negara, baik eksekutif, yudikatif, dan legislatif terdiri parlemen parpol dan politisi. Capaian-capaian ekonomi, sosial politik, perta-hanan dan keamanan selalu dilaporkan serba maju, meningkat dan membaik.<br />
<span id="more-132"></span><br />
Padahal fakta yang berlaku sebenar-nya justru diagonal terbalik. Misalnya pemerintah terus-menerus melaporkan kema-juan ekonomi, padahal yang terjadi kini bangsa Indonesia justru mengalami pun-cak krisis ekonomi yang telah berlangsung lebih 10 tahun terakhir ini. Angka kemis-kinan dan pengangguran terus-menerus meningkat. Harga-harga kebutuhan bahan pokok terus melejit tak terkendali bahkan bahan baku yang semakin mahal itu sulit dicari di pasaran dan bisa diperoleh dengan antre. Pemandangan antre minyak tanah, minyak goreng dan beras ini menjadi pemandangan set-back seperti setengah abad yang lalu di zaman orde lama.</p>
<p><strong>Menjadi Bius Memabukkan</strong></p>
<p>Setelah sepuluh tahun reformasi berlalu, hakikatnya bangsa Indonesia bisa mengambil pelajaran sangat faktual sepanjang perjalanan reformasi ini. Empat presiden (Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan kini Susilo Bam-bang Yudhoyono) pun telah silih berganti naik ke kursi kekuasaan dengan meng-usung sistem politik yang reformis, demokratis menggantikan rezim dikta-torial yang dijalankan presiden Soeharto lebih tiga dasawarsa. Tapi empat presiden ini ternyata tidak mampu mengenyahkan dan menyembuhkan penyakit kronis bernama: Krisis Multidimensi. Bahkan krisis ini berkobar menjadi-jadi.</p>
<p>Walau kondisi bangsa Indonesia se-makin terpuruk, namun rakyat Indonesia terutama para penguasanya seringkali mendapat pujian dari negara-negara Barat. Indonesia disebut sebagai negara demokratis terbesar di dunia setelah AS dan India. Namun ironisnya Indonesia yang telah menjalankan kehidupan politik yang sangat demokratis itu, ekonomi Indonesia terus terpuruk. Angka-angka kemiskinan semakin membengkak jum-lahnya. Kemandirian bangsa di segala bidang mengalami kemerosotan yang sangat mengenaskan. Contoh paling nyata adalah ketidakmandirian bangsa di bidang pangan. Indonesia sebagai negara agraris dan maritim terbesar di dunia, kini (200 <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /> rakyatnya bergejolak dalam krisis susul-menyusul, dimulai dengan krisis minyak goreng, beras, kedelai, minyak tanah. Indonesia yang dikenal terito-rialnya 70 persen terdiri lautan, sungguh ironis kini pun telah mengimpor garam. Inilah fakta ironis dan menyakitkan. Indonesia sebagai penghasil minyak bumi, rakyatnya setiap hari antre minyak tanah (kerosine) sekadar untuk men-dapatkan dua liter minyak.</p>
<p>Rakyat Indonesia bagai terjebak dalam sistem demokrasi yang telah men-jeratnya dalam sistem Kapitalisme Global yang terus mengisapnya habis-habisan. Pemilihan presiden secara langsung (2004) telah menghasilkan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Lebih dari itu Pilkada Gubernur, bupati-walikota pun telah digelar di seluruh wilayah Indonesia dan menghasilkan belasan gubernur baru puluhan bupati-walikota (hampir mencapai seratus orang). Bahkan jika Pilkada kelak sudah digelar secara keseluruhan, maka catatan statistiknya hampir setiap hari akan di-gelar Pilkada di suatu daerah di Indonesia. Apa yang didapat setelah rakyat Indonesia kini dipimpin oleh presiden dan kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat itu? Negatif. Inilah jawaban yang merata. Sementara penelitian sebuah koran nasional di ibukota menegaskan bahwa kepemimpinan baru hasil pilkada ternyata tidak mengubah prestasi yang dicapai kepala daerah sebelumnya yang dihasilkan dengan mekanisme lama (dipilih melalui DPRD).</p>
<p>Praktek Pilkada yang sarat dengan politik uang, belum lagi ekses Pilkada dengan kerusuhan yang dikobarkan pihak yang kalah, telah menyurutkan optimisme Indonesia bisa melanjutkan model politik ini. Adalah PBNU melalui Ketua Umum Hasyim Muzadi menyentak dengan imbauannya agar Pilkada dihentikan di Indonesia dan kembali ke sistem lama.</p>
<p>Membayangkan ekses Pilkada dengan politik uangnya memang mengerikan. Pusaran dan tarikannya telah mencip-takan politik uang yang membawa konsekuensi koruptif dan menghalalkan tujuan dengan segala cara. Biaya Pilkada bupati disebut-sebut sedikitnya Rp 200 milyar, sedangkan biaya untuk gubernur mencapai Rp 500 milyar.Pejabat baru yang terpilih niscaya akan mengem-balikan modal yang telah ia keluarkan karena sebagian justru diperoleh dari sumbangan dan utang. Model Pilkada langsung memang telah menyeret bangsa ini pada pusaran bahaya di masa dekat yang akan menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia.</p>
<p>Model politik era reformasi ini secara pasti telah menempatkan partai politik menjadi “panglima”, sekaligus menerap-kan oligarki partai politik yang justru “membunuh” aspirasi di luar partai politik. Bersamaan dengan itu perfor-mance partai politik semakin terpuruk di mata rakyat secara luas. Hal ini karena perilaku politisi khususnya di parlemen yang amat koruptif dan tidak peduli kendati kritik bertubi-tubi diarahkan ke parlemen. Ratusan anggota parlemen daerah telah diadili dalam kasus-kasus korupsi, kini bahkan anggota DPR pusat pun mulai dijebloskan ke penjara KPK.</p>
<p>Kini masyarakat luas dengan caranya sendiri “menolak” sistem yang ternyata justru membuat rakyat menderita. Pil-kada semakin banyak diikuti partisipan golput alias memboikot. Jumlah golput semakin membengkak mendekati angka 50 persen. Maraknya pendirian partai politik baru sebagai peserta Pemilu 2009, bukan mencerminkan meningkatnya gai-rah rakyat menyongsong Pemilu 2009, melainkan “kehebohan” orang-orang yang itu-itu juga dan selama ini selalu mengail di pusaran “bisnis partai”. Dipastikan partai-partai baru itu dibentuk oleh pengurus partai-partai gurem yang telah terpuruk sebelumnya. Eksistensi mereka sejatinya hanya “dagelan” yang sangat tidak lucu karena mempermainkan nasib bangsa Indonesia yang terus terpuruk.</p>
<p>Pelajaran satu dekade perjalanan reformasi ini sejatinya amat gamblang dan mudah untuk disimpulkan. Agenda asing (Barat) telah mendikte perubahan yang kini terjadi di Indonesia dan terus terulur hingga hari ini. Dimulai dengan campur tangan IMF dengan berbagai formula yang dipaksakan menjelang dan awal reformasi dan justru menghancur-kan ekonomi negeri ini. Mulai pembekuan bank, pemaksaan swatanisasi BUMN, dengan menjual aset-aset strategis milik Negara.Pemretelan kekuasaan presiden dengan dibentuknya puluhan komisi-komisi, dan yang paling vital adalah pe-rubahan UUD 45 yang kini berubah 125 persen menjadi liberalistis. Konsep refor-masi seperti ini ternyata hanya menjadi “jembatan” menuju kehancuran bangsa Indonesia.</p>
<p>Tepat di usia reformasi memasuki dekade pertama (Mei 2008), kondisi bangsa Indonesia di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono justru meng-alami kesulitan kehidupan yang kian menghimpit. Tekanan kehidupan sehari-hari menyebabkan semakin sering ter-dengar kabar keluarga-keluarga yang bunuh diri bersama-sama antara bapak-ibu dan anak-anaknya. Sangat menge-rikan. Kondisi semakin parah karena pemerintah “nekad” menaikkan BBM sampai 30 persen. Padahal ketika pemerintah menaikkan BBM 125 persen pada Oktober 2005, pemerintah tegas-tegas menjanjikan tidak akan menaikkan BBM sampai 2009. Kekacauan diprediksi bakal mengiringi kenaikan BBM sekitar Juni 2008 mendatang. Bahkan sejumlah politisi meyakini akan terjadi suasana yang kacau (chaos) disusul terjadi instabilitas negara.</p>
<p>Yang jelas catatan dalam perhitungan statistik dengan kenaikan BBM Juni 2008, jumlah angka kemiskinan akan bertambah meroket sekitar 15,68 juta jiwa.Angka resmi pemerintah jumlah rakyat miskin mencapai selama ini adalah 16,85 persen atau 36,8 juta jiwa.dengan kenaikan BBM 30 persen ini akan mendorong inflasi 26,94 persen. Bisa dibayangkan rencana kenaikan BBM ini niscaya belaka akan menjebol seluruh daya tahan rakyat Indonesia.</p>
<p>Yang paling mengerikan adalah rezim Susilo Bambang Yudhoyono idem-ditto belaka dengan tiga presiden sebelumnya di era reformasi yakni tak bisa mengubah status utang Indonesia. Kini utang pemerintah seperti diumumkan Depkeu adalah AS$ 155,29 milyar terdiri pinjaman dengan perjanjian utang sebesar AS $ 63,34 milyar ditambah obligasi AS $ 90,95 milyar. Perjanjian utang sebesar itu diterapkan dengan rente ala ribawi yang sangat eksploitatif jauh dari adil dan dipaksakan para “penjajah” baru, rezim Kapitalis Global. Dengan bunga 8 persen setahun, pemerintah Indonesia setiap tahun harus membayar bunga sebesar AS$ 12,4 milyar atau sebesar Rp 114 trilyun. Padahal utangnya tak berubah alias tak berkurang satu dolar pun. Sungguh mengerikan nasib bangsa Indonesia di tangan rezim reformasi. Negara dan bangsa ini akan terus diseret ke jurang kehancuran oleh rezim refor-masi.</p>
<p>Di bidang sosial keagamaan, kerusak-an seolah dibiarkan. Muncul aliran-aliran sesat. Reformasi yang mengagung-agung-kan HAM (hak asasi manusia) seperti memberi angin bagi upaya perusakan Islam. Di zaman Gus Dur, Baha’i dilegal-kan. Selanjutnya muncul ke permukaan aliran Salamullah-nya Lia Aminudin, Alqiyadah Al Islamiyah-nya Ahmad Moshadeq, Ahmadiyah, dan aliran-aliran sesat lokal lainnya. Pemerintah reformasi tak mampu melindungi umat dari penye-baran aliran sesat tersebut. Pemerintah hanya sekadar menyelesaikan persoalan ini secara hukum. Padahal ini bukan ranah hukum semata, tapi sudah menyangkut aqidah yang konsekuensinya dunia akhirat.</p>
<p>Bersamaan dengan itu, kehidupan yang mengagungkan kebebasan tumbuh subur. Pornoaksi dan pornografi marak di mana-mana. Sampai-sampai kantor berita AP (Assosiate Press) dalam surveinya menyebut Indonesia sebagai surga pornografi terbesar kedua setelah Rusia. Undang-undang yang mengatur perilaku itu hingga kini tak keluar. Pembahasannya berlarut-larut. Ini kare-na pemerintah dan DPR lebih memen-tingkan kaum pemuja kebebasan dari-pada mayoritas penduduk Muslim. Lagi-lagi pemilik modal dan orang-orang yang punya link dengan asing yang mem-pengaruhi kekuasaan dan kebijakan ne-gara. Praktik tirani minoritas terhadap mayoritas sangat kasat mata.</p>
<p>Dalam politik luar negeri, politik bebas aktif tak lagi menjadi acuan. Sejak reformasi Indonesia cenderung ke Ame-rika. Malah tahun lalu, mungkin karena takut dengan Amerika, Indonesia mendu-kung sanksi terhadap Iran dalam kasus pengembangan energi nuklir Iran. Peme-rintah dikecam habis umat Islam.</p>
<p>Yang menyedihkan lagi, dalam kondisi susah, para penguasa dan wakil rakyat menunjukkan perilaku hedonis. Mereka seolah membiarkan rakyat tersiksa akibat krisis berkepanjangan. Malah dalam masa pemerintahan SBY sekarang, sempat-sempatnya dia membuat dan merekam lagu serta nonton film ramai-ramai.</p>
<p>Di mana nurani mereka???</p>
<p>Wallauhu’alam [aru syeif assad - www.suara-islam.com]</p>
<p>post oleh <a href="http://ukimedia.wordpress.com/2007/05/29/ikhwan-dan-akhwat-dalam-fenomena-hijab-pembatas/#comment-1642"><strong>Maghfur</strong></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jashtismedia.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jashtismedia.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jashtismedia.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jashtismedia.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jashtismedia.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jashtismedia.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jashtismedia.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jashtismedia.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jashtismedia.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jashtismedia.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jashtismedia.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jashtismedia.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jashtismedia.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jashtismedia.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jashtismedia.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jashtismedia.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jashtismedia.wordpress.com&amp;blog=4505366&amp;post=132&amp;subd=jashtismedia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jashtismedia.wordpress.com/2008/07/27/reformasi-telah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jashtismedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" medium="image">
			<media:title type="html">8)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
